
Dari jalanan St. Paul hingga pusat New York, lebih dari 8 juta warga Amerika Serikat tumpah ruah dalam aksi demonstrasi “No Kings” yang memecahkan rekor sejarah.
WWW.JERNIH.CO – Aksi demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” terus mengguncang Amerika Serikat. Terakhir terjadi pada akhir pekan, Sabtu, 28 Maret 2026. Ini merupakan gelombang ketiga dari rangkaian protes nasional yang dimulai sejak tahun 2025 sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan dan gaya kepemimpinan pemerintahan kedua Donald Trump.
Demonstrasi kali ini tercatat sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern Amerika, mencerminkan polarisasi yang semakin tajam di negeri Paman Sam tersebut.

Gerakan “No Kings” dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap apa yang mereka sebut sebagai “kemunduran demokrasi” dan gaya kepemimpinan otoriter. Nama gerakan ini sendiri merujuk pada pesan bahwa Amerika Serikat adalah republik, bukan monarki dengan seorang raja.
Penyebab spesifik yang menyulut kemarahan massa pada Maret 2026 ini meliputi konflik di Iran tentang keputusan Trump untuk melibatkan AS dalam perang dengan Iran pada awal 2026. Juga soal kekerasan oleh Agen ICE yang mengakibatkan kematian dua warga sipil, Renée Good dan Alex Pretti, di tangan agen imigrasi (ICE) dalam operasi “Metro Surge” di Minneapolis.
Selain itu rakyat Amerika mulai gerah oleh masalah ekonomi. Faktanya telah terjadi lonjakan biaya hidup, harga bahan pokok, dan tarif impor yang membebani masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ditambah isu transparansi yakni tuntutan pembukaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein yang dianggap selama ini ditekan oleh pemerintah.
Demonstrasi ini merebak di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian AS, bahkan meluas ke 16 negara lain seperti Prancis, Jerman, dan Jepang melalui komunitas warga AS di luar negeri. Penyelenggara dari koalisi kelompok aktivis seperti Indivisible dan 50501 mengestimasi jumlah peserta mencapai 8 juta orang secara nasional, melampaui rekor protes sebelumnya pada Oktober 2025 yang menarik sekitar 7 juta orang.

Pusat aksi (flagship event) berada di St. Paul, Minnesota, yang dihadiri sekitar 200.000 orang. Kota-kota besar lainnya seperti New York City, Washington D.C., Chicago, dan Los Angeles juga menyaksikan lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan protokol dengan membawa poster bertuliskan “No Kings, No ICE, No War”.
Suasana demonstrasi digambarkan sangat emosional namun tetap diupayakan damai oleh penyelenggara. Di St. Paul, musisi legendaris Bruce Springsteen tampil membawakan lagu terbarunya, “Streets of Minneapolis”, yang diciptakan khusus untuk mengenang korban kekerasan agen federal.
Tokoh politik dan selebritas ternama turut turun ke jalan atau memberikan orasi, di antaranya Senator Bernie Sanders, Senator Chris Murphy, Rep. Ilhan Omar, dan Gubernur Maura Healey.
Dari kalangan selebritas ada Robert De Niro (memberikan pidato berapi-api di New York), Jane Fonda, Mark Ruffalo, Jimmy Kimmel, Kerry Washington, dan Bill Nye “The Science Guy”.
Lantas kaum aktivis mengirimkan Rev. Al Sharpton dan tokoh-tokoh dari komunitas Palestina-Amerika di Washington D.C. yang memprotes penggunaan dana pajak untuk subsidi militer di luar negeri.
Donald Trump menanggapi aksi ini dengan gaya khasnya yang provokatif. Melalui platform Truth Social, ia mengunggah video buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya mengenakan mahkota raja, seolah-olah mengejek narasi “No Kings” para demonstran.
Dalam sebuah wawancara, ia sempat berujar, “Mereka bilang saya bertindak seperti raja. Saya bukan raja, tapi saya melakukan pekerjaan hebat yang membuat mereka kesal.”

Ucapan itu kontan menuai kemarahan anti-Trump. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, merilis pernyataan yang meremehkan aksi tersebut. Ia menyebut demonstrasi itu hanyalah hasil dari “jaringan pendanaan kiri” dan menyebutnya sebagai “Trump Derangement Therapy Sessions” yang tidak mewakili aspirasi rakyat Amerika yang sebenarnya.
Di beberapa titik, sempat terjadi gesekan kecil antara massa “No Kings” dengan kelompok kontra-protes pendukung Trump seperti Proud Boys, terutama di wilayah Florida dan Texas.
Suasana panas di Amerika belakangan ini semakin membara. Ini karena disulut oleh presidennya sendiri.(*)
BACA JUGA: Mayoritas Warga AS Menentang Perang Terhadap Iran, Popularitas Trump Anjlok






