Papa Zola: The Movie Sudah Profit Tiga Kali Lipat

Keberhasilan Papa Zola mengirimkan pesan kuat kepada para sineas di Asia Tenggara: bahwa animasi adalah industri bernilai triliunan rupiah yang mampu menggeser hegemoni film-film Barat.
WWW.JERNIH.CO – Catatan finansial untuk film Papa Zola: The Movie (atau dikenal dengan judul Game On) menunjukkan angka yang sangat fantastis, menjadikannya salah satu proyek animasi tersukses dan termahal yang pernah diproduksi oleh Monsta Studios.
Kesuksesan ini mencerminkan representasi dari kematangan industri animasi di Malaysia yang kini mulai mendominasi pasar regional bahkan menantang dominasi produk global.
Pembuatan film ini dilakukan dengan keseriusan yang luar biasa. Menurut pernyataan sang sutradara, Nizam Razak, proyek ini merupakan investasi besar untuk memperluas Intellectual Property (IP) dari semesta BoBoiBoy. Total biaya produksi mencapai Rp75 hingga Rp85 miliar. Angka ini bersifat end-to-end, mencakup seluruh proses produksi selama 3 tahun, biaya pemasaran (marketing), hingga pengembangan konten digital pendek dan persiapan serial Papa Pipi yang menyusul kemudian.

Kualitas visual menjadi prioritas utama. Investasi besar tersebut dialokasikan untuk mengejar standar visual setingkat Hollywood, memastikan bahwa pengalaman menonton di layar lebar benar-benar berbeda dan lebih imersif dibandingkan versi serial televisinya. Strategi “berani rugi di awal untuk kualitas” inilah yang menjadi fondasi kekuatan industri animasi Malaysia saat ini.
Sejak dirilis pada akhir tahun 2025 di Malaysia dan Januari 2026 di Indonesia, film ini mencetak rekor sejarah bagi industri animasi Asia Tenggara. Per Februari 2026, film ini telah meraup pendapatan lebih dari Rp240 miliar di Malaysia saja. Angka ini menobatkannya sebagai film animasi terlaris sepanjang masa di Malaysia, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Ejen Ali: The Movie 2.
Performa di Indonesia pun tak kalah mengesankan. Dalam satu pekan pertama, film ini berhasil menarik lebih dari 200.000 penonton melalui jaringan bioskop MD Pictures. Secara total di kawasan Asia Tenggara, film ini telah mengumpulkan lebih dari 4,4 juta penonton.
Keberhasilan finansial ini membuktikan bahwa karakter “pendukung” seperti Papa Zola memiliki daya tarik komersial yang kuat jika digarap dengan cerita yang emosional dan kualitas produksi yang serius.

Namun, jika kita melihat lebih luas, ada tiga pilar utama yang membuat industri animasi Malaysia begitu perkasa:
Ekosistem IP yang Terintegrasi: Studio seperti Monsta, Wau Animation (Ejen Ali), dan Les’ Copaque (Upin & Ipin) tidak hanya membuat film. Mereka membangun ekosistem. Karakter dikembangkan melalui serial TV, konten YouTube pendek, hingga merchandise dan taman hiburan. Hal ini membangun loyalitas penonton sejak dini, sehingga ketika film layar lebar dirilis, pasar sudah terbentuk.
Keseimbangan Narasi Lokal dan Universal: Malaysia sangat mahir dalam menyisipkan nilai-nilai lokal (seperti budaya kekeluargaan, rasa hormat, dan humor khas Melayu) namun dikemas dalam struktur penceritaan pahlawan super yang universal. Ini membuat karya mereka mudah diterima di pasar Indonesia, India, hingga Turki.
Dukungan Pemerintah yang Agresif: Melalui lembaga seperti MDEC (Malaysia Digital Economy Corporation), para animator mendapatkan dukungan hibah dan akses ke pasar internasional. Hal ini memungkinkan studio berani mengambil risiko finansial besar seperti yang dilakukan pada film Papa Zola.
Keuntungan film ini diperkirakan akan terus bertambah seiring rencana ekspansi ke pasar internasional lainnya, seperti Vietnam, India, Arab Saudi, dan Turki pada periode April hingga Mei 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa Malaysia tidak lagi puas hanya menjadi “jagoan kandang”. Mereka kini memposisikan diri sebagai eksportir konten kreatif utama di Asia. Satu film saja bisa berumur lebih dari satu tahun berkelindan ke seluruh dunia.(*)
BACA JUGA: Papa Zola: The Movie Pas buat Ngabuburit
