Crispy

Ratusan Warga Palestina di Lembah Yordania Terisolasi di Tanah Sendiri, Hidup Tanpa Air Akibat Blokade Pemukim Israel

JERNIH – Sebanyak 47 keluarga Palestina di kawasan Lembah Yordania , Tepi Barat yang diduduki, kini hidup di bawah bayang-bayang pengepungan ketat dan krisis air bersih. Situasi darurat ini terjadi setelah militer Israel membangun jalur jalan pemukiman baru serta penghalang fisik yang dirancang untuk memaksa warga lokal meninggalkan tanah air mereka.

Di ujung timur Desa Atouf, Lembah Yordania utara, Lutfi Saeed Jabr (70) bersama keluarga keempat putrinya harus bertahan hidup tanpa setetes pun pasokan air selama enam hari berturut-turut. Blokade yang dipasang oleh pasukan pendudukan dan pemukim ekstremis membuat mereka terisolasi total.

Lutfi menuturkan bahwa sekitar 20 keluarga di Lembah Yordania utara terputus dari Desa Atouf akibat pembangunan dinding beton dan gerbang besi, sementara 27 keluarga lainnya yang tinggal tiga kilometer jauhnya menghadapi kondisi serupa. Total lebih dari 300 jiwa kini terjebak dalam ancaman pengusiran terselubung.

“Jika saya meninggalkan rumah untuk mencari air atau makanan bagi sekitar 30 anggota keluarga saya, saya mungkin tidak akan bisa kembali,” ujar Lutfi. Ia memiliki sekitar 700 ekor domba serta rumah kaca yang menanam sayuran, gandum, dan jelai sebagai satu-satunya sumber penghidupan keluarganya. Bagi Lutfi, memutus pasokan air sama artinya dengan vonis “kematian atau penggusuran paksa.”

Kepala Dewan Desa Atouf, Abdullah Basharat, mengungkapkan bahwa serangan beruntun terhadap infrastruktur air ini merupakan bagian dari proyek pembangunan penghalang pemisah baru yang dinamai “Crimson Thread” (Benang Merah).

Jalur penghalang sepanjang kurang lebih 22 kilometer—yang diumumkan militer Israel sejak tahun lalu—membentang dari kawasan Ein Shibli hingga pos pemeriksaan Tayasir di utara. Proyek ini membelah lahan pertanian subur milik warga dari Tubas, Tammun, dan Atouf, termasuk merusak kebun, rumah kaca, sumur, serta jaringan pipa irigasi.

Sejak pekerjaan penggalian dimulai pada Maret 2026, kerusakan masif telah melanda wilayah tersebut. Ratusan pohon tua tercabut dan hancur. Pipa air dan irigasi utama juga dihancurkan secara sengaja. Otoritas Israel juga menutup dan menimbun tiga sumur artesis yang berfungsi aktif tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Basharat menyebut penutupan sumur-sumur tersebut sebagai “pukulan telak” bagi sektor pertanian irigasi di dataran tersebut, karena seketika memutus pasokan air untuk sekitar 4.500 dunam lahan yang ditanami anggur, zaitun, dan pisang. Wilayah sekitar Atouf, al-Baqi’a, dan Tubas kini secara paksa dialihfungsikan menjadi cadangan pertanian dan ladang gembala khusus bagi para pemukim ilegal Israel.

Di tengah krisis air yang mencekik, para warga juga diteror oleh inkursi malam hari yang dilakukan oleh pemukim bersenjata. Mereka kerap memasuki rumah-rumah warga, melontarkan ancaman pembakaran dan pengusiran, hingga merusak pipa air yang tersisa.

Petani setempat, Abdullah Bani Odeh, menegaskan bahwa apa yang terjadi di Lembah Jordan bukan sekadar perampasan tanah, melainkan pencabutan nyawa dan masa depan warga lokal.

“Tanah adalah satu-satunya sumber penghidupan kami. Mengambil sebagian darinya berarti meruntuhkan kemampuan kami untuk bertani dan beternak,” keluh Abdullah. “Apa yang terjadi bukanlah sekadar tanah yang dirampas; ini adalah kehidupan kami yang dirampas secara paksa.”

Back to top button