POTPOURRI

Kabais TNI Letjen Yudi Abrimantyo Mundur Buntut Kasus Andrie Yunus

Dari kawah candradimuka Kopassus hingga puncak tertinggi Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, karier Letjen TNI Yudi Abrimantyo tampak tak tergoyahkan. Namun, sebuah serangan air keras di jantung Jakarta mengubah segalanya.

WWW.JERNIH.CO – Peristiwa pengunduran diri sekaligus penyerahan jabatan yang mendadak dari Letnan Jenderal (Letjen) TNI Yudi Abrimantyo menandai babak baru rentetan kasus oknum BAIS TNI yang melakukan penyiraman air keras kepada Andrie Yunus.

Pada Rabu, 25 Maret 2026, Mabes TNI secara resmi mengumumkan bahwa Yudi telah menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Langkah drastis ini diambil bukan karena rotasi rutin, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban komando atas keterlibatan bawahannya dalam kasus kriminal serius, yakni penyiraman air keras terhadap seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Sosok Yudi Abrimantyo sendiri merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang sejak awal kariernya ditempa di lingkungan pasukan khusus. Sebagai lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1989 dari kecabangan Infanteri, ia langsung bergabung dengan satuan elite Kopassus. Di korps baret merah inilah fondasi kepemimpinan dan mentalitas intelijennya terbentuk.

Mengawali karier sebagai Komandan Peleton di Grup 1 Kopassus Serang, Yudi kemudian menempuh berbagai pendidikan spesialisasi yang keras, mulai dari komando, terjun payung, hingga kursus penembak runduk. Selama dekade 90-an, ia terlibat aktif dalam operasi pengamanan wilayah konflik seperti di Timor Timur dan Aceh, yang mengasah kemampuannya dalam melakukan human intelligence di zona merah.

Memasuki milenium baru, karier Yudi bergerak ke arah manajerial dan taktis yang lebih kompleks. Ia pernah menduduki posisi strategis di lingkungan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan dan bertugas di Satuan-81 Penanggulangan Teror (Sat-81 Gultor) sebagai staf intelijen.

BACA JUGA: Kabais TNI dan Kasum TNI Resmi Berganti

Setelah menyelesaikan Pendidikan Reguler Seskoad Angkatan XLI pada tahun 2003, ia sempat ditarik ke jalur teritorial dengan menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim). Pengalaman teritorial ini memaksanya belajar mengelola intelijen sosial dan berinteraksi dengan dinamika politik masyarakat sipil, sebuah keahlian yang jarang dimiliki oleh perwira yang murni besar di satuan tempur.

Transisi Yudi menjadi ahli intelijen strategis semakin nyata saat ia mulai mengisi posisi analisis di level pusat. Antara tahun 2016 hingga 2018, ia menjabat sebagai Paban Utama A-5 Direktorat A BAIS TNI yang membawahi urusan kerja sama intelijen internasional.

Keahliannya dalam memetakan geopolitik kawasan membawanya menduduki jabatan Bandep Urusan Sosbud Setjen Wantannas, hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan (Kabainstrahan) di Kementerian Pertahanan pada periode 2021-2024. Puncaknya, pada Maret 2024, ia dilantik menjadi Kepala BAIS TNI dengan pangkat bintang tiga, sebuah posisi yang menempatkannya sebagai mata dan telinga utama Panglima TNI.

Namun, karier cemerlang selama 37 tahun tersebut menemui titik nadir yang tragis akibat kasus penyerangan terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Pada pertengahan Maret 2026, Andrie menjadi korban penyiraman air keras saat berkendara di kawasan Jakarta Pusat.

Penyelidikan internal TNI mengungkap fakta mengejutkan mengenai keterlibatan empat anggota BAIS TNI, yakni Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Meskipun belum ada bukti publik yang mengaitkan Yudi sebagai aktor intelektual langsung, penyerahan jabatannya dinyatakan oleh Mabes TNI sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan komando atas tindakan brutal yang dilakukan oleh oknum di bawah kepemimpinannya.

Padahal, di bawah kepemimpinan Yudi, BAIS tengah melakukan revitalisasi besar-besaran untuk menghadapi ancaman hibrida dan siber. Keahliannya dalam analisis geopolitik dan kontra-intelijen diakui sangat mumpuni dalam menjaga kedaulatan negara.

Namun, keterlibatan personel intelijen dalam aksi kekerasan sipil dianggap sebagai kegagalan fatal dalam menjaga disiplin internal. Pengunduran diri Letjen Yudi Abrimantyo kini menjadi pengingat keras bagi institusi militer bahwa integritas dan perlindungan terhadap warga sipil adalah harga mati yang bahkan melampaui jabatan tertinggi seorang jenderal sekalipun.(*)

BACA JUGA: Titik Terang Kasus Andrie Yunus, Diduga Oknum Pelaku dari BAIS TNI

Back to top button