POTPOURRI

Venezuela, Negeri Superkaya yang Terjebak Kutukan Sumber Daya

Cadangan minyak terbesar dunia, emas berlimpah, hingga mineral strategis bagi teknologi global tersimpan di Venezuela. Namun alih-alih makmur, negara ini justru tenggelam dalam krisis kemanusiaan, konflik politik, dan tarik-menarik kepentingan global.

WWW.JERNIH.CO – Venezuela kerap disebut sebagai “paradoks Amerika Latin”—sebuah negeri yang seolah berdiri di atas tumpukan harta karun, namun rakyatnya justru bergulat dengan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Di satu sisi, tanahnya menyimpan energi dan mineral strategis yang menjadi tulang punggung industri global. Di sisi lain, negara ini runtuh oleh konflik politik, salah kelola ekonomi, dan tekanan geopolitik.

Ketegangan dengan Amerika Serikat yang memuncak hingga aksi militer langsung menegaskan satu hal: kekayaan Venezuela bukan sekadar berkah, melainkan sumber konflik yang terus membara.

Selama dua dekade terakhir, arah politik Venezuela dibentuk oleh Chavismo, ideologi warisan Hugo Chávez yang mengusung “Sosialisme Abad ke-21”. Setelah Chávez wafat, Nicolás Maduro melanjutkan kekuasaan sejak 2013 dengan bertumpu pada loyalitas militer dan kontrol negara atas sektor-sektor strategis.

Namun legitimasi pemerintahan ini terus dipersoalkan, baik di dalam negeri maupun oleh komunitas internasional. Krisis politik mencapai titik kritis pada awal Januari 2026, ketika operasi militer Amerika Serikat—Operation Absolute Resolve—berujung pada penangkapan Maduro atas tuduhan konspirasi narkoterorisme. Peristiwa ini menciptakan kekosongan kekuasaan dan membuka babak baru ketidakpastian tentang masa depan politik Venezuela.

Di balik gejolak tersebut, Venezuela sesungguhnya adalah “brankas emas” dunia. Negara ini memegang cadangan minyak terbukti terbesar di planet ini—sekitar 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi.

Sebagian besar berada di Sabuk Orinoco, wilayah dengan minyak berat dan ekstra berat yang memang mahal diolah, namun nilainya strategis luar biasa. Jika suatu hari produksi kembali normal, Venezuela berpotensi mengguncang harga energi global. Tak hanya minyak, cadangan gas alamnya termasuk yang terbesar di Amerika Latin, menjadikannya incaran di tengah krisis energi dunia.

Kekayaan Venezuela tidak berhenti pada energi fosil. Di selatan negeri ini terbentang Arco Minero del Orinoco, zona tambang raksasa seluas lebih dari 111.000 kilometer persegi. Di sinilah emas, besi, bauksit, intan, hingga koltan—mineral vital bagi ponsel pintar dan perangkat elektronik—tersimpan dalam jumlah luar biasa.

Bahkan, terdapat indikasi cadangan torium yang di masa depan bisa menjadi bahan bakar nuklir alternatif yang lebih bersih. Kekayaan ini menjadikan Venezuela bukan hanya penting secara ekonomi, tetapi juga strategis dalam persaingan teknologi dan energi global.

Ironisnya, limpahan sumber daya ini tidak menjelma menjadi kesejahteraan. Ekonomi Venezuela justru ambruk. Hiperinflasi menghancurkan daya beli, dengan proyeksi 2026 masih berada di kisaran tiga digit.

Lebih dari 90% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, kekurangan pangan, obat-obatan, listrik, dan air bersih. Utang luar negeri yang menembus 160% PDB membuat negara ini tercekik secara finansial. Inilah paradoks paling menyakitkan: kemiskinan massal di negeri yang mengapung di atas minyak dan emas.

Ketika sanksi Amerika Serikat melumpuhkan sektor minyak PDVSA, pemerintah Venezuela beralih ke emas sebagai mata uang bayangan. Berton-ton emas diduga dikirim secara rahasia ke Turki, Iran, dan Uni Emirat Arab untuk ditukar dengan uang tunai, pangan, dan suku cadang industri—semua di luar sistem perbankan internasional.

Emas menjadi sumber likuiditas instan yang sulit dilacak, sekaligus simbol bagaimana kekayaan alam digunakan untuk bertahan hidup di tengah isolasi global.

Koltan menambah lapisan ketegangan geopolitik. Mineral langka ini sangat dibutuhkan industri teknologi global, namun banyak koltan Venezuela keluar melalui pasar gelap lewat Kolombia dan Brasil.

Amerika Serikat waspada jika cadangan ini jatuh ke kendali penuh China, yang sudah mendominasi rantai pasok mineral strategis dunia. Di sisi lain, laporan intelijen tentang potensi uranium dan torium di selatan Venezuela memicu kekhawatiran lain: kemungkinan kerja sama dengan Iran yang dapat menyeret isu nuklir ke halaman belakang Amerika.

Pada akhirnya, kisah Venezuela adalah pelajaran pahit tentang bagaimana kekayaan tanpa tata kelola dapat berubah menjadi kutukan. Minyak, emas, gas, dan mineral langka yang seharusnya menjadi fondasi kemakmuran justru menjelma sumber konflik internal dan perebutan global.

Venezuela bukan kekurangan harta—ia hanya kekurangan stabilitas, kepercayaan, dan arah.(*)

BACA JUGA: Mengapa Trump Terobsesi Menjatuhkan Presiden Venezuela Maduro?

Back to top button