POTPOURRI

Apa Pemicu Cuaca Panas?

Cuaca panas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah posisi semu matahari yang berada di sekitar khatulistiwa, sehingga intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia sedang berada pada titik maksimum. Selain itu, minimnya tutupan awan turut memperparah kondisi. Langit yang cenderung cerah membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

JERNIH-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan tentang dinamika iklim dan musim kemarau saat ini yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan. Termasuk dampak pada kesehatan

BMKG menyebut suhu udara di Jabodetabek mengalami peningkatan signifikan. Prakirawan cuaca BMKG Rira Damanik mengungkapkan suhu maksimum terpantau mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius, terutama di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya.

Panas ekstrim tersebut beresiko menyebabkan dehidrasi hingga head stress. Oleh sebab itu Rira mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap cuaca panas ekstrem tersebut. 

“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, karena paparan panas yang ekstrem ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan serius seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat stress), hingga risiko gangguan pernapasan akibat polusi udara yang cenderung meningkat saat kondisi kering,” jelas Rira.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga kondisi tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik, menggunakan penutup kepala atau pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi kontak langsung dengan sinar matahari pada jam-jam puncak,”  katanya menambahkan.

Dijelaskan BMKG bahwa cuaca panas ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah posisi semu matahari yang berada di sekitar khatulistiwa, sehingga intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia sedang berada pada titik maksimum. Selain itu, minimnya tutupan awan turut memperparah kondisi. Langit yang cenderung cerah membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

Kemudian juga adanya dominasi angin timuran yang berasal dari Australia. Angin ini bersifat kering dan menghambat pembentukan awan, khususnya di wilayah selatan ekuator, termasuk Jabodetabek. BMKG memprediksi cuaca panas dan terik masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. (tvl)

Back to top button