Crispy

Podcast Masuk Golden Globes, Pengakuan Budaya atau Sekadar Strategi Bertahan?

Golden Globes akhirnya mengakui podcast sebagai karya seni—tetapi pengakuan selalu datang dengan syarat. Apakah ini kemenangan bagi suara-suara baru, atau justru tanda bahwa medium paling intim di era digital mulai dijinakkan oleh industri yang sama?

WWW.JERNIH.CO –  Golden Globe Awards ke-83 yang digelar pada 11 Januari 2026 di Beverly Hilton, California, menandai pergeseran penting dalam lanskap budaya populer.

Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, ajang penghargaan yang selama puluhan tahun memuliakan gambar bergerak ini memberikan ruang resmi bagi medium yang sama sekali tak bergantung pada visual: podcast. Dengan memperkenalkan kategori Best Podcast, Golden Globes secara simbolik mengakui bahwa suara, percakapan, dan narasi audio kini berdiri sejajar dengan film dan serial televisi sebagai bentuk seni yang sah dan berpengaruh.

Keputusan ini bukan asal gestur progresif, melainkan respons terhadap perubahan nyata cara manusia mengonsumsi cerita. Podcast telah berevolusi dari media alternatif menjadi kekuatan budaya global dengan ratusan juta pendengar lintas negara.

Presiden Golden Globes, Helen Hoehne, menyebut langkah ini sebagai bentuk adaptasi terhadap evolusi media—sebuah pernyataan yang terdengar aman, tetapi menyiratkan kenyataan yang lebih tajam: tanpa merangkul format digital, penghargaan tradisional berisiko kehilangan relevansi.

Dalam konteks industri hiburan yang terus digerakkan oleh algoritma, data, dan kebiasaan konsumsi baru, Golden Globes memilih untuk bergerak bersama arus ketimbang tenggelam oleh nostalgia.

Berbasis Data

Menariknya, kategori ini dirancang dengan pendekatan yang sangat modern dan berbasis data. Bekerja sama dengan Luminate, Golden Globes memetakan performa podcast di berbagai platform seperti Spotify, Apple, dan YouTube.

Dari ratusan judul, 25 podcast teratas disaring berdasarkan jangkauan audiens dan dampak budaya sebelum akhirnya dipersempit menjadi enam nominasi final. Kriteria penilaian mencakup kualitas produksi, kreativitas, keterlibatan pendengar, hingga kekuatan narasi.

Di satu sisi, pendekatan ini memberi kesan objektif dan transparan. Di sisi lain, ia juga memunculkan pertanyaan kritis: sejauh mana popularitas dan angka engagement boleh menentukan nilai artistik sebuah karya? Sebab, kadangkala penyelenggara lebih memilih respon audiens untuk mempermudah penilaian hingga dianggap sebagai kunci keberhasilan sebuah karya.

Daftar nominasi final 2026—SmartLess, Call Her Daddy, Armchair Expert, The Mel Robbins Podcast, Up First (NPR), dan Good Hang with Amy Poehler—menunjukkan pola yang sulit diabaikan. Hampir semuanya dipimpin oleh figur publik mapan atau institusi media besar.

Hal ini bisa dibaca sebagai strategi aman untuk edisi perdana: memilih nama-nama yang sudah memiliki legitimasi budaya agar kategori baru mudah diterima publik. Namun konsekuensinya, podcast independen yang mungkin lebih eksperimental dan radikal masih berada di pinggir panggung, terhalang oleh logika data dan kekuatan distribusi.

Dominasi Amerika

Kemenangan akhirnya jatuh kepada Good Hang with Amy Poehler, sebuah pilihan yang terasa sangat “Golden Globes”. Amy Poehler bukan hanya komedian ternama, tetapi juga bagian dari sejarah ajang ini sebagai mantan pembawa acara dan pemenang Globe sebelumnya.

Podcast yang ia produksi bersama Paper Kite Productions dan The Ringer justru menolak kemegahan: formatnya intim, percakapannya santai, dan daya tariknya terletak pada kejujuran interaksi, bukan sensasi. Obrolan dengan tokoh-tokoh seperti Tina Fey, Martin Short, dan Quinta Brunson terasa seperti mengintip ruang personal para pelaku industri—sesuatu yang sulit direplikasi oleh media visual. Sejujurnya kualitas podcast-nya sebelas-duabelas dengan podcast yang banyak diproduksi artis atau selebritas Indonesia.

Saat menerima piala dari Snoop Dogg dan melontarkan candaan bahwa ia mencintai semua nominator “kecuali NPR”, Poehler mengingatkan bahwa podcast, pada dasarnya, adalah ruang personal yang masih menyisakan kebebasan bermain.

Golden Globes juga menekankan dampak global dalam penilaian edisi perdana ini. Meski nominasi final masih didominasi produksi Amerika Serikat, daftar panjang yang dipertimbangkan mencakup podcast dengan audiens internasional, menandakan ambisi untuk memposisikan diri sebagai penghargaan global bagi kreator audio. Tantangan ke depan jelas: jika Golden Globes ingin benar-benar mewakili dunia podcast, keberanian untuk menembus batas bahasa, budaya, dan perspektif non-Barat akan menjadi ujian berikutnya.

Masuknya podcast ke Golden Globes bukanlah garis akhir, melainkan titik awal negosiasi baru antara seni dan industri, antara keintiman dan institusionalisasi.

Podcast kini telah diakui, tetapi pengakuan selalu datang dengan risiko penjinakan. Pertanyaan terpenting bukan lagi apakah podcast layak mendapat panggung besar, melainkan suara siapa yang akan terus diundang naik ke atasnya—dan siapa yang masih harus berbicara dari luar ruangan.(*)

BACA JUGA: Hamnet, Menguak Sisi Sunyi di Balik Nama Shakespeare

Back to top button