MoronVeritas

Bom Waktu di Jantung IDF, Letjen Eyal Zamir Ramalkan Kehancuran Militer Israel dari Dalam

Panglima tertinggi militer Israel sendiri, Letjen Eyal Zamir, baru saja membunyikan lonceng kematian bagi pasukannya. Di tengah kepungan lima front tempur, IDF justru menghadapi ancaman yang jauh lebih mematikan.

WWW.JERNIH.CO –  Pernyataan mengejutkan datang dari jantung pertahanan Israel. Eyal Zamir, yang dalam konteks terkini (Maret 2026) menjabat sebagai Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengeluarkan peringatan keras bahwa militer Israel berada di ambang “keruntuhan dari dalam” (collapse in on itself). Fenomena ini bukan sekadar retorika politik, melainkan alarm bahaya yang didasarkan pada krisis sumber daya manusia (SDM) yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara tersebut.

Letnan Jenderal Eyal Zamir adalah perwira tinggi militer Israel yang memiliki karier cemerlang di unit kavaleri (korps lapis baja). Sebelum menjabat sebagai Kepala Staf IDF, ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan dan Wakil Kepala Staf IDF.

Zamir dikenal sebagai sosok yang pragmatis, teknokratis, dan jarang tampil secara emosional di publik, kecuali jika ada ancaman eksistensial yang nyata.

Posisinya sebagai Kepala Staf menempatkannya sebagai pemegang tanggung jawab tertinggi atas kesiapan tempur Israel. Ketika seorang figur setenang Zamir mengangkat “10 Bendera Merah” di hadapan kabinet keamanan, publik memahami bahwa militer Israel sedang menghadapi badai yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi canggih atau bantuan luar negeri.

Analisis Zamir mengenai keruntuhan IDF tidak merujuk pada kekalahan di medan perang oleh musuh eksternal, melainkan kegagalan sistemik internal untuk menopang beban operasional.

BACA JUGA: Israel Sahkan UU Hukuman Mati Hanya untuk Warga Palestina, Dunia Internasional Mengecam

Ada tiga pilar utama yang mendasari analisisnya. Pertama, terjadi krisis wajib militer dan isu Haredi. Ini adalah isu paling eksplosif di Israel. Militer Israel sangat bergantung pada sistem “tentara rakyat” di mana hampir seluruh warga negara wajib mengabdi. Namun, komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks (Haredi) secara historis mendapatkan pengecualian demi studi agama.

Data terbaru menunjukkan ada sekitar 80.000 hingga 100.000 pria Haredi usia produktif yang memenuhi syarat tempur namun tidak terdaftar. Di sisi lain, IDF melaporkan kekurangan akut sebanyak 12.000 hingga 15.000 tentara (terutama di unit tempur) untuk menjaga garis depan di Gaza, Lebanon Selatan, dan Tepi Barat secara bersamaan.

Zamir menegaskan bahwa tanpa undang-undang yang mewajibkan kelompok Haredi untuk ikut memikul beban ini, struktur IDF akan patah.

Kedua, Zamir melihat telah terjadi kelelahan ekstrim Pasukan Cadangan (Reservist). Sistem pertahanan Israel mengandalkan warga sipil yang dipanggil kembali bertugas (reservis). Sejak konflik pecah pada Oktober 2023 hingga 2026, banyak reservis yang telah bertugas selama ratusan hari dalam setahun.

Para reservis kehilangan pekerjaan, bisnis mereka bangkrut, dan keluarga mereka telantar. Tingginya angka kelelahan tempur (burnout) menyebabkan penurunan moral secara drastis. Zamir memperingatkan bahwa “sistem cadangan tidak akan bertahan” jika durasi pengabdian terus diperpanjang tanpa ada pasukan baru yang masuk.

Terakhir, menurutnya, terjadi ketidakseimbangan antara misi dengan jummlah pasukan.

Analisis Zamir menunjukkan adanya mismatch antara ambisi politik pemerintah dengan realitas jumlah personel. Israel saat ini beroperasi di setidaknya lima front: Gaza, Lebanon, Tepi Barat, ancaman langsung dari Iran, dan ketegangan di perbatasan Suriah.

IDF kekurangan setidaknya 7.000-8.000 tentara tempur hanya untuk mempertahankan posisi rutin. Perubahan hukum di masa lalu yang sempat memotong masa dinas wajib militer pria menjadi 30 bulan kini berbalik menjadi bumerang, menciptakan kekosongan besar dalam rotasi pasukan.

Menurut analisis Zamir, keruntuhan ini akan termanifestasi dalam beberapa tahap. Dimulai dari kegagalan operasional di mana IDF tidak akan mampu menjalankan misi rutin harian karena kekurangan personel untuk menjaga pos-pos strategis.

Selanjutnya muncul ketidakadilan sosial antara mereka yang bertugas (dan berisiko gugur) dengan mereka yang dikecualikan (kelompok Haredi) akan menghancurkan kohesi sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama Israel.

Lantas disusul ketergantungan teknologi yang gagal. Tanpa “sepatu boots di darat” yang cukup, teknologi pemantauan secanggih apa pun tidak akan mampu mencegah infiltrasi atau serangan gerilya di wilayah konflik yang luas.

Maka peringatan Eyal Zamir adalah sebuah “panggilan terakhir” bagi pemerintah Israel. Analisanya menunjukkan bahwa musuh terbesar Israel saat ini bukanlah kekuatan militer lawan, melainkan krisis domestik terkait ketidakadilan beban militer dan kelelahan pasukan.

Jika reformasi undang-undang wajib militer tidak segera dilakukan untuk menutup lubang 12.000 personel tersebut, maka IDF—yang selama ini dianggap sebagai salah satu militer terkuat di dunia—bisa benar-benar lumpuh secara fungsional.(*)

BACA JUGA: Israel Laporkan Empat Tentaranya Tewas di Tangan Hizbullah di Lebanon Selatan

Back to top button