Jejak Terakhir ATR 42-500 di Labirin Karst Bulusaraung

Reruntuhan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung membuka kembali kisah kelam penerbangan di atas kawasan karst Maros–Pangkep.
WWW.JERNIH.CO – Gunung Bulusaraung yang menjulang di jantung Sulawesi Selatan mendadak viral. Lokasinya adalah simpul kompleks antara geografi ekstrem dan sejarah penerbangan Indonesia. Penemuan reruntuhan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di lereng terjal gunung ini kembali membuka catatan lama tentang bagaimana alam karst Maros–Pangkep kerap menjadi tantangan serius bagi navigasi udara dan operasi penyelamatan.
Secara geomorfologis, Bulusaraung merupakan bagian dari Kawasan Karst Maros-Pangkep (Pangkajene Kepulauan), hamparan karst terbesar kedua di dunia setelah China Selatan. Lanskap ini bukan pegunungan biasa, melainkan labirin menara-menara batu kapur yang menjulang hampir tegak lurus.

Tebing curam dengan kemiringan mendekati 90 derajat berpadu dengan vegetasi hutan hujan tropis yang sangat rapat. Dari udara, kanopi hijau yang tebal ini menutupi permukaan batuan, menciptakan ilusi medan yang “rata” dan menyulitkan identifikasi visual terhadap titik jatuh pesawat.
Di bawahnya, sistem perguaan dan sungai bawah tanah membuat struktur tanah rapuh dan penuh rongga tersembunyi, meningkatkan risiko bagi siapa pun yang harus bergerak di atasnya. Pada awal tahun 1990 tim ASC Yogya dan IMPALA UB pernah melakukan pemetaan sistem gua yang ada di kawasan ini.
Dengan ketinggian sekitar 1.353 mdpl, Gunung Bulusaraung mungkin tidak setinggi puncak-puncak lain di Sulawesi Selatan, namun konturnya dikenal sangat patah dan agresif. Jalur pendakian saja telah lama dianggap ekstrem, ditandai oleh lapisan batuan karst tajam (lapies) yang dapat merusak perlengkapan dan melukai manusia.
BACA JUGA: Pesawat ATR 42-500 Milik IAT Hilang Kontak di Sulawesi Selatan
Bagi tim SAR, kondisi ini diperparah oleh kabut tebal yang kerap turun mendadak, memangkas jarak pandang hingga hanya beberapa meter. Situasi tersebut menjadikan operasi darat sangat lambat dan berisiko tinggi, sementara pendaratan helikopter hampir mustahil dilakukan tanpa teknik heli-rappelling.

Faktor cuaca lokal semakin menambah kompleksitas. Pertemuan massa udara dari Selat Makassar dengan relief pegunungan menciptakan turbulensi lokal yang kuat dan sulit diprediksi. Kelembapan ekstrem di kawasan ini mempercepat korosi logam dan membuat puing-puing pesawat cepat tertutup lumut, menyamarkan jejak kecelakaan hanya dalam hitungan hari atau minggu.
Selain itu, dinding-dinding karst yang kaya mineral kerap menciptakan “titik buta” komunikasi radio, menyebabkan koordinasi udara-darat tidak selalu berjalan optimal selama pencarian.
Dalam konteks penerbangan, wilayah Sulawesi Selatan sejak lama dikenal menuntut kewaspadaan tinggi dari pilot, terutama dalam menghadapi perubahan cuaca lokal yang cepat. ATR 42-500 yang digunakan IAT sejatinya merupakan pesawat turboprop yang tangguh, namun dugaan kuat mengarah pada skenario CFIT (Controlled Flight Into Terrain).

Dalam kondisi cuaca buruk dan kabut tebal, pesawat yang sebenarnya masih dapat dikendalikan diduga melakukan penurunan ketinggian tanpa kesadaran penuh akan kedekatannya dengan lereng terjal Bulusaraung, khususnya saat melintasi barisan karst di sisi utara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Secara administratif, Bulusaraung berada di kawasan inti Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), wilayah konservasi yang ditetapkan sejak 2004 dan dikenal luas sebagai “The Kingdom of Butterfly”.
Letaknya di perbatasan Kabupaten Pangkajene Kepulauan dan Kabupaten Maros menjadikannya relatif dekat dengan jalur penerbangan menuju Makassar—sekitar 35–45 kilometer secara garis lurus dari bandara Sultan Hasanuddin. Kedekatan inilah yang membuat pegunungan karst tersebut menjadi hambatan alami signifikan bagi pesawat yang melakukan pendekatan atau keberangkatan dari sisi utara.
Di sekitar titik jatuh, ekosistem karst menopang hutan hujan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk satwa endemik seperti Macaca maura dan tarsius. Namun, keindahan ekologis ini sekaligus menjadi tantangan besar dalam operasi evakuasi. Kombinasi medan vertikal, vegetasi rapat, kelembapan ekstrem, serta status kawasan yang dilindungi menjadikan Gunung Bulusaraung salah satu lokasi pencarian dan penyelamatan tersulit di Sulawesi Selatan.(*)
BACA JUGA: Pesawat ATR 72-500 VOEPASS Jatuh Kawasan Permukiman di Brasil, 62 Penumpang dan Awak Tewas






