CrispyVeritas

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz Tebar Ancaman Ranjau Laut Gara-gara Aksi Brutal Israel di Lebanon

Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada Rabu waktu setempat. Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai respons atas serangan udara masif Israel ke Lebanon serta penolakan Washington terhadap poin-poin krusial dalam proposal damai 10 poin milik Iran.

JERNIH – Harapan perdamaian melalui gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran kini berada di ujung tanduk. Iran memutuskan untuk menutup total Selat Hormuz setelah menuduh Israel dan Amerika Serikat mengkhianati kesepakatan damai dengan terus membombardir Lebanon.

Penutupan ini bukan sekadar gertakan diplomatik. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan hanya ada empat kapal yang melintas dengan radar aktif pada hari pertama gencatan senjata—angka yang sangat jauh dari normal.

Awalnya, Presiden Donald Trump memberikan sinyal positif terkait kontrol Selat Hormuz. Ia bahkan sempat melontarkan ide “Joint Venture” atau usaha patungan antara Washington dan Teheran untuk mengelola selat tersebut dan menarik biaya lintas (toll fee). “Ini adalah hal yang indah,” ujar Trump kepada ABC News.

Namun, hanya dalam hitungan jam, Trump mengubah nada bicaranya. Ia menuntut Iran segera membuka kembali jalur air tersebut dan mengeklaim bahwa proposal gencatan senjata yang diterima Gedung Putih berbeda dengan apa yang beredar di media.

Kekhawatiran dunia kian memuncak setelah kantor berita semi-pemerintah Iran, ISNA dan Tasnim, merilis sebuah peta yang menunjukkan adanya ranjau laut yang ditebar oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di sepanjang jalur utama Traffic Separation Scheme.

Peta tersebut menandai lingkaran besar sebagai “Zona Bahaya” dan mengarahkan kapal-kapal untuk melintas lebih dekat ke daratan Iran di dekat Pulau Larak. Hingga Kamis (9/4/2026), belum ada kejelasan apakah IRGC telah membersihkan ranjau-ranjau tersebut atau justru menjadikannya benteng pertahanan terakhir.

Pemimpin Eropa meradang atas tindakan Iran yang mencoba memonopoli selat yang dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas dunia tersebut. Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Hormuz adalah kepentingan vital Uni Eropa. Ia mendesak penghentian permusuhan secara permanen.

Sementara Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menuntut agar selat tersebut dibuka kembali tanpa biaya sepeser pun (toll-free), menolak keras ambisi Iran untuk memungut biaya lintas.

Meski situasi memanas, negosiasi dijadwalkan tetap berlangsung di Pakistan pada Senin mendatang. Trump mengutus orang-orang kepercayaannya, Jared Kushner dan Steve Witkoff, untuk memimpin tim AS.

Bagi Iran, kontrol atas Selat Hormuz adalah “kartu as” dan alat pencegah (deterrent) utama agar mereka tidak diserang lagi di masa depan. Sementara bagi dunia, kunci selat ini adalah penentu apakah harga energi akan tetap stabil atau meledak dalam ketidakpastian.

Back to top button