Kanker Joe Biden Kian Mengganas dan Menyebar ke Tulang

JERNIH – Mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengalami kondisi kesehatan yang memburuk akibat kanker prostat yang diidapnya. Kanker tersebut dilaporkan telah menyebar lebih jauh, sebagaimana diungkapkan oleh putranya, Hunter Biden, dalam wawancara terbaru bersama BBC.
Pada Mei 2025—hanya beberapa bulan setelah meninggalkan Gedung Putih sebagai orang tertua yang pernah menjabat sebagai presiden AS—Biden mengumumkan kepada publik bahwa ia didiagnosis mengidap kanker prostat jenis agresif.
Ia kemudian menjalani terapi radiasi dan hormon. Bulan lalu, Biden sempat menyampaikan kepada publik bahwa proses pengobatannya berjalan “sangat baik” berbarengan dengan pengumuman rencana peluncuran buku memoar terbarunya.
Berbicara kepada BBC Newsnight dalam wawancara yang ditayangkan pada Jumat malam, Hunter Biden mengungkapkan bahwa penyakit tersebut terus menggerogoti tubuh ayahnya meski penanganan medis telah dilakukan.
“Kankernya telah menyebar, telah bermetastasis ke tulang dan bagian tubuh lainnya,” ujar Hunter. “Ini sangat menyakitkan dan dalam banyak hal sangat melumpuhkan, tetapi ia tetap bertahan di luar sana. Ia masih terus beraktivitas; ia sangat percaya pada negara ini.”
Dalam beberapa momen wawancara, Hunter tampak emosional dan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. “Ini sangat, sangat berat, dan sungguh menyedihkan untuk disaksikan,” tuturnya. Ia menambahkan, “Satu-satunya hal yang ingin saya katakan tentang ayah saya dan kesehatannya saat ini adalah: saya berharap ia mau lebih banyak mengeluh, karena kondisinya memang tidak baik-baik saja.”
Saat pertama kali terdiagnosis, kanker Biden mengantongi Gleason score sebesar 9—sebuah tingkatan indikasi yang menunjukkan sifat sel kanker yang sangat agresif serta membuka kemungkinan bahwa penyakit tersebut telah lama menggerogoti tubuhnya tanpa terdeteksi.
Pakar medis eksternal, termasuk ahli onkologi dari University of Pennsylvania, Ezekiel Emanuel, menduga Biden kemungkinan telah hidup bersama sel kanker tersebut sejak awal masa kepresidenannya pada tahun 2021.
Kekhawatiran mengenai kapasitas fisik dan mental Biden memang terus membayanginya sepanjang bertugas di Gedung Putih hingga kampanye pencalonan kembalinya pada Pemilu 2024 yang ia mulai di usia 81 tahun. Penampilan debat yang menuai kritik tajam saat berhadapan dengan Donald Trump pada Juni tahun itu, dipadu desakan masif dari internal Partai Demokrat, akhirnya memaksa Biden mundur dari kontestasi. Donald Trump pada akhirnya mengalahkan kandidat penerus pilihan Biden, Wakil Presiden Kamala Harris, pada pemilu tersebut.
Sorotan Ulang Terhadap Masa Kepresidenan
Kabar duka mengenai kesehatan Biden ini muncul di tengah bergulirnya kembali tuduhan bahwa penurunan kondisi fisiknya sempat ditutup-tutupi sewaktu ia menjabat sebagai presiden.
Dalam buku terbitan 2025 berjudul “Original Sin”, jurnalis Jake Tapper dari CNN dan Alex Thompson dari Axios menghimpun lebih dari 200 wawancara dengan lingkaran dalam lingkaran istana. Mereka berargumen bahwa terdapat dua versi sosok Biden yang hadir berdampingan: presiden yang “berfungsi dengan baik” dan presiden yang “tidak berfungsi”, di mana para pembantunya bekerja keras menyembunyikan versi kedua dari pandangan publik.
Para penulis merunut pola pergeseran ini sejak 2019, ketika Biden kesulitan mengingat nama pembantu seniornya, Mike Donilon—sosok yang telah bekerja dengannya selama puluhan tahun. Namun, keseimbangan antara kedua sosok Biden tersebut dijelaskan memburuk secara drastis mulai musim gugur 2023.
Buku tersebut membeberkan insiden serupa yang melibatkan donor senior donor George Clooney, serta mengutip salah satu sumber yang menggambarkan kepresidenan Biden kala itu, paling banter, hanya berfungsi seperti dewan direksi beranggotakan lima orang dengan Biden sebagai pimpinannya. Buku itu juga melaporkan bahwa ahli onkologi sekaligus mantan penasihat Biden, Ezekiel Emanuel, sempat menepis kekhawatiran internal pada 2023 dengan menyebut bahwa apa yang disaksikan publik hanyalah proses penuaan alami.
Selain itu, laporan Komite Pengawasan DPR AS (House Oversight Committee) yang dirilis pada Oktober turut melontarkan tuduhan serupa terhadap para staf istana dan dokter pribadi Biden. Mereka dituding menyembunyikan penurunan kondisi kesehatan sang presiden dan, dalam beberapa kasus, menjalankan kewenangan kepresidenan tanpa persetujuan langsung darinya. Kendati demikian, kesimpulan penyelidikan yang dipimpin Fraksi Republik tersebut masih memicu perdebatan politik dan belum terverifikasi secara independen.
Joe Biden diperkirakan bakal merilis buku memoarnya yang berjudul “Promise Me, America” setelah gelaran Pemilu Sela (midterm elections).






