DepthVeritas

Analisa Tewasnya Semua Kru Pesawat Tanker AS di Gurun Irak

Penghapusan komponen payung di kokpit pesawat ternyata justru lebih riskan. Satu tim kru KC-135 tewas. Benarkah keputusan itu adalah kebodohan terbesar Amerika Serikat pada teknologi pesawat?

WWW.JERNIH.CO – Enam awak pesawat tanker Amerika Serikat yang jatuh pada 12 Maret lalu dalam Operasi Epic Fury tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri saat pesawat mereka menghujam gurun.

Penyebabnya ternyata cukup mengejutkan: Angkatan Udara AS (US Air Force) telah menghapus penggunaan parasut dari pesawat KC-135 Stratotanker sejak hampir 20 tahun yang lalu.

Pesawat bermesin empat ini merupakan “kuda beban” utama dalam armada pengisian bahan bakar udara militer, sekaligus elemen kunci dalam serangan udara AS-Israel ke Iran. Ratusan pesawat tanker ini dikerahkan ke Timur Tengah untuk menjaga jet tempur tetap mengudara.

Awalnya, KC-135 dilengkapi dengan parasut. Namun, pada tahun 2008, Angkatan Udara memutuskan untuk menghapusnya. Alasannya? Mereka menilai bahwa melompat keluar (bailing out) dari Stratotanker yang rusak jauh lebih berbahaya daripada mencoba mendaratkannya.

“Keputusan ini diambil setelah tinjauan komprehensif terhadap faktor keselamatan kru dan kinerja pesawat,” ujar seorang juru bicara Angkatan Udara.

Namun, tidak semua pihak setuju. Adam Kinzinger, mantan anggota Kongres AS yang juga pensiunan pilot KC-135, menyebut keputusan tersebut “bodoh.” Meski ia mengakui kecil kemungkinan kru selamat dalam kecelakaan 12 Maret lalu, ia menegaskan bahwa mereka seharusnya tetap diberi pilihan untuk mencoba.

“Seseorang mendapat promosi jabatan karena menyarankan bahwa parasut di KC-135 hanya membuang-buang ruang. Itu ide bodoh. Apakah parasut bisa menyelamatkan kru ini? Siapa yang tahu. Tapi setidaknya beri mereka pilihan,” tulis Kinzinger di media sosialnya.

Kinzinger menambahkan bahwa penghapusan parasut seberat kurang lebih 360 kg tersebut dilakukan demi mengurangi bobot pesawat agar bisa mengangkut lebih banyak bahan bakar.

Komentar Kinzinger memicu perdebatan sengit di forum-forum militer. Beberapa berpendapat bahwa peluang bertahan hidup saat melompat dari pesawat jet sebesar itu hampir nol karena risiko terhantam sayap atau antena pesawat.

Namun, banyak personel lain yang tidak setuju. “Saya lebih memilih peluang selamat 1% dengan parasut daripada 0% tanpa parasut saat pesawat jatuh,” tulis salah satu pengguna.

Kecelakaan ini melibatkan dua pesawat KC-135 yang sedang bertugas. Satu pesawat jatuh di Irak Barat, sementara satu lainnya berhasil mendarat darurat di Israel dengan kerusakan parah pada bagian ekor. Komando Pusat AS menyatakan bahwa jatuhya pesawat bukan disebabkan oleh tembakan musuh, dan penyelidikan masih berlangsung.

Pesawat yang jatuh membawa enam orang—tiga kru standar dan tiga kru tambahan yang bertugas mengawasi jalannya operasi.

Secara teknis, KC-135 memiliki desain yang menyulitkan evakuasi darurat.    Hatch (Pintu Keluar) letaknya di belakang kokpit. Pada kecepatan jet, aliran udara sangat kuat sehingga seseorang yang melompat bisa terlempar keras ke badan pesawat.

Mirip dengan Boeing 707 (pesawat komersial). Melompat dari pesawat ini hampir sama sulitnya dengan melompat dari pesawat penumpang biasa.

Angkatan Udara berargumen bahwa dengan mesin model baru, pesawat tetap bisa terbang dan mendarat meski kehilangan tiga dari empat mesinnya, sehingga mendarat darurat dianggap opsi terbaik.

Selain KC-135, parasut juga telah dihapus dari pesawat tanker KC-46A Pegasus serta pesawat angkut besar seperti C-17 dan C-5M.

Pensiunan Jenderal Gregory Martin menjelaskan bahwa keputusan ini bukan impulsif. Selain masalah keselamatan saat melompat, parasut membutuhkan perawatan rutin (dikemas ulang setiap beberapa hari) oleh personel khusus.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan memangkas birokrasi, parasut dianggap sebagai beban yang tidak perlu karena selama puluhan tahun tidak ada kru yang menggunakannya untuk melompat.

Bagi Kinzinger, ini adalah cermin dari budaya Pentagon yang terkadang lebih mengutamakan “ide bagus” di atas kertas daripada realitas nyawa di lapangan.

Ia menutup pernyataannya dengan duka mendalam: “Itu pasti momen yang mengerikan di dalam pesawat tersebut, dan sedihnya, mereka mungkin sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi hingga saat benturan terjadi.”

Ini adalah korban dari ambisi presiden mereka sendiri.(*)

BACA JUGA: Empat Orang Tewas dalam Kecelakaan Pesawat Militer AS di Irak, Dua Lainnya Hilang

Back to top button