Jens Petter Hauge Menghancurkan Inter Setelah Memikat Hati Milan

Ia mungkin bukan superstar dengan sorotan media terbesar, tetapi ia memiliki insting untuk bersinar di panggung raksasa. Dari menjebol gawang Milan hingga menyingkirkan Inter.
WWW.JERNIH.CO – Kisah Jens Petter Hauge adalah salah satu anomali paling menarik dalam sepak bola modern, di mana sebuah gol ke gawang lawan justru berubah menjadi “surat lamaran” kerja paling efektif.
Pada September 2020, dalam babak kualifikasi Liga Europa, klub Norwegia FK Bodø/Glimt bertandang ke San Siro untuk menghadapi raksasa Italia, AC Milan. Di panggung megah itu, Hauge tampil tanpa rasa gentar. Meski timnya kalah tipis 2-3, ia mencetak satu gol indah melalui tendangan jarak jauh yang menghunjam pojok gawang Gianluigi Donnarumma.

Tak berhenti di situ, ia juga menyumbang satu assist. Penampilan eksplosif tersebut membuat manajemen Milan terpikat; hanya beberapa hari setelah laga berakhir, transfernya pun dirampungkan. Gol di San Siro benar-benar menjadi pintu masuknya ke salah satu klub terbesar Eropa.
Namun, takdir Hauge dengan kota Milan rupanya belum selesai. Narasinya kembali mencuat pada Februari 2026 ketika ia, yang telah kembali memperkuat Bodø/Glimt, justru menjadi algojo rival sekota Milan, Inter Milan.
Dalam laga leg kedua playoff babak 16 besar Liga Champions di Giuseppe Meazza, Hauge mencetak gol pembuka pada menit ke-58. Gol itu bukan sekadar mengubah papan skor, tetapi juga meruntuhkan mental para pemain Inter. Bodø/Glimt akhirnya menang 2-1 pada laga tersebut dan memastikan agregat 5-2.
Nerazzurri pun harus angkat koper lebih awal dari kompetisi elit Eropa. Jika pada 2020 ia menaklukkan Milan untuk bergabung bersama mereka, maka pada 2026 ia menaklukkan Inter untuk menegaskan bahwa dirinya tetap relevan di level tertinggi.
Lahir pada 12 Oktober 1999, Hauge dikenal sebagai winger dengan giringan lengket, akselerasi tajam, dan visi bermain yang matang. Ia sudah mencuri perhatian sejak remaja dengan mencetak hattrick pada debut profesionalnya di Bodø/Glimt saat baru berusia 16 tahun. Kariernya sempat membawanya berkelana ke Milan dan kemudian ke Eintracht Frankfurt, di mana ia turut merasakan gelar Liga Europa.
Meski perjalanan di klub-klub besar tidak selalu mulus, kepulangannya ke Bodø/Glimt membuktikan bahwa ia tetap menjadi sosok sentral. Per Februari 2026, di usia 26 tahun, nilai pasarnya berada di kisaran Rp 78 miliar, angka yang mungkin tidak fantastis dibanding bintang Eropa lain, tetapi cukup merepresentasikan kualitas dan pengalaman yang ia miliki.
Keberhasilan Bodø/Glimt menyingkirkan Inter bukanlah kebetulan. Di bawah arahan pelatih Kjetil Knutsen, tim ini menunjukkan disiplin taktik tingkat tinggi. Inter asuhan Simone Inzaghi identik dengan formasi 3-5-2 yang agresif, mengandalkan wing-back untuk memberi lebar serangan. Namun, pola ini menyisakan ruang saat transisi bertahan.
Hauge dengan cerdas memanfaatkan celah tersebut. Ia memosisikan diri melebar di sisi kiri, memaksa bek tengah seperti Benjamin Pavard keluar dari zona nyaman. Ketika bek tengah tertarik melebar, ruang di half-space terbuka, dan di situlah Hauge melakukan cut-inside mematikan atau melepaskan umpan terobosan.

Selain itu, Bodø/Glimt menerapkan counter-pressing agresif. Mereka tidak membiarkan Inter membangun serangan dengan nyaman dari lini belakang. Tekanan tinggi memaksa gelandang Inter melakukan kesalahan umpan. Gol Hauge lahir dari skema ini: intersep di lini tengah, sprint vertikal cepat, lalu penyelesaian klinis sebelum pertahanan lawan kembali terorganisir. Intensitas dan keberanian inilah yang membuat Inter kehilangan ritme.
Kunci lain terletak pada overload di sisi kiri. Hauge kerap berkolaborasi dengan bek kiri yang naik tinggi, menciptakan situasi dua lawan satu melawan wing-back kanan Inter.
Ketika kalah jumlah, pertahanan Inter dipaksa memilih antara menutup ruang tembak atau mengantisipasi umpan silang. Dalam banyak momen, keputusan sepersekian detik itu berpihak pada Hauge. Ia mendapatkan ruang tembak dari luar kotak penalti—area yang telah lama menjadi spesialisasinya sejak gol debutnya di San Siro tahun 2020.(*)
BACA JUGA: Ditahan Imbang Verona, Inter Milan Gagal Raih 3 Poin di Markas Lawan
