Kutukan Regulasi 2026, Analisis Kegagalan Red Bull dan McLaren di Melbourne dan Shanghai

Dua balapan, nol podium bagi dua juara dunia terakhir. GP Australia dan GP China menjadi saksi betapa rapuhnya keandalan mesin generasi terbaru milik Red Bull dan McLaren.
WWW.JERNIH.CO – Dunia Formula 1 memasuki era baru pada tahun 2026 dengan perubahan regulasi teknis yang signifikan. Namun, bagi dua penguasa lintasan terakhir—Max Verstappen (Juara Dunia 2024) dan Lando Norris (Juara Dunia 2025)—awal musim ini terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai.
Setelah mendominasi grid selama dua tahun terakhir, performa keduanya di GP Australia dan GP China memicu tanda tanya besar: apakah dominasi mereka telah berakhir?
Pembukaan musim di Australia seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi Lando Norris untuk mempertahankan gelarnya. Namun, McLaren MCL41 tampak kehilangan “sihir” yang membawanya ke puncak tahun lalu. Norris hanya mampu finis di posisi kelima, tertinggal jauh di belakang duo Mercedes, George Russell dan Kimi Antonelli, yang tampil luar biasa.

Nasib Max Verstappen bahkan lebih tragis. Pembalap Red Bull yang memenangkan gelar keempatnya secara berturut-turut pada 2024 ini harus puas finis di urutan keenam. Masalah keseimbangan mobil pada kecepatan tinggi di tikungan Albert Park membuat Verstappen tampak frustrasi di radio tim.
Ketidakmampuan Red Bull beradaptasi dengan regulasi mesin dan aerodinamika 2026 mulai terlihat sejak sesi latihan bebas, dan hasil balapan hanya mengonfirmasi bahwa mereka kini tertinggal satu langkah dari Mercedes dan Ferrari.
Jika Australia adalah peringatan, maka GP China adalah bencana total. Shanghai International Circuit menjadi saksi bisu betapa rapuhnya keandalan mobil generasi baru. Lando Norris mengalami nasib paling sial; ia bahkan tidak sempat memulai balapan (DNS) akibat masalah elektrikal pada unit daya McLaren-Mercedes miliknya sesaat sebelum formasi lap dimulai. Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi sang juara bertahan yang sangat membutuhkan poin untuk mengejar ketertinggalan.
Max Verstappen tidak bernasib jauh lebih baik. Meski sempat bersaing di zona poin, mesin Honda RBPT miliknya menyerah di lap-lap akhir, memaksanya untuk melakukan DNF (Did Not Finish). Kegagalan teknis ini sangat jarang terjadi pada Verstappen dalam beberapa musim terakhir, menunjukkan bahwa Red Bull sedang berjuang keras menjinakkan kompleksitas mesin 2026 yang baru.

Sementara dua juara dunia terakhir sedang merana, Mercedes justru bangkit dari tidurnya. Kemenangan dominan George Russell di Australia diikuti oleh kemenangan perdana yang bersejarah bagi Kimi Antonelli di China menunjukkan bahwa tim perak telah berhasil memecahkan kode regulasi 2026 lebih cepat dari yang lain. Ferrari pun tidak tinggal diam, dengan Lewis Hamilton yang akhirnya meraih podium pertamanya untuk tim kuda jingkrak di Shanghai.
Kesialan beruntun di dua seri pembuka ini menempatkan Norris dan Verstappen dalam posisi yang tidak biasa: sebagai pengejar, bukan yang dikejar. Dengan nol poin bagi Norris di China dan kegagalan finis bagi Verstappen, tekanan kini ada pada departemen teknis McLaren dan Red Bull.
Jika mereka tidak segera menemukan solusi atas masalah reliabilitas dan kecepatan, mahkota juara dunia 2026 mungkin akan berpindah tangan ke sosok baru yang lebih siap menghadapi perubahan zaman.(*)
BACA JUGA: Lando Norris Juara GP F1 2025 Terpaut 2 Poin dengan Verstappen






