Tarif Global 15% Trump Berlaku Pekan Ini, Indonesia Amankan ‘Diskon’ Spesial?

Selain penurunan tarif dari 19% ke 15%, Airlangga memastikan bahwa poin utama dalam perjanjian ART tetap kokoh. Indonesia berhasil mengamankan tarif 0% (bebas bea masuk) untuk ribuan produk unggulan.
JERNIH – Dunia usaha global sedikit cemas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bakal menaikkan tarif impor universal dari 10% menjadi 15% mulai pekan ini. Namun, di tengah badai proteksionisme Paman Sam tersebut, Indonesia muncul dengan kabar yang cukup mengejutkan yakni kita justru mendapatkan “diskon” tarif.
Kebijakan ini dikonfirmasi Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, Kamis (5/3/2026). Ia menyatakan bahwa kenaikan tarif ini sah secara hukum selama 150 hari tanpa perlu restu Kongres, selagi pemerintah menyiapkan landasan hukum permanen.
Menanggapi kebijakan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membawa angin segar bagi para eksportir tanah air. Ia meluruskan simpang siur mengenai besaran tarif yang akan dikenakan pada barang asal Indonesia.
Sebelumnya, dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump pekan lalu, tarif yang disepakati adalah 19%. Namun, akibat putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan rezim tarif lama, kesepakatan 19% tersebut otomatis gugur dan mengikuti aturan tarif global terbaru yang lebih rendah.
“Tarif kan global tarif 15%, maka yang berlaku adalah global tarif yang 15%. Jadi komoditas yang tadinya kena 19%, dapat diskon jadi 15%,” tegas Airlangga di Jakarta (5/3).
Selain penurunan tarif dari 19% ke 15%, Airlangga memastikan bahwa poin utama dalam perjanjian ART tetap kokoh. Indonesia berhasil mengamankan tarif 0% (bebas bea masuk) untuk ribuan produk unggulan.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, terdapat 1.819 komoditas asal RI yang tetap menerima tarif 0%. Hal ini diprediksi akan membuat pasar produk Indonesia di AS semakin besar karena memiliki daya saing harga yang jauh lebih unggul dibanding negara lain yang terkena tarif penuh.
Beberapa sektor kunci yang diprediksi akan “panen” ekspor adalah tekstil dan pakaian jadi yang menjadi andalan manufaktur tanah air. Demikian pula minyak sawit (CPO) dan Karet sebagai bahan baku komoditas utama juga produk agrikultur premium seperti kopi, kakao, dan rempah-rempah. Termasuk komponen elektronik dan semikonduktor sebagai bagian dari rantai pasok teknologi global.
Meskipun kebijakan Trump ini sempat membuat bursa AS (S&P 500) bergejolak, posisi Indonesia yang memiliki perjanjian bilateral khusus (Reciprocal Trade) menempatkan kita dalam posisi “mitra prioritas” bersama beberapa kawasan lain seperti Uni Eropa.
Airlangga meyakini bahwa dengan kepastian tarif ini, ekspor Indonesia ke AS tidak akan terganggu, melainkan justru berpotensi melonjak karena biaya masuk yang lebih kompetitif dibandingkan negara-negara kompetitor di Asia yang tidak memiliki perjanjian serupa dengan pemerintahan Trump.






