Rifaat al-Assad Si Tukang Jagal Hama Meninggal Dunia di Usia 88 Tahun

- Rifaat al-Assad memadamkan pemberontakan Ikhwanul Muslimin di Hama tahun 1982 dengan membantai 40 ribu warga sipil.
- Ia ingin jadi presiden, dan mencoba menggulingkan Hafez al-Assad — saudaranya. Terakhir, ia menolak Bashar al-Assad.
JERNIH — Rifaat al-Assad, paman Presiden Suriah (Terguling) Bashar al-Assad yang dikenal sebagai tukang jagal Hama, Selasa 20 Januari 2026 meninggal dunia di Uni Emirat Arab pada usia 88 tahun.
Dua sumber yang dekat keluarga Rifaat al-Assad tak menyebut penyebab kematian manan perwira militer Suriah itu. Tidak pula ada keterangan resmi dari keluarga di mana si penjagal akan dimakamkan.
Rifaat membantu Hafel al-Assad merebut kekuasaan lewat kudeta tahun 1970 dan membangun pemerintahan otoriter. Namun, ambisi Rifaat tidak berhenti sampai di situ. Ia juga ingin menjadi presiden Suriah, dan berusaha mewujudkan keinginannya selama di pengasingan.
Ia menghabiskan sebagian waktu pengasingan di Prancis. Ia kembali ke Surian tahun 2021, tapi kabur lagi tahun 2024 atau setelah Presiden Bashar al-Assad terguling.
Ketika Hafez al-Assad meninggal tahun 2000, Rifaat menentang pengalihan kekuasaan ke tangan Bashar al-Assad, keponakanya. Menurut Rifaat, dirinya penerus yang sah. Ia juga berupaya merebut kekuasaan tapi gagal.
Tahun 2011, ketika kelompok-kelompok oposisi di Suriah mengalihkan perjuangan dari aksi demo ke pemberontakan bersenjata, Rifaat mendesak Bashar al-Assad mundur untuk mencegah perang saudara. Ia menyebut pemberotakan itu sebagai akumulasi kesalahan.
Lebih dari satu dekade kemudian, Bashar—yang masih berkuasa saat itu — mengizinkan Rifaat kembali ke rumah. Bashar juga membantunya melarikan diri dari penjara di Prancis, tempat dia dinyatakan bersalah karena memperoleh properti jutaan euro menggunakan dana yang dialihkan dari negara Suriah.
Ketika Bashar jatuh, Rifaat mencoba melarikan diri melalui pangkalan udara Rusia tetapi ditolak masuk dan akhirnya menyeberang ke Lebanon. Seorang yang tahu peristiwa itu mengatakan Rifaat menyeberangi sungai di punggung seorang rekan dekat.
Serangan Hama
Rifaat al-Assad, adik laki-laki Hafez, lahir di desa Qardaha di daerah pegunungan dekat pantai Mediterania yang merupakan jantung komunitas minoritas Alawite tempat keluarga itu berasal.
Rifaat menjadi tokoh berpengaruh dalam rezim Assad setelah kudeta tahun 1970. Ia mendapatkan dukungan dari pasukan elite yang menumpas pemberontakan Ikhwanul Muslimin tahun 1982 di Hama, salah satu ancaman terbesar bagi Hafez al-Assad selama 30 tahun berkuasa.
Serangan dahsyat selama tiga minggu, yang menewaskan lebih 10.000 orang, sering digambarkan sebagai model bagaimana Bashar akan menangani oposisi pemerintahannya sekitar tiga dekade kemudian.
Pada tahun 2022, kelompok pemantau independen Syrian Network for Human Rights (SNHR), berdasarkan perkiraan yang akurat, menyatakan bahwa antara 30.000 dan 40.000 warga sipil tewas di Hama.
Maret 2024, Kantor Kejaksaan Agung Swiss menyatakan akan mengadili Rifaat al-Assad atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan atas tindakannya di Hama.
Menurut dakwaan jaksa Swiss, antara 3.000 dan 60.000 orang, mayoritas warga sipil, tewas dalam serangan Hama. Sebagai tanggapan, pengacara Rifaat mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia selalu membantah keterlibatannya dalam tindakan yang dituduhkan.
Konfrontasi dengan Hafez
Perannya dalam menumpas pemberontakan Hama semakin meningkatkan kedudukannya dalam pemerintahan.
Dalam bukunya – ‘Asad: Perjuangan untuk Timur Tengah’ – jurnalis Patrick Seale mencantumkan kemenangan atas Ikhwanul Muslimin sebagai salah satu faktor yang menyebabkan tokoh-tokoh senior rezim beralih kepada Rifaat ketika Hafez jatuh sakit pada tahun 1983 dan mereka khawatir ia tidak akan pulih.
Rifaat diangkat menjadi wakil presiden pada tahun berikutnya.
Saat Hafez masih sakit, Rifaat mulai mendesak perubahan dalam pemerintahan, dan poster dirinya berseragam muncul di Damaskus. Ketika al-Assad pulih, ia ‘sangat tidak senang,” tulis Seale.
Persaingan mereka memuncak pada tahun 1984 ketika Rifaat memerintahkan pasukannya untuk merebut kendali titik-titik penting di Damaskus, mengancam konflik besar-besaran. Tetapi Hafez membujuk adik laki-lakinya untuk tidak melakukan konfrontasi. Rifaat meninggalkan Suriah setelah kudeta yang gagal.
Menghindari penjara
Membangun dirinya sebagai pengusaha kaya di Eropa, ia awalnya menetap di Jenewa, kemudian pindah ke Prancis dan Spanyol.
Di tahun-tahun terakhirnya, ia terlihat berjalan dengan rombongan pengawal di Puerto Banus di Marbella, Spanyol selatan, tempat ia juga memiliki properti tepi laut. Namun kekayaannya semakin menjadi fokus penyelidikan korupsi.
Pada tahun 2020, pengadilan Prancis menyatakan dia bersalah karena memperoleh properti Prancis senilai jutaan euro menggunakan dana yang dialihkan dari negara Suriah, dan menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepadanya.
Seluruh hartanya di Prancis, yang diperkirakan bernilai 100 juta euro pada saat itu, diperintahkan untuk disita, serta sebuah properti senilai 29 juta euro di London. Rifaat berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Kembali ke Suriah pada tahun 2021 bukanlah pertama kalinya ia pulang sejak kudeta yang gagal: pada tahun 1992, ia menghadiri pemakaman ibunya.
Sebuah surat kabar pro-pemerintah melaporkan bahwa ia kembali pada tahun 2021 untuk mencegah pemenjaraannya di Prancis dan tidak akan memainkan peran politik atau sosial apa pun.
Sebuah foto yang diunggah di media sosial pada April 2023 menunjukkan dirinya di antara sekelompok orang, termasuk Bashar yang tersenyum.






