Crispy

Tyla Sang Ratu “Popiano” yang Menaklukkan Takhta Billboard

Tyla resmi jadi artis solo Afrika pertama dengan entri terbanyak di Billboard. Siapa sangka, mahasiswi Teknik Pertambangan hampir saja mengubur mimpinya menjadi bintang pop?

WWW.JERNIH.CO –  Dunia musik global tengah menyaksikan lahirnya seorang legenda baru dari ujung selatan Benua Afrika. Tyla Laura Seethal, gadis kelahiran Johannesburg tahun 2002, bukan sekadar penyanyi pendatang baru; ia adalah kekuatan revolusioner yang berhasil membawa warna lokal Afrika Selatan ke puncak tertinggi industri musik dunia.

Melalui single terbarunya, “Chanel“, Tyla resmi mencetak sejarah sebagai artis solo Afrika pertama yang menempatkan tiga lagu secara beruntun di tangga lagu Billboard Hot 100, melampaui rekor abadi yang sebelumnya dipegang oleh sang legenda, Miriam Makeba.

Keberhasilan Tyla berakar pada keberaniannya meramu identitas budaya menjadi suara yang universal. Ia memperkenalkan dunia pada “Popiano“, sebuah genre hibrida yang memadukan ritme Amapiano khas Afrika Selatan—dengan ciri khas log drum dan bass yang dalam—dengan melodi Pop dan R&B yang manis.

Eksperimen musik ini pertama kali mengguncang dunia melalui lagu “Water” yang viral secara global, membuktikan bahwa bahasa musik yang autentik tidak mengenal batas wilayah.

Perjalanan karier Tyla merupakan potret kerja keras di era digital. Dimulai dari unggahan video cover di Instagram, ia bertransformasi menjadi pemenang Grammy Award dan ikon fesyen yang diperhitungkan.

Dengan pencapaiannya di Billboard hingga akhir 2025 ini, Tyla tidak hanya memecahkan rekor angka, tetapi juga membuka gerbang lebar bagi talenta Afrika lainnya untuk bersinar di panggung mainstream.

Ia adalah simbol dari generasi baru yang bangga akan akar budayanya, namun mampu berbicara dengan bahasa global yang memikat telinga dunia.

Di balik gemerlap panggung internasional dan rekor Billboard, Tyla Laura Seethal adalah cerminan dari keberagaman identitas Afrika Selatan yang kaya. Tumbuh besar di Johannesburg, Tyla mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari komunitas “Coloured”, sebuah identitas multietnis unik yang menyatukan darah Zulu, India, Mauritius, hingga Irlandia dalam dirinya.

Sebagai salah satu dari lima bersaudara, latar belakang keluarga yang hangat dan multikultural ini menjadi fondasi kuat bagi kepercayaan dirinya dalam membawa identitas lokal ke kancah global tanpa rasa canggung.

Ketertarikan Tyla pada dunia seni sebenarnya sudah mendarah daging sejak masa sekolah di Edenglen High School. Menariknya, sebelum ia mantap menjadi penyanyi, Tyla sempat mempertimbangkan jalan hidup yang jauh berbeda, yakni mengejar pendidikan di bidang Teknik Pertambangan.

Namun, gairah seninya yang besar—yang sempat ia salurkan sebagai Ketua Budaya di sekolah—membuatnya berani mengambil risiko. Ia berhasil meyakinkan orang tuanya untuk memberinya waktu satu tahun (gap year) demi mengejar mimpi bermusik. Keputusan berani ini terbukti menjadi titik balik yang mengubah hidupnya selamanya setelah bakatnya ditemukan oleh sang manajer melalui video-video kreatif di media sosial.

Ambisi Tyla untuk menjadi “bintang pop global pertama dari Afrika” bukanlah sekadar bualan. Secara musikal, ia merupakan produk dari persilangan dua dunia. Ia tumbuh dengan mengagumi keajaiban panggung Michael Jackson, pesona Rihanna, dan vokal halus R&B tahun 90-an seperti Aaliyah.

Namun, di saat yang sama, ia tetap setia pada denyut nadi musik Afrika dengan mengambil inspirasi dari legenda seperti Brenda Fassie dan Wizkid. Melalui perpaduan inilah Tyla berhasil menciptakan ruang baru bagi musik Afrika Selatan—menjadikan dirinya bukan hanya seorang penghibur, melainkan representasi nyata dari kebanggaan sebuah bangsa yang kini menjadi sorotan mata dunia.(*)

BACA JUGA: Penyanyi AI Xania Monet Dikontrak Label Rekaman Hallwood Media, Industri Musik Gempar

Back to top button