
Satu persatu mereka yang sempat mengukir dunia dengan prestasi dan legacy meninggalkan dunia fana. Tahun 2025 mencatatkan nama-nama mereka yang meninggalkan kebaikan.
WWW.JERNIH.CO – Tahun 2025 menjadi penanda duka sekaligus perenungan global. Dalam rentang dua belas bulan, dunia melepas sejumlah pribadi yang semasa hidupnya turut membentuk arah zaman—melalui kata-kata yang menggerakkan pikiran, kebijakan yang mengubah struktur masyarakat, karya seni yang membentuk rasa, pengabdian sosial yang menumbuhkan harapan, serta keteladanan sunyi yang bekerja jauh dari sorotan.
Mereka datang dari latar yang berbeda, namun disatukan oleh satu kebenaran: jejak hidup tidak berhenti ketika napas terakhir terhembus. Justru dari kepergian itulah warisan mereka bekerja lebih panjang, membimbing generasi yang masih melangkah.

Dalam ranah pemikiran global, dunia sastra kehilangan Mario Vargas Llosa, sastrawan Peru peraih Nobel Sastra 2010, yang wafat pada pertengahan 2025 dalam usia lanjut. Llosa bukan sekadar penulis besar Amerika Latin, melainkan intelektual publik yang menjadikan sastra sebagai alat kritik kekuasaan. Melalui karya seperti The Feast of the Goat dan Conversation in the Cathedral, ia membedah relasi antara negara, kekerasan, dan individu—menunjukkan bagaimana tirani bekerja tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui bahasa dan ketakutan. Warisan Llosa hidup dalam tradisi sastra kritis dunia: keyakinan bahwa fiksi dapat menjadi alat etis untuk melawan lupa dan pembungkaman.
Nilai moral global juga kehilangan salah satu figur paling berpengaruhnya ketika Pope Francis, Paus ke-266 Gereja Katolik, wafat pada awal April 2025. Francis membawa Gereja Katolik ke arah yang lebih manusiawi dan dialogis. Ia menempatkan kaum miskin, migran, dan korban ketimpangan sebagai pusat perhatian, sekaligus menjadikan isu lingkungan sebagai persoalan moral, bukan sekadar politik.
Warisan terbesarnya bukan hanya ensiklik seperti Laudato Si’, tetapi perubahan nada kepemimpinan: bahwa kekuasaan spiritual seharusnya hadir dengan empati, bukan dominasi.
Dari dunia pemerintahan, wafatnya Costas Simitis, mantan Perdana Menteri Yunani, menandai berakhirnya satu generasi teknokrat Eropa yang percaya pada rasionalitas kebijakan. Simitis dikenang sebagai pemimpin yang mendorong reformasi ekonomi dan institusional Yunani agar sejajar dengan Eropa modern.
Warisannya terletak pada keyakinan bahwa pemerintahan bukan panggung popularitas, melainkan kerja panjang membangun fondasi negara—sering kali tanpa tepuk tangan.
Di ranah budaya populer, 2025 menjadi tahun perpisahan dengan tokoh-tokoh yang membentuk identitas lintas generasi. Ozzy Osbourne, vokalis legendaris Black Sabbath, wafat pada 22 Juli 2025 dalam usia 76 tahun. Osbourne adalah simbol kontradiksi budaya modern: gelap namun jujur, liar namun manusiawi.

Ia membantu melahirkan heavy metal sebagai ruang ekspresi bagi kegelisahan, alienasi, dan pemberontakan kelas pekerja. Warisannya bukan sekadar musik, tetapi legitimasi bagi ekspresi emosional yang selama ini dianggap “tidak pantas” dalam budaya arus utama.
Dunia film kehilangan Val Kilmer pada 1 April 2025. Kilmer dikenal karena keberaniannya memilih peran yang tidak sederhana—dari Jim Morrison yang rapuh dan liar hingga karakter heroik yang penuh ambiguitas. Ia meninggalkan teladan bahwa seni peran bukan sekadar hiburan, melainkan pencarian identitas manusia dalam segala kontradiksinya.
Musik dunia kembali berduka saat Chris Rea wafat pada 22 Desember 2025. Dengan suara parau dan lirik reflektif, Rea mengajarkan bahwa musik tidak harus spektakuler untuk menjadi bermakna. Lagu-lagunya menjadi ruang kontemplasi tentang perjalanan, kesepian, dan ketekunan—nilai-nilai yang kerap hilang dalam budaya serba cepat.
Di luar panggung hiburan, 2025 juga mencatat kepergian figur-figur yang bekerja di wilayah ilmu, sejarah, dan pendidikan. Betty Reid Soskin, ranger tertua Amerika Serikat, wafat pada 2025 di usia 104 tahun.

Sepanjang hidupnya, Soskin memperjuangkan kehadiran sejarah Afro-Amerika dalam narasi resmi negara. Warisannya adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan sejarah bukan netral; keduanya harus terus diperjuangkan agar adil dan inklusif.
Dari Asia Selatan, wafatnya Sharif Osman Hadi menjadikannya simbol keberanian sipil. Aktivismenya bersama mahasiswa Bangladesh menunjukkan bahwa perubahan sosial sering dimulai dari suara muda yang menolak diam. Penetapan hari berkabung nasional atas kematiannya menegaskan bahwa nilai moral dapat meninggalkan jejak politik yang nyata.
Indonesia pun kehilangan banyak figur yang membentuk rasa kolektif bangsa. Titiek Puspa, yang wafat pada 10 April 2025 di usia 87 tahun, meninggalkan warisan lagu-lagu yang menyuarakan cinta, empati, dan kemanusiaan lintas zaman. Ia bukan hanya penyanyi, tetapi penjaga ingatan emosional bangsa.

Kepergian Mat Solar pada 17 Maret 2025 mengingatkan bahwa humor adalah bentuk kebijaksanaan. Melalui karakter Bajuri, ia menghadirkan kritik sosial dengan cara yang ringan dan membumi—menunjukkan bahwa tawa bisa menjadi sarana bertahan hidup.
Dalam dunia pendidikan, wafatnya Erman Zaruddin Usman pada 26 Juli 2025 meninggalkan jejak konkret melalui gerakan “satu guru satu buku”. Warisannya bukan ketenaran, melainkan perubahan budaya: menjadikan guru sebagai produsen pengetahuan, bukan sekadar penyampai kurikulum.
Tokoh-tokoh hiburan seperti Mpok Alpa (Nina Carolina) dan Mudy Taylor juga meninggalkan warisan sosial yang kerap diremehkan: kemampuan humor untuk menciptakan rasa kebersamaan, terutama di tengah tekanan hidup urban.
Di ranah spiritual lokal, wafatnya Pendeta Jusuf Roni pada 29 Juni 2025 mengingatkan bahwa pengaruh paling kuat sering lahir dari pelayanan langsung—dari kata-kata yang menguatkan, bukan dari panggung besar. (*)
BACA JUGA: Kisah War Pigs – Charity Version Judas Priest untuk Ozzy Osbourne






