Puisi

5 PUISI MUQSID MAHFUDZ

SILSILAH SIANG MALAM

/1/
Konon, siang dan malam
Dibuat Tuhan untuk dipikirkan
Tapi malam masih melelahkan
Siang justru membingungkan
Dimana tidur harus dipaksa
Dan kita tidak sengaja bekerja
Tepat dimana tubuh dan karya
Berebut cinta

/2/
Hari ini gelapnya malam
Tidak lagi membutakan
Wanita telah sibuk bekerja
Lelaki makin banyak fungsi
Sehingga Ayam tidak lagi merebut rejeki
Tapi kasih sayang kini ditoreh binatang

/3/
Kadang siang terlalu kikuk
Untuk mengikuti pagi
Ia bertemu sore dan petang
Di ujung ketidaksadaran
Bahkan cenderung khawatir
Akan lumpuh sebelum berjalan

/4/
Selagi bulan menelan habis matahari
Akan terus ada bunyi keraguan
Tapi biarlah hidup menyeka diri
Waktu akan menatap baik upaya
Sebelum tubuh tiba-tiba di usia tua
Atau sekedar menjadi denyut
Yang memanggil-manggil maut

Bukan balsem atau alat pijat
Yang menyembuhkan nyeri hidup
Tapi cairan hari yang kau oleskan
di hati dan sekian jejak kaki

Pamekasan, 2025


CATATAN REDAKSIONAL

Silsilah Siang Malam dan Nyeri Hidup yang Tak Bisa Dipijat


oleh IRZI Risfandi

Kalau kamu mengira puisi hanya soal rima yang romantis atau curhatan cinta nan galau, maka puisi “Silsilah Siang Malam” karya Muqsid Mahfudz akan menyeretmu dengan sopan ke ruang baca yang jauh lebih satir, kontemplatif, dan sedikit… usil. Dengan bahasa yang seperti berceloteh di beranda pesantren sambil menyeruput kopi hitam, Muqsid membuka puisi ini dengan pertanyaan filosofis yang dibungkus gaya ala ngabuburit eksistensial: siang dan malam konon diciptakan untuk dipikirkan, tapi kok malah makin bikin pusing kepala? Lirik pembukanya yang menggabungkan kerja, cinta, dan tidur yang dipaksa ini seperti mengolok-olok sistem 9-to-5 modern yang seolah-olah ‘normal’, padahal jiwa manusia sedang krisis power bank spiritual.


Muqsid Mahfudz sendiri bukan penyair sembarangan—dia adalah santri dari Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, dan sedang menekuni Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di STAI Al-Anwar. Tapi jangan kira puisi-puisinya akan membebani kepala dengan kutipan klasik Arab atau nas-nas berat yang butuh kamus tebal. Justru, ia bermain-main dengan logika zaman sekarang dengan kelincahan bahasa yang meriah sekaligus reflektif. Lihat saja bait kedua: “Ayam tidak lagi merebut rezeki / Tapi kasih sayang kini ditoreh binatang”—kalau ini bukan satire terhadap ekonomi modern dan algoritma sosial media yang makin tidak adil soal kehangatan, lalu apa?


Dalam bait-bait selanjutnya, siang dan malam tak hanya jadi waktu, tapi karakter. Siang kikuk, pagi penuh ambisi, sore ambigu, malam penuh bunyi keraguan. Di tangan penyair lain, ini bisa jadi garing. Tapi Muqsid memberi mereka agency, membuat waktu tampak seperti teman tongkrongan yang insecure tapi tetap diajak nongkrong karena… ya, hidup tanpa mereka lebih membingungkan. Di baris “siang terlalu kikuk untuk mengikuti pagi,” seolah ia menyentil realitas generasi yang bangun siang tapi tetap ingin sukses—sebuah potret kekinian yang dikatakan lembut tapi bikin meringis.


Menjelang akhir, puisi ini meringsek masuk ke perenungan yang lebih gelap tapi tetap hangat. Saat “bulan menelan habis matahari”, kita diajak menatap maut bukan dengan kengerian, tapi dengan semacam kedewasaan yang agak pasrah tapi elegan. Dan justru di baris penutup, “bukan balsem atau alat pijat yang menyembuhkan nyeri hidup,” Muqsid mengingatkan kita bahwa terapi hidup yang sesungguhnya bukanlah di Shopee atau Tokopedia, tapi dalam “cairan hari”—waktu, perhatian, dan kepekaan hati. Ini bukan sekadar quote aesthetic untuk IG Story, tapi tamparan halus buat jiwa yang terlalu sibuk mengejar “produktif” tapi lupa hidup.


Dengan gaya yang sederhana tapi menggigit, Muqsid Mahfudz menciptakan puisi yang terasa seperti percakapan larut malam antara si eksistensialis dan si tukang warung kopi. Bukan untuk memecahkan hidup, tapi untuk memahami bahwa siang dan malam—seperti cinta dan pekerjaan, rindu dan rehat—adalah bagian dari silsilah kita sebagai makhluk yang, suka tidak suka, hidup di antara teka-teki dan pengingat bahwa waktu adalah hadiah, bukan ancaman.


2025


SEMACAM TUHAN

Sejak jadi nilai dan batas kebutuhan
Uang makin tegak di antara untung dan rugi
Sementara nurani menjadi tempat hiburan
Yang makin hari, kian sepi
Waktu enggan menolak menjadikannya tokoh
Dan hanya kepadanya, sesembahan buatan
Sudi menghamba
Peribadatan kian vertikal
Ketika pujian berdatangan
Singgasana kian kokoh
Di sekitar kelaparan
Sungguh Uang menjadi
Semacam Tuhan

Yogyakarta, 2023


MELIHAT GURU DI MATA UANG

Tak seperti dalam kamus
Guru beragam nilai ekonomis
Semuanya ingin mencipta
Yang lebih gagah dari masa
Sembari menepi dari hasratnya

Masa yang lepuh dari jerit buruh
Memasung mereka kembali ke sekolah
Berbicara anti lapar dan serakah
Yang bak air bah, dari bisnis
Dan politik yang narsis

Di luas sosmed yang sesak
Ketulusan adalah hal intim
Yang terlalu vertikal menjelma
Orang tua dimanapun mereka
Hanya saja, mata uang
Melihat mereka berbeda

Yogyakarta, 2023


BERGURU PADA WANITA

Guru, digugu dan ditiru
meski pada seonggok batu
Dan sejarah buktikan itu
Lalu Hadrah Readu
Menabuh wanita dengan cinta
Yang berbunyi perkasa

Di keruh nalar kita
Ada yang bergetar
Di mana bulu itu takut
Kehilangan wajah
Meski wanita hanya
Sekedar ingin duduk
Di kursi lama

Sarang, 2023


WANITA TANI

Nampak gigih nyalang mata mereka
Di gaduh tubuh, Di runcing mentari
Hingga selasar sore yang ranum
Di mana pematang membentang
Di dada mereka dengan lapang

Segerombolan wanita bercaping
Bergempita saat panen raya
Riuh gitanya ketika tani remaja
Mereka perkasa sejak peran dipilah paksa

Oh, keanggunan tidak dirajut dari benang
Kecantikan tidak selalu dinaungi perawatan
Keelokan juga tidak disemprot wewangian
Bahkan keperkasaan bukan diukur kelamin

Mereka tetaplah bidadari
Yang menyulap tanah indah
Sembari menghangati seisi rumah
Mimpi tidak diselip di stereotip
Tapi disulam di mega-mega
Di ujung pelangi, sepanjang hari
Mengulum fajar dari usia

Dowan, 2022


BIODATA :

Muqsid Mahfudz adalah santri di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, sekaligus mahasiswa Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di STAI Al-Anwar Sarang. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di sejumlah media cetak dan daring.

Check Also
Close
Back to top button