MoronVeritas

Tiga Target Serangan AS – Israel ke Iran

Di saat meja perundingan di Jenewa masih hangat, langit Iran justru membara. Sabtu pagi, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan berskala besar yang menyasar fasilitas nuklir hingga pusat komando di jantung kota Tehran.

WWW.JERNIH.CO – Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, menandai eskalasi militer paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Operasi yang oleh pihak AS diberi kode “Operation Epic Fury” dan oleh Israel disebut sebagai “Operation Shield of Judah” (atau Roaring Lion), melibatkan gelombang serangan udara yang dimulai pada pagi hari sekitar pukul 08:10 waktu setempat.

Serangan ini mengejutkan banyak pihak karena dilakukan di siang hari bolong untuk memaksimalkan elemen kejutan terhadap sistem pertahanan udara Iran yang biasanya lebih siaga pada malam hari.

Laporan dari berbagai sumber intelijen dan media internasional menunjukkan bahwa target serangan sangat spesifik dan mencakup instalasi strategis di berbagai kota besar seperti Tehran, Isfahan, Karaj, dan Tabriz.

Fokus utama serangan adalah fasilitas nuklir, situs-situs krusial di Natanz, Fordow, dan Isfahan menjadi sasaran utama guna melumpuhkan kemampuan pengayaan uranium Iran.

Selain itu pusat komando dan pemerintahan. Rudal menghantam kawasan Jalan Jomhuri dan Jalan Daneshgah di Tehran, termasuk area di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan kompleks kepresidenan (Jalan Pasteur).

Kemudian infrastruktur militer di mana gudang penyimpanan rudal balistik, fasilitas produksi drone, serta markas besar intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Gelombang pertama serangan difokuskan untuk melawan sistem pertahanan udara dengan membutakan radar dan melumpuhkan baterai pertahanan udara guna membuka jalan bagi pesawat pengebom.

Meskipun jumlah pasti misil yang diluncurkan masih dalam tahap verifikasi, laporan awal menyebutkan adanya puluhan serangan yang dilakukan secara simultan. AS mengerahkan kekuatan dari gugus tempur pembawa pesawat USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, sementara Israel mengerahkan sebagian besar armada jet tempur silumannya.

Presiden Donald Trump dalam pernyataannya menyebut ini sebagai “operasi tempur besar” yang bertujuan untuk menghilangkan ancaman langsung terhadap sekutu AS dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pejabat pertahanan Israel menyatakan bahwa fase awal ini bisa berlangsung selama beberapa hari dan akan jauh lebih besar dibandingkan konflik singkat sebelumnya.

Hal yang paling memicu perdebatan adalah waktu serangan yang dilakukan saat perundingan nuklir antara Iran dan AS di Jenewa sebenarnya sedang berlangsung dan menunjukkan “kemajuan signifikan” menurut mediator Oman. Namun, terdapat beberapa alasan strategis di balik keputusan mendadak ini.  Trump menyatakan “tidak bahagia” dengan progres negosiasi, menganggap tuntutan Iran untuk keringanan sanksi tanpa penghentian total program nuklir sebagai hal yang tidak dapat diterima.

Sesaat sebelum serangan, IAEA mengeluarkan resolusi yang menyatakan Iran tidak patuh terhadap kewajiban nuklirnya, yang memberikan dasar legitimasi bagi “serangan pencegahan” (preemptive strike).

Berbeda dengan serangan sebelumnya yang bersifat terbatas, retorika dari Washington dan Yerusalem kali ini secara terang-terangan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan melakukan perubahan rezim, menganggap diplomasi hanya sebagai taktik penguluran waktu oleh Tehran.

Situasi saat ini tetap sangat cair, dengan Iran yang telah bersumpah untuk memberikan “balasan yang menghancurkan” dan beberapa rudal dilaporkan sudah mulai diluncurkan ke arah wilayah Israel dan pangkalan AS di Bahrain sebagai bentuk retalinasi.(*)

BACA JUGA: Iran Umumkan Pembalasan, Targetkan Tel Aviv dan Daerah Lainnya

Back to top button