Puisi

5 PUISI BINTANG PRAKASA

MATI LEBIH DULU

Kekasihku,
Jika aku mati lebih dulu
Maukah engkau datang ke kuburanku dan membacakan puisi untukku.

Jika aku bangun dari kuburku
Apakah engkau masih mau bersamaku
Dengan segala kotor yang menempel pada badanku.

Jika aku mati lebih dulu
Izinkan aku mati bersama tumpukan buku-buku favoritmu
Agar dapat selalu menemanimu dan bacalah aku saat kesedihan menghantuimu.


CATATAN REDAKSIONAL

Jika Aku Mati Lebih Dulu, Tolong Baca Puisiku Pelan-Pelan

oleh IRZI Risfandi

Cinta macam apa yang masih minta dibacakan puisi dari dalam liang kubur? Itulah inti dari puisi “Mati Lebih Dulu” karya Bintang Prakasa, yang dengan polos dan getir bertanya: Jika aku mati duluan, maukah kamu tetap datang dan membacakan aku puisimu? Bukan hanya soal rindu yang tak sempat tuntas, puisi ini adalah semacam wasiat perasaan—cinta yang ingin tetap hidup bahkan saat tubuh tak lagi ada, bahkan ketika sudah “kotor” oleh tanah dan waktu. Dalam tiga bait sederhana, Bintang menghantam kita dengan pertanyaan paling jujur dari hati yang takut dilupakan: apakah cinta bisa bertahan melampaui kematian—dan lebih penting lagi, apakah kamu masih mau bertahan bersamaku, bahkan saat aku tak lagi bisa cantik, wangi, atau utuh?

Bintang menulis seperti seseorang yang benar-benar membayangkan bagaimana rasanya mati sebelum orang yang ia cintai. Tapi bukannya menyuarakan keputusasaan, ia justru menawarkan bentuk cinta yang agak nyeleneh: cinta yang ingin tetap hadir sebagai tumpukan buku, sebagai puisi yang dibacakan di atas makam, sebagai kehadiran yang bersedia tetap “kotor” asal tidak dilupakan. Ini bukan cinta yang ingin dikenang karena indahnya, tapi karena keakrabannya dengan luka. Dan di situlah kekuatannya—ia mengajak kita menyentuh luka tanpa drama berlebihan, cukup dengan ketulusan dan sedikit absurditas romantik.

Ada nuansa emo vintage dalam puisi ini—campuran antara pengakuan personal ala Tumblr era 2012 dan sentimen puisi tahun-tahun awal Chairil Anwar: mencintai dengan gelap, dengan getir, tapi dengan sepenuh hati. Kita bisa mendengar gema pertanyaan: “Jika aku bangun dari kuburku, apakah engkau masih mau bersamaku dengan segala kotor yang menempel pada badanku?”—sebuah kalimat yang kedengaran seperti dialog film indie, tapi juga semacam ujian cinta paling jujur: maukah kau mencintaiku bahkan setelah aku tak bisa tampil cantik lagi?

Sebagai penulis muda yang masih dalam fase “membiasakan diri dengan menulis dan membaca,” seperti tertulis di biodatanya, Bintang Prakasa, kelahiran Jakarta tahun 2003, tampaknya sedang menggali tanah subur dari dua hal paling manusiawi: kehilangan dan keabadian. Ia menyusun puisinya tanpa banyak metafora rumit atau permainan diksi yang berlebihan. Tapi justru dari situ, puisinya terasa bersih, lirih, dan benar-benar dari hati. Dan jika ditarik lebih jauh, ada kritik halus pada cara kita memandang cinta dan kematian sebagai dua hal yang harus selalu indah dan puitis, padahal kadang cinta justru lebih nyata ketika ia berani kotor, berani hancur, dan tetap meminta dipeluk.

Mati Lebih Dulu bukan puisi yang ingin kita baca di hari yang cerah sambil minum es kopi. Ini adalah puisi yang tepat dibaca ketika hati terasa sunyi, saat kita rindu tapi tak tahu kepada siapa. Bintang Prakasa menunjukkan bahwa puisi bukan soal seberapa banyak kata indah yang bisa dirangkai, tapi seberapa tulus dan berani kita bertanya: Kalau aku pergi duluan, maukah kau tetap mencintaiku meski lewat puisi? Dan dalam diam, siapa tahu kita menjawab: ya. Pelan-pelan saja.

2025


KEPADANYA

Akhir-akhir ini kecemasan, kehilangan, dan kepahitan mencoba menabrak diriku tanpa peringatan. Doa-doa mulai beterbangan, berhamburan, dan berserakan pada pukul dua malam. Tanpa sadar air mata sudah menetes di kedua tangan. Aku kembali meringkuk, menangis, dan meraung menahan rasa sakit serta derita yang berlalu-lalang di dalam kepala tanpa kenal lelah untuk menyayat hidupku dengan pelan.


BERSAMANYA

Dengan segala lebam dan nanah yang pernah menempel dalam hidupku ini, aku akan tetap bersama gelap, sepi, luka, duka, sakit, perih, cemas, takut, tangis, marah, dan segala kepahitan yang selama ini menemaniku dengan kekal.


MEMBASUHNYA

Aku membasuh segala getir yang telah lama melekat di kedua tangan, mulut, hidung, muka, wajah, siku, kepala, telinga, hingga mata kaki. Dengan harap kengerian, keputusasaan, dan kepahitan itu luruh bersama air-air yang sedang mengaliri tubuhku ini.


MENUNGGUNYA

Aku akan menunggu hingga dirimu tenang tak lagi menampung keresahan orang-orang. Karena aku ingin mengadu, memaki, menentang, dan mungkin menusuk dirimu sebab telah menjebloskan diriku dalam hidup yang penuh rasa sakit, perih, pahit, dan juga palsu.


BIODATA :

Bintang Prakasa, lahir di Jakarta pada tahun 2003. Ia adalah penulis muda yang sedang membiasakan diri untuk menulis dan membaca sebagai bagian dari perjalanan kreatifnya. Dapat disapa melalui Instagram: @bintangprakasaa.

Check Also
Close
Back to top button