Depth

Ketat Terapkan Protokol Covid-19, Doni Monardo Puji Al-Irsyad Kota Baru, Padalarang

Pengelola masjid benar-benar sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Termasuk, ketika membatasi jumlah jamaah yang boleh shalat di dalam, artinya akan banyak jamaah yang harus shalat di halaman. Jangan khawatir, pengurus masjid sudah menyiapkan ratusan sajadah, bagi jamaah yang tidak membawa sajadah.

JERNIH– Al Irsyad adalah nama masjid di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Usai shalat Jumat di masjid itu, (12/3), Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo tak henti-henti mengungkapkan rasa salut dan pujiannya kepada manajemen masjid.

“Meski jumlah jamaahnya ribuan, tetapi protokol kesehatan terjaga dengan sangat baik,” ujar Doni sambil berjalan menuju lokasi parkir kendaraan.

Sesungguhnya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Termasuk ketika Doni Monardo shalat Jumat di Al Irsyad. Pagi harinya, Doni Monardo berkunjung sekaligus berkegiatan menanam pohon di lahan rawan longsor di Batujajar, Bandung Barat. Agenda yang telah disusun protokol, usai acara, Kepala BNPB dan rombongan shalat Jumat di masjid komplek Pemkab Bandung Barat, sebelum kembali ke Jakarta.

Ternyata, usai beracara, Doni Monardo kembali ke Hotel Mason Pine, di Kota Baru Parahyangan. Rupanya, ia memutuskan shalat Jumat di dekat hotel tempat menginap semalam. Memang, tak jauh dari hotel itu, berdiri megah Masjid Al Irsyad.

Masjid yang berdiri di lahan seluas 1.696 meter persegi dengan luas bangunan masjid 807 meter persegi itu, sejatinya mampu menampung 1.500 jemaah. Akan tetapi di era pandemi, shaf dibuat renggang, mengikuti protokol kesehatan. Karenanya, jamaah pun luber ke halaman masjid yang –kebetulan—sangat rindang dengan aneka pepohonan.

Doni Monardo, didampingi Deputi III Dody Ruswandi, Tenaga Ahli Egy Massadiah, Koorspri Kolonel Czi Budi Irawan, Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr Aam Abdul Muhari, dan rombongan, termasuk yang shalat di halaman masjid. Meski, Doni sudah hadir sebelum adzan dhuhur berkumandang.

Jamaah yang meluber ke halaman masjid yang rindang dalam keteduhan pepohonan, tak sungkan karena ratusan sajadah sudah dibentangkan pengurus masjid.

Setiap jamaah yang datang, dihadang alat pengukur suhu. Ada tiga alat pengukur suhu dipasang di area menuju tempat wudhu. Petugas mengarahkan jemaah mendekatkan lengan atau telapak tangan untuk pengukuran suhu tubuh. Setelah itu, petugas akan mengarahkan ke tiga wastafel untuk mencuci tangan. Setelah itu baru mengambil air wudhu.

Pengelola masjid benar-benar sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Termasuk, ketika membatasi jumlah jamaah yang boleh shalat di dalam, artinya akan banyak jamaah yang harus shalat di halaman. Jangan khawatir, pengurus masjid sudah menyiapkan ratusan sajadah, bagi jamaah yang tidak membawa sajadah.

Baik saat antri di alat pengukur suhu, maupun saat antri mencuci tangan memakai sabun serta antri wudhu, petugas selalu sigap berkeliling dan mengingatkan jemaah untuk menjaga jarak. Begitu pula saat hendak menggelar sajadah, petugas mengarahkan untuk menghindari jalur hijau untuk pejalan kaki yang datang belakangan, serta meminta jemaah menjaga jarak ketika menggelar sajadah di halaman masjid.

“(Pengurus) Masjid itu perlu mendapat penghargaan. Saya salut sekali dengan cara mereka mengatur jemaah yang ribuan ini dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Termasuk tadi, waktu usai shalat, panitia langsung menyambar mic dan membuat pengumuman, bahwa jemaah yang berada di dalam, diminta menunggu untuk tidak meninggalkan area dalam masjid. Kemudian disusul, pengumuman agar jemaah yang di luar masjid, lebih dulu meninggalkan area masjid. Bayangkan, sampai sirkulasi jemaah masuk dan keluar pun diatur sedemikian rupa sehingga kita merasa nyaman beribadah meski di era pandemi,”ujar Doni Monardo.

Satu hal lagi, Doni juga mencatat betul pengumuman yang begitu simpatik. Isinya, bagi para jemaah yang memakai sajadah masjid, diharap tidak membereskan sajadah. Jamaah diminta membiarkan sajadah di halaman, nanti pengurus masjid yang akan memungut sajadah-sajadah itu dan langsung mengirimkannya ke jasa laundry untuk dicuci. “Luar biasa,” puji Doni tak henti-henti.

Doni pun membayangkan, kalau saja model shalat berjamaah di masjid Al Irsyad dicontoh oleh para pengurus masjid lain di seluruh Indonesia, alangkah baiknya. “Mungkin sudah ada yang seperti ini di daerah lain. Tapi setidaknya, saya baru melihat penatalaksanaan shalat Jumat yang begitu rapi di era pandemi, ya di sini, di masjid Al Irsyad ini,” kata Doni pula.

Sekilas Al Irsyad

Masjid Al-Irsyad dibangun tahun 2009 dan selesai tahun 2010. Bentuk masjid sekilas hanya seperti kubus besar laiknya bentuk bangunan kubah di Arab Saudi. Dengan konsep ini, dari luar terlihat garis-garis hitam di seluruh dinding masjid.

Masjid Al-Irsyad diresmikan pada 17 Ramadan 1431 Hijriah tepatnya 27 Agustus 2010. Bangunannya unik, megah, dan kokoh. Beberapa bulan setelah dibangun, masjid yang memiliki arsitektur memukau ini langsung menyabet penghargaan bergengsi tingkat dunia.

Desain masjid dirancang mirip ka’bah. Warna dasarnya abu-abu. Penataan batu bata pada keseluruhan dinding terlihat sangat mengagumkan. Batu bata disusun berbentuk lubang atau celah di antara bata solid. Pembangunan masjid ini diarsiteki oleh Ridwan Kamil. Dia menciptakan desain unik sebuah masjid yang memanfaatkan sinar matahari. Pembangunan masjid menghabiskan dana sebesar Rp 7 miliar. Desain arah kiblat dibuat terbuka dengan pemandangan alam. Saat senja, semburat matahari akan masuk dari bagian depan masjid yang tak berdinding itu.

Dilihat dari kejauhan, akan menghadirkan lafaz Arab yang terbaca sebagai dua kalimat tauhid, Laailaha Ilallah Muhammad Rasulullah, yang artinya Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kekuatan desain Masjid Al-Irsyad tampak pada embedding teks kaligrafi Arab dengan jenis tulisan khat kufi. Bentuknya, dua kalimah tauhid yang melekat pada tiga sisi bangunan dalam bentuk susunan batu bata, yang dirancang sebagai kaligrafi tiga dimensi raksasa.

Masjid ini mempunyai luas 1.871 meter persegi hanya memiliki tiga warna yaitu putih, hitam, dan abu-abu. Susunan tiga warna tersebut menjadikan tampil lebih cantik, modern, simpel namun tetap elegan dan enak dipandang mata.

Di dalam interior masjid, jumlah lampu yang dipasang sebanyak 99 buah sebagai simbol 99 nama-nama Allah atau Asmaul Husna. Masing-masing lampu yang berbentuk kotak itu, memiliki sebuah tulisan nama Allah. Tulisan pada lampu-lampu itu dapat dibaca secara jelas dimulai dari sisi depan kanan masjid hingga tulisan ke-99 pada sisi kiri bagian belakang masjid.

Ruang salat di masjid mampu menampung sekitar 1.500 jamaah ini. Masjid ini tidak memiliki tiang atau pilar di tengah untuk menopang atap, sehingga terasa begitu luas. Hanya empat sisi dinding yang menjadi pembatas sekaligus penopang atapnya.

Celah-celah angin pada empat sisi dinding masjid menjadikan sirkulasi udara di ruang masjid begitu baik, sehingga tidak terasa gerah atau panas meski tak dipasangi AC atau kipas angin. Di Bagian imam sengaja tanpa dinding artinya menggambarkan bahwa setiap makhluk yang salat dia akan menghadap Allah.

Lanskap dan ruang terbuka, sengaja dirancang berbentuk garis-garis melingkar yang mengelilingi bangunan masjid. Lingkaran-lingkaran yang mengelilingi masjid itu terinspirasi dari konsep tawaf yang mengelilingi ka’bah. [  ]

Back to top button