Nepal Rusuh PM Oli Mundur, Ulah Nepo-Kids Anak Pejabat Picu Kemarahan Kaum Muda

Meskipun PM Oli mundur, Nepal tetap gelisah. Para pengunjuk rasa menuntut perubahan besar-besaran pada lanskap politik negara itu. Bandara internasional Kathmandu membatalkan semua penerbangan yang dijadwalkan kemarin.
JERNIH – Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Sharma Oli mengundurkan diri di tengah meningkatnya protes yang dimulai sebagai gerakan melawan korupsi dan ketidaksetaraan tetapi meledak menjadi seruan yang lebih luas untuk perubahan setelah 19 pemuda ditembak mati pasukan keamanan selama bentrokan pada Senin (8/9/2025).
Aksi protes terus berlanjut pada Selasa (9/9/2025) pagi. Para pengunjuk rasa membakar beberapa gedung yang dianggap terkait dengan elite Nepal, bahkan saat para menteri mengundurkan diri dan tekanan meningkat pada Oli untuk melakukan hal yang sama.
Namun, terlepas dari pengunduran diri Oli, Nepal tetap gelisah, dengan para pengunjuk rasa yang menuntut perubahan besar-besaran pada lanskap politik negara itu. Bandara internasional Kathmandu membatalkan semua penerbangan yang dijadwalkan pada hari Selasa.
Apa yang terjadi Selama Protes Senin?
Mengutip laporan Al Jazeera, protes dimulai pukul 09.00 (03:15 GMT) di kawasan Maitighar, Kathmandu. Ribuan pengunjuk rasa muda, termasuk siswa SMA berseragam, turun ke jalan. Dijuluki “protes Gen Z”, aksi ini diselenggarakan organisasi nirlaba Hami Nepal, yang berarti “Kami adalah Nepal”.
Menurut Kantor Administrasi Distrik Kathmandu, LSM tersebut telah mendapatkan persetujuan. Protes tersebut menyebar ke kota-kota lain. Dalam beberapa jam, beberapa pengunjuk rasa menerobos barikade yang didirikan polisi dan memasuki gedung parlemen di New Baneshwor. Hal ini mengakibatkan bentrokan dengan polisi, yang kemudian menembaki para pengunjuk rasa. Pihak berwenang memberlakukan jam malam di area tersebut hingga malam hari.
Menurut polisi, setidaknya 17 orang tewas di Kathmandu, sementara dua orang tewas di kota timur Itahari setelah protes berubah menjadi kekerasan. Lebih dari 100 orang, termasuk 28 petugas polisi, dirawat karena luka-luka mereka, menurut petugas polisi Shekhar Khanal, kantor berita Reuters melaporkan.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin malam, Oli mengatakan dia “sangat berduka” atas kematian para pengunjuk rasa dan menyerukan penyelidikan atas kekerasan tersebut.
Apa Perkembangan Terkini di Nepal?
Pihak berwenang telah memberlakukan jam malam tanpa batas waktu, yang kini mencakup distrik Kathmandu, Lalitpur, dan Bhaktapur. Perintah jam malam ini melarang pertemuan publik, aksi duduk, dan protes.
Oli mengundurkan diri dari jabatannya pada hari Selasa (9/9/2025). Namun, para demonstran muda terus berunjuk rasa di jalanan Kathmandu. Mereka berkumpul di dekat gedung parlemen, tetapi tidak membawa poster apa pun. Mereka membakar ban saat berdemonstrasi di daerah Kalanki, Kathmandu.
Mereka juga membakar kantor pusat partai Kongres Nepal (NC) di Sanepa, sebuah permukiman di Lalitpur, sekitar 5 km dari Kathmandu. Sejak tahun lalu, NC — salah satu partai politik terbesar di Nepal — telah menjadi mitra koalisi Partai Komunis Nepal (Marxis-Leninis Bersatu) yang berkuasa di bawah pimpinan Oli.
Pengunduran diri Oli terjadi setelah beberapa menterinya mengundurkan diri. Pada hari Senin, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak mengundurkan diri. Menteri Pertanian Ramnath Adhikari mengundurkan diri pada hari Selasa.
Siapakah ‘anak-anak nepo’ alis Nepo-Kids?
Pemicu utama protes ini, kata aktivis dan pakar, adalah berkembangnya persepsi bahwa keluarga-keluarga elite penguasa menjalani kehidupan yang relatif mewah di negara yang miskin, sehingga memperlihatkan kesenjangan yang dalam.
Di media sosial Nepal, istilah “nepo kids” — plesetan dari nepotisme — menjadi viral beberapa minggu menjelang protes hari Senin. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk pada anak-anak pejabat tinggi pemerintah dan menteri.
Pejabat pemerintah dan politisi Nepal telah lama menghadapi tuduhan korupsi yang meluas, ketidakjelasan mengenai bagaimana uang publik dibelanjakan, dan apakah sebagian uang itu digunakan untuk mendanai gaya hidup mewah yang tampaknya dinikmati keluarga mereka, meskipun gaji resminya sederhana.
Beberapa video di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram menunjukkan kerabat pejabat pemerintah dan menteri bepergian atau berpose di samping mobil mahal dan mengenakan merek desainer.
“Kemarahan atas ‘anak-anak nepo’ di Nepal mencerminkan frustrasi publik yang mendalam,” kata Yog Raj Lamichhane, asisten profesor di Sekolah Bisnis Universitas Pokhara Nepal. Yang mengejutkan masyarakat Nepal adalah bagaimana para pemimpin politik—orang tua dari anak-anak nepo—yang dulu hidup sederhana sebagai pekerja partai, “kini memamerkan gaya hidup mewah layaknya tokoh mapan,” ujar Lamichhane kepada Al Jazeera.
Oleh karena itu, para pengunjuk rasa menuntut pembentukan komisi investigasi khusus untuk menyelidiki secara menyeluruh sumber kekayaan mereka [para politisi], dengan menyoroti kekhawatiran yang lebih luas tentang korupsi dan kesenjangan ekonomi di negara ini.
Nepal secara tradisional merupakan masyarakat yang sangat feodal, dengan monarki yang berlaku hingga kurang dari dua dekade lalu, kata Dipesh Karki, asisten profesor di Sekolah Manajemen Universitas Kathmandu.
Sepanjang sejarah negara ini, “mereka yang berkuasa telah memegang kendali atas sumber daya dan kekayaan bangsa, mengakibatkan apa yang bisa kita sebut sebagai penguasaan elit”, ujar Karki kepada Al Jazeera.
Awal pekan ini, sebuah video di TikTok menampilkan foto Sayuj Parajuli, putra mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal Gopal Parajuli, berpose di samping mobil dan restoran mewah. “Terang-terangan memamerkan mobil dan jam tangan mewah di media sosial. Bukankah kita sudah bosan dengan semua itu?” tulis keterangan video.
Video lain menunjukkan gambar serupa dari Saugat Thapa, putra Bindu Kumar Thapa, menteri hukum dan urusan parlemen di pemerintahan Oli. Karki mengatakan kekayaan dan bisnis perkotaan, serta kesempatan pendidikan, sebagian besar terkonsentrasi di kalangan keluarga elit, terutama mereka yang memiliki koneksi politik. “Anak-anak politisi hidup dari dividen politik.”
Seberapa Timpangkah Nepal?
Pendapatan per kapita tahunan Nepal sekitar $1.400, merupakan yang terendah di Asia Selatan. Tingkat kemiskinannya secara konsisten berada di atas 20 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Pengangguran di kalangan pemuda di negara itu telah menjadi tantangan besar, sementara persentase pemuda Nepal yang menganggur dan tidak mengenyam pendidikan mencapai 32,6 persen pada tahun 2024, dibandingkan 23,5 persen di negara tetangga India, menurut data Bank Dunia.
Akibatnya, sekitar 7,5 persen penduduk negara itu tinggal di luar negeri pada 2021. Sebagai perbandingan, sekitar 1 persen penduduk India tinggal di luar negeri. Pada tahun 2022, sekitar 3,2 persen penduduk Pakistan berada di luar negeri.
Perekonomian Nepal sangat bergantung pada kiriman uang dari warganya yang bekerja di luar negeri. “Kenyataan pahitnya adalah sebagian besar penduduk miskin berada di luar Nepal, dan mengirimkan kiriman uang ke Nepal,” kata Karki.
Pada tahun 2024, kiriman uang pribadi yang diterima mencapai 33,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut — salah satu yang tertinggi di dunia, setelah Tonga, yang persentasenya mencapai 50 persen; Tajikistan sebesar 47,9 persen; dan Lebanon sebesar 33,3 persen. Untuk India, persentasenya adalah 3,5 persen dan Pakistan, 9,4 persen, pada tahun yang sama.
Karki mengatakan kepemilikan lahan tetap timpang meskipun ada upaya reformasi lahan. 10 persen rumah tangga teratas memiliki lebih dari 40 persen lahan, sementara sebagian besar penduduk miskin pedesaan tidak memiliki lahan atau bisa dibilang hampir tidak memiliki lahan. “Apa yang terjadi di Nepal saat ini dapat dianggap sebagai … total ketimpangan yang telah menjangkiti negara ini sejak dahulu kala,” kata Karki.






