Moron

Ketika Cicero Menyerahkan Kepalanya Untuk Dipenggal

Waktu Marcus Tullius Cicero telah habis. Hari itu, 7 Desember 43 Sebelum Masehi (SM), Cicero memerintahkan pelayan dan pengawal meletakan senjata. Ia memegang dagu dan menghadapi Herenius, orang yang ditugaskan membunuhnya.

Sebagian besar yang di tempat itu menutup wajah saat Herennius membunuh Cicero, memotong kepala dan tangannya. Herennius membawa tangan itu ke Mark Anthony, kaisar Roma saat itu.

Plutarch, penulis biografi Cicero, menulis Mark Anthony memerintahkan kepala dan tangan Cicero diikat di Rostra — sebuah panggung besar tempat orator berbicara. Pemandangan yang mengerikan, membuat orang yang melihat bergidik. Namun, menurut Plutarch, orang-orang tidak melihat itu kepala Cicero tapi lukiwan jiwa Mark Anthony.

Siapa Cicero?

Josho Brouwers, arkeolog Mediterranean, menyebut Cicero penulis terhebat di dunia Romawi. Cicero lahir di Arpium, selatan Roma, pada 3 Januari 105 SM. Dalam arti budaya, peran penting Cicero sangat tidak ternilai.

Era keemasan sastra Latin, secara konvensional, dimulai dengan pidato Cicero kali pertama pada 81 SM dan berakhir dengan kematian Ovid. Kontribusinya hanya bisa disejajarkan dengan Dante Alighieri, yang memberi pengaruh pada Bahasa Italia berabad-abad kemudian.

Cicero menyederhanakan bahasa dan memperbaikinya.

Orang mengenal Cicero lewat dua hal; pidato dan surat-suratnya. Ia juga menulis syair, tapi tak dihormati. Pidato-pidatonya ditulis dan dibaca keras-keras. Surat-suratnya terdiri dari korespondensi pribadi, yang memberikan banyak wawasan kepada pembacanya tentang penulisnya.

Sebagian besar karya filosofisnya adalah interpretasi Latin tentang filsafat Yunani, yang mempengarui tulisan-tulisan filosofis Abad Pertengahan.

Sebagai orator, Cicero layak dibandingkan dengan Demosthenes (384-322 SM), yang mengakum melawan Macedonia. Namun, Demosthenes adalah orator Attic, dengan gaya penyampaian yang tenang. Cicero sebaliknya, pitatonya — mengambil tradisi Asia kecil — meledak-ledak dan penuh emosi.

Secara alami, Cicero belajar filsafat. Dia belajar pada ahli epilogi Phaedrus, dan akademik skeptik Pilo, dan Diodatus. Ia belajar pidato pada ahli retorika, sebelum melakukan perjalanan ke Yunani dan Asia Kecil antara 79-77 SM

Di Yunani, Cicero belajar pada banyak guru. Khusus di Athena, dia bertemu Titus Pomponius Atticus dan menjalin persahabatan seumur hidup.

Karier Politik

Secara alami pula Cicero terjun ke politik. Ia terpilih sebagai konsul pada 63 SM di kantor tertiggi Republik Romawi. Ia meredam konspirasi Catiline, seorang revolusioner. Namun ia diusir lawan politiknya pada 58 SM, tapi tahun berikutnya dipanggil kembali.

Mark Anthony bersikeras Cicero masuk dalam daftar orang terlarang. Plutarch menulis Oktavianus berdebat dengan Martk Anthony dan Lepidus bahwa Cicero diisolasi saja. Oktavianus gagal.

Kegagalan Oktavianus menempatkan Cicero di ujung kematian. Cicero tahu itu. Ia memutuskan lari, tapi berubah pikiran dan kembali ke Roma saat sedang dalam perjalanan ke Makedonia.

Ia membayangkan dirinya ditawan dan disiksa kaki tangan Mark Anthony. Ia memerintahkan pelayannya membawanya ke Caieta, kini Gaeta, tempat dia memiliki vila.

Pembunuhnya datang ke vila itu. Herennius tidak sendiri. Ia ditemani Popillius, yang pernah dituntut karena pembunuhan dan dibela Cicero.

Keduanya mendobrak pintu, tapi tidak menemukan Cicero. Yang ada adalah para pembantu. Herennius dan Popillus menahan semuanya.

Seorang pemuda, yang dididik Cicero, memberi tahu Popillus bahwa Cicero dibawa menerobos jalanan hutan menuju laut. Popillus membawa beberapa prajurit berlari menuju pintu keluar. Herennius lari melewati jalanan hutan. Di sini, kisah Cicero berakhir tragis.

Cicero mati, tapi namanya abadi. Peradaban Barat berutang banyak padanya, terutama Bahasa Latin.

Back to top button