DepthVeritas

Barisan Selebritis Amerika Penentang Donald Trump

Panggung hiburan Amerika Serikat kini tak lagi hanya menjadi tempat untuk menghibur. Sejak kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan, para ikon global telah mengubah mikrofon mereka menjadi senjata politik.

WWW.JERNIH.CO –  Gelombang perlawanan dari kalangan selebriti Amerika Serikat terhadap Donald Trump telah menjadi salah satu dinamika politik paling menarik dalam satu dekade terakhir.

Sejak masa jabatan pertamanya hingga kemenangannya kembali sebagai Presiden ke-47 pada akhir 2024, dunia hiburan tidak henti-hentinya menyuarakan kritik tajam. Bagi banyak pesohor, melawan Trump bukan sekadar urusan partai, melainkan perjuangan nilai, moral, dan perlindungan terhadap kelompok marginal.

Para artis ini memiliki platform yang sangat luas, dan mereka merasa memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara. Alasan utama yang menyatukan mereka adalah ketakutan akan erosi demokrasi, pelanggaran hak asasi manusia, serta retorika kebencian yang dianggap dapat memicu kekerasan di masyarakat.

Ice-T: Melawan “Penipu Elit”

Sebagai pionir gangsta rap dan bintang serial Law & Order: SVU, Ice-T dikenal dengan gayanya yang blak-blakan. Ia tidak melihat Trump sebagai pemimpin politik, melainkan sebagai seorang demagog yang memanfaatkan isu rasisme untuk memecah belah rakyat Amerika. Ice-T sering menekankan perbedaan antara “orang kaya yang merakyat” dengan Trump yang ia anggap sebagai elit yang manipulatif.

: Ia merasa Trump telah membuka kedok rasisme yang selama ini tersembunyi di Amerika dan memandangnya sebagai sosok dengan integritas rendah yang memiliki catatan hukum yang buruk.

“Saya sangat membenci Trump. Dia membiarkan dunia melihat betapa rasis dan skandalnya sebagian besar negara kita. Dia punya lebih banyak catatan kejahatan daripada teman-teman kriminal saya, tapi dia bahkan tidak memakai gelang pemantau di kakinya. Dia adalah seorang elitist yang berpura-pura, seorang demagog,” semburnya.

Robert De Niro: Melawan “Sang Perundung”

Aktor pemenang Oscar, Robert De Niro, mungkin adalah kritikus Trump yang paling sengit di Hollywood. Ia sering menggunakan panggung festival film internasional, seperti Cannes 2025, untuk mengecam apa yang ia sebut sebagai “ancaman terhadap kebudayaan dan demokrasi.” De Niro bahkan terlibat aktif dalam mendukung protes “No Kings” yang menentang kekuasaan absolut eksekutif.

De Niro menganggap Trump sebagai sosok “gangster gadungan” yang tidak memiliki moral dan hanya peduli pada dirinya sendiri, serta mengancam tatanan demokrasi yang sudah berusia 250 tahun.

“Dia adalah monster yang tidak stabil secara mental. Kita tidak bisa membiarkannya merasa bisa melakukan apa saja. Dia adalah perundung klasik, dan satu-satunya cara menghadapi perundung adalah dengan melawannya secara langsung,” sembur De Niro.

Cardi B: Melawan Pembatasan Hak Perempuan

Rapper Cardi B adalah salah satu selebriti muda yang paling aktif secara politik. Meskipun sempat merasa kecewa dengan dinamika politik secara umum, ia tetap menjadi penentang keras Trump, terutama terkait masalah hak reproduksi perempuan dan biaya hidup.

Ia aktif berkampanye untuk Kamala Harris pada pemilu 2024 untuk mencegah kembalinya kebijakan konservatif Trump. Cardi B merasa kebijakan Trump—terutama yang berkaitan dengan Project 2025 dan pembatasan hak perempuan—adalah langkah mundur bagi masa depan anak perempuan di Amerika.

Katanya, “Jika perlindungan yang dia janjikan berarti anak perempuan kita memiliki hak yang lebih sedikit daripada ibu mereka, maka saya tidak butuh perlindungan itu! Dia hanya menjual kebencian.”

Billie Eilish: Suara Generasi Z

Penyanyi muda pemenang Grammy ini menjadi sangat emosional setelah hasil pemilu 2024 keluar. Dalam konsertnya di Nashville baru-baru ini, ia sempat menangis di atas panggung saat membahas masa depan hak-hak sipil di bawah kepemimpinan Trump.

Eilish sangat peduli pada isu hak perempuan dan keamanan lingkungan. Ia merasa kehadiran Trump di Gedung Putih adalah ancaman bagi keselamatan dan hak-hak dasar perempuan.

“Seseorang yang sangat, sangat membenci perempuan akan menjadi presiden kita lagi. Saya akan selalu berjuang untuk kalian, saya akan selalu membela kalian,” kata Eilish.

Taylor Swift (Penyanyi & Penulis Lagu)

Taylor Swift bertransformasi dari bintang pop yang apolitis menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Amerika. Pengaruhnya begitu besar sehingga dukungannya terhadap lawan Trump sering kali memicu lonjakan pendaftaran pemilih (voter registration) secara masif.

Swift merasa Trump secara aktif mengobarkan api supremasi kulit putih dan rasisme. Ia juga sangat kritis terhadap upaya Trump yang dianggap menghambat hak pemungutan suara melalui pos serta serangannya terhadap hak-hak perempuan.

“Setelah mengobarkan api supremasi kulit putih dan rasisme selama masa jabatanmu, kamu berani berpura-pura memiliki moralitas sebelum mengancam kekerasan? ‘When the looting starts, the shooting starts’??? Kami akan memberikan suara untuk mengeluarkanmu pada November nanti,” semprot Swift.

 LeBron James (Atlet NBA)

Ikon bola basket ini sering menggunakan platformnya untuk membahas ketidakadilan sistemik. LeBron memandang Trump bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai sosok yang menggunakan olahraga untuk memecah belah warga Amerika berdasarkan ras.

LeBron merasa Trump menghina atlet kulit hitam yang memperjuangkan hak asasi mereka (seperti aksi berlutut saat lagu kebangsaan) dan sering memberikan komentar yang merendahkan komunitas minoritas.

“Pergi ke Gedung Putih adalah sebuah kehormatan sampai Anda muncul di sana! Saya tidak akan pernah duduk diam ketika seseorang mencoba menggunakan platform olahraga untuk memecah belah kita. Pilihan kita (dalam pemilu) sangat jelas demi masa depan keluarga kita,” kata James.

Mark Ruffalo (Aktor ‘Hulk’)

Mark Ruffalo bukan hanya sekadar aktor, ia adalah aktivis garis keras yang sering hadir dalam aksi protes di jalanan. Hingga awal 2026 ini, ia tetap konsisten menyebut Trump sebagai sosok yang berada di luar hukum.

Ruffalo sangat vokal mengenai isu perubahan iklim, imigrasi, dan penegakan hukum. Ia menganggap Trump sebagai “penjahat yang dihukum” (convicted felon) yang moralitasnya membahayakan tatanan hukum internasional dan domestik.

“Dia adalah orang yang hanya peduli pada moralitas pribadinya sendiri, bukan hukum internasional atau konstitusi. Dia adalah manusia terburuk yang pernah menduduki jabatan itu, seorang penjahat yang mencoba menghancurkan demokrasi kita demi kekuasaan,” ungkap Rufallo.(*)

BACA JUGA: Analisis Psikologis Sosok Donald Trump, Antara Narsisme, Dominasi, dan Politik Polarisasi

Back to top button