Crispy

Kiamat Gas di Selat Hormuz, Asia ‘Terpaksa’ Kembali Gunakan Batu Bara Hindari Mati Lampu

Dengan bayang-bayang gelombang panas musim panas yang akan segera tiba, negara-negara Asia lebih memilih mengasapi langit mereka dengan batu bara daripada membiarkan rakyatnya kepanasan tanpa pendingin udara.

JERNIH – Krisis energi hebat tengah membayangi Benua Asia. Eskalasi perang di Timur Tengah yang kian tak terkendali kini memaksa negara-negara Asia melakukan manuver darurat, meninggalkan Gas Alam Cair (Liquefied Natural Gas/LNG) yang mahal dan kembali memeluk batu bara sebagai penyelamat utama pembangkit listrik mereka.

Laporan Bloomberg, Jumat (20/3/2026), menyebutkan bahwa dari Korea Selatan, Indonesia, hingga Bangladesh, prioritas energi kini bergeser drastis. Batu bara kembali naik takhta setelah pasokan gas global lumpuh akibat serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia.

Pemicu utama kekacauan ini adalah kerusakan signifikan pada fasilitas Ras Laffan Industrial City di Qatar—eksportir LNG terbesar dunia—akibat serangan udara. Ironisnya, sekitar 17% kapasitas produksi Qatar dilaporkan lenyap seketika.

Kondisi diperparah dengan penutupan de facto Selat Hormuz. Jalur urat nadi pengiriman gas tersebut kini menjadi zona merah yang hampir mustahil dilewati kapal tanker. Efeknya, harga LNG melambung tinggi, memaksa pembeli di Asia yang sensitif terhadap harga untuk “putar balik” ke bahan bakar fosil yang lebih murah.

“LNG telah menjadi terlalu mahal. Pemerintah di Asia kini berpacu dengan waktu untuk menghindari pemadaman listrik massal yang bisa memicu gejolak politik,” ujar Sam Chua, analis dari Rystad Energy.

Beberapa langkah darurat yang diambil negara-negara Asia antara lain:

  • Bangladesh: Memangkas pasokan gas untuk industri pupuk dan mengalihkan seluruh beban listrik ke pembangkit batu bara.
  • Korea Selatan: Mencabut batas kapasitas pembangkit listrik batu bara yang sebelumnya dibatasi demi lingkungan.
  • Jepang: Produsen listrik terbesar di sana mulai membuka opsi beralih total ke batu bara jika gangguan di Timur Tengah berlanjut.
  • Filipina: Sedang melobi Indonesia untuk mengamankan tambahan pasokan “emas hitam” guna menjaga stabilitas setrum nasional.

Indonesia: Berkah di Tengah Musibah?

Sebagai pemasok batu bara terbesar dunia, Indonesia merespons situasi ini dengan kebijakan agresif. Pemerintah dilaporkan mulai mengizinkan perusahaan tambang untuk mengerek produksi—berbanding terbalik dengan kebijakan sebelumnya yang membatasi output demi menjaga harga.

Harga batu bara acuan Newcastle pun meroket ke level tertinggi sejak akhir 2024, didorong oleh permintaan gila-gilaan dari negara tetangga yang ketakutan akan kegelapan.

Tren “kembali ke masa lalu” ini menjadi tamparan keras bagi agenda transisi energi hijau. Gas alam yang selama ini dipromosikan sebagai “jembatan” menuju energi terbarukan terbukti rapuh dalam menghadapi guncangan geopolitik.

Kini, dengan bayang-bayang gelombang panas musim panas yang akan segera tiba, negara-negara Asia lebih memilih mengasapi langit mereka dengan batu bara daripada membiarkan rakyatnya kepanasan tanpa pendingin udara. Kebutuhan perut dan stabilitas ekonomi, untuk saat ini, resmi mengalahkan target penyelamatan lingkungan.

Back to top button