Crispy

Misi di Zona Perang: Pertamina Evakuasi 19 Pegawai dari Irak dan Amankan Kapal Tanker di Selat Hormuz

JERNIH – Eskalasi konflik di Timur Tengah memaksa PT Pertamina (Persero) menjalankan operasi penyelamatan besar-besaran, baik di darat maupun di laut. Dalam operasi dramatis selama 14 hari, Pertamina berhasil memulangkan belasan pegawainya dari Irak, sementara kapal-kapal raksasa pengangkut minyak kini tengah berjuang keluar dari “jalur maut” Selat Hormuz.

Sebanyak 19 “Perwira” Pertamina (11 dari Basra, Irak dan 8 dari Dubai, UEA) akhirnya tiba di tanah air pada 10-11 Maret 2026. Evakuasi ini menjadi sangat rumit karena penutupan serentak bandara internasional di Kuwait City, Dubai, dan Doha akibat serangan udara.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa tim di lapangan harus bergerak cepat menempuh jalur alternatif. Para pegawai dari Basra menempuh perjalanan darat melintasi perbatasan Safwan menuju Kuwait, dilanjutkan ke Dammam, Arab Saudi, sebelum akhirnya bisa terbang menuju Jakarta via Jeddah.

“Geopolitik yang dinamis berpengaruh besar bagi operasi kita di Irak. Alhamdulillah, koordinasi PIEP, PHE, dan Kemenlu membuat teman-teman pulang dengan selamat,” ujar Awang, Kamis (12/3/2026).

Di saat evakuasi personel darat berhasil, tantangan besar masih membayangi armada laut Pertamina. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, melaporkan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di kawasan Teluk Arab.

Dua kapal tersebut adalah VLCC Pertamina Pride yang mengangkut minyak mentah (light crude oil) untuk kebutuhan energi domestik Indonesia serta MT Gamsunoro yang  membawa kargo milik konsumen pihak ketiga.

Keduanya saat ini berada dalam posisi siaga tinggi menunggu situasi keamanan di Selat Hormuz membaik. “Prioritas utama kami adalah keselamatan kru dan kargo. Kami terus memonitor situasi secara real-time 24 jam,” tegas Simon.

Di sisi lain, dua kapal lainnya, PIS Paragon dan PIS Rinjani, dilaporkan telah berhasil keluar dari zona konflik dan melanjutkan pelayaran menuju India dan Kenya untuk melayani pasar internasional.

Guna mengantisipasi gangguan distribusi yang berkepanjangan, Pertamina mulai menjalankan strategi Diversifikasi Sumber Pasokan. Perusahaan pelat merah ini menegaskan bahwa pasokan energi Indonesia tidak hanya bergantung pada Timur Tengah.

“Sumber-sumber kita juga datang dari Afrika, Amerika, dan wilayah lainnya. Rantai pasok energi nasional tetap terjaga melalui skema Regular, Alternative, dan Emergency,” jelas Simon guna menenangkan kekhawatiran publik soal stok BBM nasional.

Back to top button