
Kami berhenti di dekat sebuah makam besar, agak terpisah. Salib besi. Cat putih mengelupas. Nama hampir tak terbaca. “Ini,” kata Ujen. “Ini makamnya.” Angin lewat. Terdengar bunyi. Krek. Seperti ranting patah. Krek. Sekali lagi. Lebih dekat. Lalu dari kejauhan, muncul sosok. Putih. Tinggi. Pelan. Sosok itu mendekat. Langkahnya berat.
Oleh : Geisz Chalifah

JERNIH– Saat kelas satu SMA, sebelum penjurusan, ada seorang guru yang diperbantukan dari IKIP Jakarta—sekarang Universitas Negeri Jakarta–ke SMA 7. Saya lupa namanya. Dia masih mahasiswa, mengajar Fisika.
Entah karena cara mengajarnya, atau karena kepintarannya, saya jadi tertarik pada fisika. Saya belajar sungguh-sungguh: rumus gerak lurus beraturan, rumus gerak lurus berubah beraturan (GLBB). Namun hampir selalu, hasil akhirnya salah.
Suatu hari dia berkata “Rumus kamu sudah benar. Jalannya juga benar. Cuma kamu terlalu terburu-buru menghitung angka terakhir.” Kalimat sederhana, tapi membekas.
Dia masih muda. Menginspirasi. Kami hanya bertemu sekitar enam bulan. Setelah itu saya tak pernah tahu lagi kabarnya. Satu hal yang saya ingat betul: “Segala sesuatu ada penjelasan rasionalnya.” Sambil menjelaskan hukum-hukum fisika, dia menanamkan itu di kepala saya.
Bertahun-tahun kemudian, saya membaca apa saja. Cerpen, novel, sejarah, kisah anak sungai, sebab akibat peristiwa. Apa pun yang menarik.
Tapi entah kenapa, rumus kimia dan biologi tak pernah mau tinggal lama di kepala. Mungkin karena otak saya memang terbatas. Namun satu kalimat itu menetap: Segala sesuatu ada penjelasan rasionalnya. Kalimat pendek itu kemudian ikut saya ke mana-mana. Bahkan ke peristiwa peristiwa konyol masa SMA.
Salah satunya bermula dari sebuah malam Minggu. Wawan punya pacar. Punya kewajiban ngapel. Tapi juga tak mau ketinggalan nongkrong. Maka dia memaksa kami, saya, Ujen, dan Marga, untuk menunggu di rumahnya, di Jalan Cimahi, Menteng.
Sejak sore, saat bubar sekolah, dia sudah mewanti wanti: malam ini kumpul di rumah. Tapi malamnya, dia sendiri belum ada. Kami disuruh menunggu oleh adiknya.
Lewat jam sembilan malam, Toyota Corolla 73 warna hijau itu muncul di depan garasi. Motor kami tinggalkan. Kami masuk mobil. Di jalan, saya berkata, “Gue mau ke Pasar Kaget Blok M dulu.”
Ujen langsung menolak,“Ngapain ke situ?” Marga memberi alternatif, “Ke Sabang aja. Deket. Malam banyak yang ngebut.” Waktu itu, Jalan Sabang sering jadi arena balap. Selain Jalan Jawa, HOS Tjokroaminoto.
Wawan tidak menjawab. Dia malah menginjak gas. Mobil melaju kencang. Tidak ke Blok M. Tidak juga ke Sabang. Semakin ke selatan, semakin masuk ke perkampungan. Jalan makin sepi.
Saya mulai curiga. “Kita mau ke mana, sih?” Ujen sudah paham. “Adu nyali,” katanya singkat. Saya masih belum mengerti.
Lampu jalan mulai hilang. Rumah penduduk jarang. Gelap. Lalu muncul papan: Pemakaman Jeruk Purut. Saya langsung teriak, “Eh, gila. Ngapain ke sini? Mau pacaran sama kuntilanak?” Wawan tertawa. Ujen tersenyum. “Kita mau lihat pastur buntung.”
Legenda pastur buntung punya banyak versi. Saya tak pernah tertarik. Tak pernah percaya. Kalimat guru fisika itu terlanjur lengket: Segala sesuatu ada penjelasan rasionalnya.
Di dalam mobil, perdebatan anak SMA berlangsung. Antara yang percaya hal gaib, dan yang merasa rasional, meski otaknya belum sepenuhnya berfungsi.
Ujen menantang, “Kalau lu nggak percaya, turun.” Marga, tenang tapi nekat, membuka pintu. Turun. Saya ikut turun.
Lampu mobil menerangi area makam. Bayangan nisan. Pohon pohon gelap. Udara sepi. Dingin. Wawan mematikan lampu. Gelap. Kami berjalan pelan. Tanah sedikit lembap. Rumput jarang dipotong. Di beberapa bagian, nisan miring seperti sudah lelah berdiri.
Mobil makin jauh makin tidak terlihat. Bayangan kami memanjang lalu patah. Tak ada suara. Kecuali langkah kaki kami sendiri. Dan napas.
“Katanya muncul jam segini,” bisik Marga.
“Jam segini jam berapa?” saya balik bertanya.
“Jam, jam rawan,” jawabnya, ragu.
Saya hampir tertawa. Jam rawan itu apa? Dalam fisika, waktu tidak punya mistik.
Kami berhenti di dekat sebuah makam besar, agak terpisah. Salib besi. Cat putih mengelupas. Nama hampir tak terbaca. “Ini,” kata Ujen. “Ini makamnya.” Saya mendekat. Membaca tulisan yang tersisa. Tanggal lahir. Tanggal wafat. Tak ada yang aneh. Orang mati, dikubur. Selesai.
Ujen mulai bercerita. Versinya tentang pastur buntung. Tentang kecelakaan. Tentang kepala yang putus. Tentang arwah yang gentayangan.
Saya memotong, “Kalau kepalanya putus, dia mestinya sudah mati total.” Marga melirik saya,“Lu jangan ngerusak suasana.”
Angin lewat. Daun bergerak. Terdengar bunyi. Krek. Seperti ranting patah. Kami semua diam. Napas tertahan. Gelap. Saya merasakan jantung saya naik satu tingkat.
Otak saya bekerja cepat. Hewan kecil. Kucing. Tikus. Angin. Pilih salah satu.
Krek. Sekali lagi. Lebih dekat. Marga berbisik,“Bangke…”
Wawan mundur setengah langkah. Saya berhenti lalu memandang sekeliling. Bukan karena berani. Karena kaki saya kaku.
Lalu dari kejauhan, muncul sosok. Putih. Tinggi. Pelan. Kami semua refleks mundur. Marga hampir jatuh. Wawan memegang bahu saya. Ujen mematung. Saya menelan ludah.
Sosok itu mendekat. Langkahnya berat. Saya perhatikan. Pelan pelan. Kepalanya menunduk. Bajunya kotor. Bukan melayang. Tidak tembus tanah. Kakinya menginjak rumput.
“Pak…” saya spontan berkata. Suara saya pecah. Sosok itu berhenti.
Mengangkat kepala. Wajah tua. Keriput. Mata lelah. “Ngapain kalian malam-malam di sini?” katanya. Suara manusia. Biasa. Penjaga makam. Katanya, ada laporan anak-anak sering masuk malam-malam.
“Nyari setan, ya?” katanya sambil senyum tipis. Tak ada yang menjawab. Kami kembali ke mobil. Lebih cepat. Tak ada yang bicara. Tak ada yang bercanda.
Di dalam mobil, Wawan berkata,“Gila, hampir aja.” Ujen diam. Marga menatap kaca. Saya memandang jalan. Kalimat guru fisika itu muncul lagi: Segala sesuatu ada penjelasan rasionalnya.
Malam itu, sekali lagi, terbukti. Tapi saya tahu, besok lusa mereka akan tetap cari cerita seram lain. Tetap berburu hantu. Tetap percaya dongeng. Tetap menguji nyali. Karena bagi sebagian orang, takut memang lebih seru daripada berpikir. [ ]






