Crispy

Mengenal Tanah Gambut, Asal-Usul, Sifat Bionik, dan Ancaman Kebakaran Lahan

Terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun, tanah gambut menyimpan keunikan alami yang tidak dimiliki jenis tanah biasa.

WWW.JERNIH.CO  – Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem paling unik sekaligus krusial di bumi. Jenis tanah ini terbentuk dari tumpukan sisa-sisa vegetasi dan bahan organik yang tidak terurai secara sempurna selama ribuan tahun. Kondisi lingkungan yang selalu tergenang air (anaerobik) dan bersuasana asam membuat mikroorganisme pemurai tidak sanggup membusukkan dedaunan, kayu, serta ranting pohon yang gugur secara menyeluruh. Alhasil, materi-materi organik tersebut terus menumpuk tebal hingga membentuk lapisan tanah organik berserat padat yang kaya akan cadangan karbon.

Banyak orang mengira tanah gambut hanya ada di Nusantara. Fakta biologisnya, gambut tersebar di berbagai belahan dunia. Gambut di wilayah beriklim dingin (sub-artik) mendominasi secara global, di mana negara-negara seperti Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat memegang luasan terbesar. Namun, Indonesia memegang peranan sangat vital karena menjadi pemilik ekosistem gambut tropis terbesar di dunia. Lahan gambut tropis di Indonesia membentang puluhan juta hektare, utamanya tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Spons Raksasa

Secara alami, karakter fisik tanah gambut bertindak bagaikan spons raksasa. Tanah ini memiliki kapasitas daya serap air yang amat tinggi, bahkan mampu menyimpan air hingga beberapa kali lipat dari berat keringnya. Dari sisi kesuburan, gambut secara alami tergolong relatif miskin hara tanah dan memiliki tingkat keasaman (pH) yang sangat tinggi.

Kendati demikian, melalui penataan hidrologi dan pengelolaan lahan yang cermat, tanah gambut dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk sektor kehutanan (seperti tanaman industri akasia), hortikultura spesifik, serta perkebunan komoditas tahan asam seperti kelapa sawit dan nanas.

Perilaku tanah gambut sangat bergantung pada dinamika pergantian musim. Saat musim hujan tiba, gambut yang masih alami akan berfungsi optimal menyerap limpasan air hujan, meminimalisasi risiko banjir di kawasan hilir, dan menjaga ketersediaan air tanah di sekitarnya.

Sebaliknya, ketika memasuki musim kemarau atau musim kering, permukaan tanah akan mengalami kekeringan drastis. Jika gambut telah terdegradasi—misalnya akibat kanalisasi atau sistem kanalisasi pembuatan drainase yang tidak terkonsep—gambut akan kehilangan seluruh kandungan airnya. Gambut kering ini berubah sifat fisik secara permanen (irreversible drying), tidak bisa lagi menyerap air, dan berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah menyulut api.

Rentannya gambut kering inilah yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar. Api pada lahan gambut sangat berbahaya karena tidak hanya membakar permukaan daratan (surface fire), tetapi juga mampu merambat di bawah permukaan tanah (sub-surface fire).

Kebakaran subterranean ini sangat sulit dideteksi dan dipadamkan dari permukaan. Pembakaran materi organik di dalam tanah melepaskan emisi gas rumah kaca serta asap pekat yang tebal. Melindungi dan merestorasi ekosistem gambut—melalui penutupan kanal dan pembasahan kembali (rewetting)—merupakan langkah kunci menjaga kestabilan iklim dan mencegah bencana karhutla berulang. (*)

BACA JUGA: Asap Karhutla Lintas Batas: Kualitas Udara Malaysia Memburuk, Kasus Asma Melonjak 259 Persen

Back to top button