Menunda Alarm ‘Snooze’, Apakah Bermanfaat atau Merusak Kesehatan?

- Banyak ilmuwan tidur mengkritik kebiasaan ini karena dianggap memotong fase tidur Rapid Eye Movement (REM).
- Pakar kesehatan menyarankan tidak terlalu khawatir tentang tombol snooze jika Anda beristirahat secara cukup.
JERNIH – Sebuah penelitian terbaru yang melacak kebiasaan tidur lebih dari 21.000 orang di seluruh dunia mengungkap fakta unik, lebih dari separuh populasi dunia menekan tombol snooze rata-rata 2,4 kali sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur.
Fenomena menunda alarm ini telah lama menjadi perdebatan di kalangan pakar kesehatan. Apakah ini cara cerdas untuk mendapatkan energi tambahan, atau justru sabotase terhadap kesehatan mental kita?
Banyak ilmuwan tidur mengkritik kebiasaan ini karena dianggap memotong fase tidur Rapid Eye Movement (REM). REM adalah tahap tidur krusial yang berperan penting dalam kesehatan otak, pemrosesan emosi, dan kreativitas.
Fase REM paling banyak terjadi pada jam-jam menjelang pagi. Saat Anda menyetel alarm lebih awal hanya agar bisa menekan snooze, Anda berisiko memutus fase REM tersebut. “Saat tertidur kembali setelah snooze, tidur Anda biasanya lebih ringan dan terfragmentasi (terputus-putus), sehingga tidak memberikan kesegaran yang sama,” jelas Rebecca Robbins, ilmuwan tidur dari Brigham and Women’s Hospital.
Para ahli memperingatkan bahwa snooze bisa menjadi sinyal adanya masalah yang lebih besar jika digunakan sebagai “tongkat penopang”. Jika menunda alarm membuat waktu bangun Anda bergeser lebih dari 30 menit setiap harinya, jam internal tubuh akan kacau. Ini membuat Anda lebih sulit tidur tepat waktu di malam berikutnya.
Sering kali, keinginan untuk snooze adalah tanda bahwa Anda kurang tidur atau memiliki gangguan seperti sleep apnea, insomnia, atau efek samping obat-obatan tertentu. Rasa limbung atau grogginess setelah bangun bisa semakin parah jika siklus tidur Anda terus-menerus terputus oleh alarm yang berulang.
Meski banyak dikritik, sebuah studi tahun 2023 memberikan perspektif berbeda. Penelitian terhadap 31 orang yang rutin menekan snooze menunjukkan bahwa kebiasaan ini justru berhubungan dengan performa kognitif yang lebih baik sesaat setelah bangun dibandingkan mereka yang langsung bangun.
Dr. Cathy Goldstein dari University of Michigan menjelaskan bahwa karena snoozer menghabiskan bagian akhir tidur mereka dalam tahap tidur yang lebih ringan, proses bangun menjadi kurang mengejutkan bagi otak. Bagi sebagian orang, ini justru membantu mengurangi rasa linglung di pagi hari dan memberi dorongan mental untuk “siap beraksi”.
Pakar kesehatan menyarankan untuk tidak terlalu khawatir tentang tombol snooze jika Anda menunjukkan tanda-tanda istirahat yang cukup, yaitu merasa cukup segar dan waspada tak lama setelah bangun dan tidak merasa sangat mengantuk atau lemas di antara pukul 14.00 hingga 16.00.
Jika Anda merasa tidak bisa beranjak dari kasur tanpa snooze berkali-kali, cobalah perbaiki “higiene tidur” Anda selama seminggu: batasi kafein dan alkohol di sore hari, serta jaga kamar tetap gelap dan tenang. Jika masih sulit bangun, mungkin sudah saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mencari akar masalahnya.





