Kepergian sang “Kaisar Terakhir” Mode: Warisan Abadi Valentino Garavani

Valentino Garavani meninggalkan dunia dengan sebuah kutipan yang akan selalu diingat: “Saya tahu apa yang diinginkan wanita. Mereka ingin menjadi cantik.”
WWW.JERNIH.CO – Sang maestro legendaris Valentino Garavani mengembuskan napas terakhirnya di usia 93 tahun. Pria yang dijuluki sebagai “The Last Emperor” dunia haute couture ini meninggal dengan tenang di kediamannya di Roma, Italia, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang terkasih. Kepergiannya menandai akhir dari sebuah era keemasan di mana keanggunan murni dan kemewahan tanpa kompromi menjadi hukum tertinggi dalam berpakaian.
Lahir di Voghera, Italia, pada 11 Mei 1932, perjalanan Valentino menuju puncak dunia mode dimulai dari kecintaan mendalam pada seni sejak belia. Setelah menimba ilmu di kiblat mode Paris, ia kembali ke tanah airnya dan mendirikan Valentino S.p.A pada tahun 1960.

Bersama mitra setianya, Giancarlo Giammetti, Valentino berhasil mendobrak dominasi desainer Prancis. Keberhasilannya membawa nama Italia ke panggung dunia diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari The Neiman Marcus Award hingga gelar Légion d’honneur dari pemerintah Prancis.
Berbicara tentang Valentino adalah berbicara tentang warna merah. Terinspirasi dari kemegahan kostum opera di Barcelona yang ia saksikan di masa muda, ia menciptakan warna khas bernama “Rosso Valentino” atau Merah Valentino. Warna ini bukan sekadar pigmen, melainkan simbol gairah, kekuatan, dan feminitas yang ia tuangkan dalam gaun-gaunnya.
Tak hanya merah, ia juga mengguncang dunia melalui Collezione Bianca tahun 1967—sebuah koleksi serba putih yang memperkenalkan logo ikonik “V”. Di tengah tren era 60-an yang serba berani, Valentino memilih jalan keanggunan abadi (timeless elegance) dengan detail bordir rumit, sutra halus, dan renda yang menjadi standar baru gaya hidup kelas atas dunia.
Kemampuan Valentino memahami keinginan wanita menjadikannya desainer favorit para pesohor dunia. Ia adalah sosok di balik gaun pengantin renda putih gading Jacqueline Kennedy saat menikah dengan Aristotle Onassis, sebuah momen yang mengubah tren pernikahan global. Keajaiban tangannya juga terlihat saat Julia Roberts memenangkan Oscar tahun 2001 mengenakan gaun vintage hitam-putih yang kini dianggap sebagai salah satu gaun terbaik sepanjang sejarah Academy Awards.

Dari Elizabeth Taylor yang glamor, Princess Diana yang anggun, hingga bintang modern seperti Anne Hathaway dan Jennifer Lopez, semua mengandalkan Valentino untuk momen-momen paling krusial dalam hidup mereka. Bagi mereka, mengenakan Valentino bukan sekadar memakai baju, melainkan mengenakan sebuah karya seni.
Kemewahan yang ditawarkan Valentino bukan tanpa harga. Setiap helai benang merepresentasikan kualitas craftsmanship yang tak tertandingi. Tak heranjika mahakarya sang maestro berharga ratusan juta. Untuk koleksi siap pakai (Ready-to-Wear) untuk gaun harian atau koktail, pencinta mode harus merogoh kocek antara Rp40 juta hingga Rp145 juta.
Lantas untuk evening qowns yakni gaun yang lebih dramatis untuk acara formal dibanderol mulai dari Rp240 juta hingga lebih dari Rp485 juta.
Sementara haute couture alias custom untuk mahakarya yang dibuat khusus dengan tangan dan detail eksklusif, harganya bisa menembus angka miliaran rupiah, menjadikannya investasi seni yang hanya dimiliki oleh segelintir kolektor elit dunia.
Beberapa desain Valentino telah melampaui sekadar pakaian dan menjadi bagian dari sejarah. Sebut saja gaun pengantin J.Lo pada 2001. Menggunakan renda sutra transparan yang sangat rumit, menonjolkan sisi romantis yang mewah.

Kemudian gaun Kuning Cate Blanchett yang dirancang pada 2005. Ini membuktikan bahwa warna sulit pun bisa terlihat sangat ningrat di tangan sang maestro. Lantas gaun merah “The Swan” Anne Hathaway di 2011, yang tak lain sebuah penghormatan tertinggi untuk warna Rosso Valentino di panggung Oscar.
Jangan lupa gaun bulu Lady Gaga (2018). Lady Gaga tampil dramatis di Venice Film Festival, membuktikan bahwa identitas Valentino tetap kuat di bawah penerusnya.(*)
BACA JUGA: Giorgio Armani: Warisan Keabadian Sang Maestro Mode
