
Buku ini disebut sebagai buku puisi pertama di Indonesia yang secara utuh mengangkat sejarah dan budaya Tionghoa Peranakan melalui medium puisi. Peluncuran dihadiri sejumlah tokoh sastra, budayawan, akademisi, serta komunitas literasi Betawi dan Tionghoa. Dalam acara tersebut tampil sebagai pembicara Chairil Gibran Ramadhan (penulis dan peneliti), Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Tempo), serta Nuthayla Anwar (penyair dan Wakil Rektor UIA Al Ghurabba).
JERNIH— Setelah tertunda hampir sembilan tahun, buku puisi “Tjenté Manis Hoedjan Gerimis” karya Chairil Gibran Ramadhan akhirnya akan resmi diluncurkan Jumat, 23 Januari 2026, di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.
Buku ini disebut sebagai buku puisi pertama di Indonesia yang secara utuh mengangkat sejarah dan budaya Tionghoa Peranakan melalui medium puisi. Peluncuran dihadiri sejumlah tokoh sastra, budayawan, akademisi, serta komunitas literasi Betawi dan Tionghoa.
Dalam acara tersebut tampil sebagai pembicara Chairil Gibran Ramadhan (penulis dan peneliti), Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Tempo), serta Nuthayla Anwar (penyair dan Wakil Rektor UIA Al Ghurabba). Diskusi dipandu M. Syakur Usman dari Forum Jurnalis Betawi dan Muhammad Sartono dari Sahabat Budaya Indonesia, dengan pembacaan doa oleh KH Rakhmad Zailani Kiki dari MUI Jakarta.
Sejumlah tokoh turut memberi sambutan, di antaranya Aba Mardjani (wartawan senior), Diki Lukman Hakim (Kepala PDS HB Jassin), M. Rizal Moen’im (Betawi Institute), Prof. Yasmine Zaki Shahab (FISIP UI), serta Prof. Edi Sukardi (UHAMKA) yang sekaligus memberikan hibah 10 eksemplar buku kepada penyelenggara.

Pembacaan puisi dilakukan oleh Djuhairiyah RM, Giyanto Subagiyo, Putra Gara, Sam Mukhtar Chaniago, Sihar Ramses Simatupang, dan Prof. Tuti Tarwiyah Adi.
“Wapen van Holland”—buku lain dalam seri yang sama—pernah mendapat endorsement dari sastrawan Cecep Syamsul Hari, yang menilai Chairil Gibran Ramadhan sebagai sastrawan yang berani menempatkan dirinya “dalam pusaran historisitas bangsanya”. Menurut Cecep, CGR menggunakan puisi bukan sebagai permainan bahasa semata, melainkan sebagai medium riset sejarah, budaya, dan identitas Betawi.
CGR sendiri dikenal sebagai cerpenis dan esais yang sejak lama meneliti sejarah Betawi dan Batavia. Kumpulan cerpen perdananya, “Sebelas Colen di Malam Lebaran” (2008), memperlihatkan eksplorasi ragam ejaan, dialek Betawi, serta pendekatan realis dan surealis yang jarang ditemui pada penulis Betawi generasi sebelumnya.
Dalam proyek besarnya, CGR merencanakan menerbitkan 11 buku puisi yang ditulis sejak 1996 hingga 2006. Selain Tjenté Manis Hoedjan Gerimis, seri tersebut meliputi Koningin van het Oosten, Batavia Oud en Nieuw, Bataviastraat, Wapen van Holland, Passer Gambier, Mesigit, Graaf de Hollanders, Dajoeng Sampan Dibawah Boelan, Moealim, dan Gedong Bitjara.
Sempat Mandek Hampir Satu Dekade
Tjenté Manis Hoedjan Gerimis sejatinya direncanakan terbit pada 11 September 2017. Namun rencana itu tak pernah terwujud karena kendala pendanaan. Berbagai upaya mencari sponsor, baik ke lembaga pemerintah maupun swasta, tidak membuahkan hasil.
CGR dan Penerbit Padasan bahkan sempat menjajaki kerja sama dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Dua kali pertemuan resmi dilakukan, termasuk pada April 2025, namun seluruhnya berakhir tanpa realisasi.
Dalam konteks ini, sejarawan Mona Lohanda pernah menyebut sulitnya mendapatkan dukungan bagi karya-karya sejarah dan budaya. “Orang kita pemikirannya memang baru sampai pada urusan perut ke bawah, bukan dada ke kepala,” katanya, merujuk minimnya apresiasi terhadap kerja intelektual.
Baru pada 2026, buku ini akhirnya dapat diterbitkan secara mandiri oleh Penerbit Padasan.
Diapresiasi Pengamat Sastra
Pengamat budaya Tionghoa-Peranakan, David Kwa, menilai “Tjenté Manis Hoedjan Gerimis” sebagai karya penting karena memadukan sejarah Batavia dan Jakarta dengan puisi yang berbasis riset lapangan, pustaka, serta wawancara. Menurutnya, buku ini memperlihatkan bahwa CGR telah lebih dahulu menulis “puisi esai” jauh sebelum istilah itu populer di Indonesia.
Sementara itu, pengamat sastra Eka Budianta menyebut buku ini memperkaya perspektif pembaca tentang perbedaan identitas, bahasa, dan ingatan sejarah. Ia menilai karya CGR memberi “perspektif waktu, perspektif tempat, dan cara berpikir yang berbeda”.
Peluncuran buku ini merupakan hasil kerja sama Penerbit Padasan dan PDS HB Jassin, didukung Betawi Institute, PSB UHAMKA, Forum Jurnalis Betawi, Komunitas Literasi Betawi, Sahabat Budaya Indonesia, serta Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies.
Sebanyak 25 media menjadi mitra publikasi, di antaranya Sinar Harapan, Majalah Jakarta, jernih.co, Pos Kota, Harian Terbit, Sinar Pagi, hingga Kabar Betawi.
Dengan terbitnya “Tjenté Manis Hoedjan Gerimis”, CGR tidak hanya meluncurkan sebuah buku puisi, tetapi juga menghadirkan kembali arsip sejarah Tionghoa Peranakan ke ruang sastra Indonesia—dalam bentuk yang tidak kering, tidak akademik, dan tetap berpijak pada kerja riset. Sebuah buku yang berdiri di antara sastra, sejarah, dan ingatan kolektif kota bernama Jakarta. [rls]






