Perusahaan Pelayaran Iming-imingi Bonus Raksasa bagi ABK yang Berani Melintas Selat Hormuz

JERNIH — Perusahaan-perusahaan pelayaran global kini menawarkan insentif finansial fantastis bagi para pelaut (seafarers) yang bersedia melintasi Selat Hormuz. Kebijakan drastis ini memaksa para kru kapal menimbang antara bonus spektakuler yang bisa mengubah hidup mereka dengan risiko nyata melintasi salah satu koridor minyak paling berbahaya di Asia Barat, demikian dilaporkan Bloomberg.
Salah satu penawaran paling ekstrem datang dari Sinokor Group, operator armada kapal tangki raksasa (supertanker) terbesar di dunia. Sinokor menyebarkan tawaran bonus berupa tambahan gaji selama enam bulan hanya untuk satu kali perjalanan pergi-pulang melintasi selat tersebut.
Berdasarkan dokumen internal yang diperoleh Bloomberg, pelayaran yang mencakup pengambilan minyak mentah dari Arab Saudi atau Irak hingga pembongkaran muatan di Teluk Oman itu sejatinya hanya memakan waktu sekitar satu bulan.
Namun, tawaran menggiurkan tersebut meluncur persis sebelum gelombang eskalasi baru pecah di Selat Hormuz, di mana sejumlah kapal mulai dihantam rudal dan drone karena nekat menggunakan jalur yang tidak terotorisasi.
Sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari lalu, Selat Hormuz berubah menjadi jalur tengkorak. Data dari badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) mencatat sedikitnya 59 kapal komersial dihantam serangan di dalam dan sekitar kawasan Teluk, 17 pelaut tewas juga dalam tugas sejak konflik dimulai.
Melonjaknya nilai kompensasi kru terjadi seiring tersendatnya lalu lintas kapal akibat meningkatnya intensitas serangan dalam beberapa hari terakhir. Sumber-sumber industri maritim mengungkapkan bahwa mayoritas perusahaan pelayaran kini menambahkan bonus pay rata-rata hingga 60 hari gaji ekstra untuk kontrak standar 30 hari.
Jurang Kesenjangan Gaji dan Hak Menolak Tugas
Penawaran bonus ini menyoroti kesenjangan pendapatan sekaligus besarnya risiko yang ditanggung para pekerja laut. Misalnya seorang kapten kapal yang memiliki wewenang akhir atas keputusan navigasi dan mengantongi gaji hingga US$15.000 (sekitar Rp240 juta) per bulan di kapal tanker minyak. Sementara mualim dan ABK junior (ratings) dalam kondisi normal biasanya berpenghasilan sekitar US$1.500 (sekitar Rp24 juta) per bulan.
Kapten Pradeep Chawla, Chairman GlobalMET—lembaga yang bermitra dengan IMO dalam pelatihan pelaut—menyatakan bahwa banyak ABK yang memilih mengundurkan diri dan turun dari kapal ketimbang memicu bahaya, meskipun perusahaan selalu berhasil menemukan tenaga pengganti yang tergiur oleh bonus besar.
Meskipun pihak asuransi kini mengenakan tarif premi yang melonjak tinggi dan pemilik kapal mengantongi kontrak senilai jutaan dolar untuk sekali pelayaran, para krunyalah yang menanggung risiko keselamatan paling besar secara personal.
Lalu lintas kapal yang terpantau di Selat Hormuz merosot tajam dalam beberapa hari terakhir. Kendati demikian, belum dipastikan berapa banyak kapal tangki yang masih nekat menerobos jalur mencekam tersebut dengan mematikan sistem pelacak (transponder) mereka.






