SolilokuiVeritas

Bangsa Miring

Dan begitulah kita, bangsa miring. Berjalan dengan kepala mendongak, merasa gagah di jalan raya sejarah, padahal langkah selalu menyamping. Tak pernah tegak, tak pernah lurus, tapi tetap merasa sampai tujuan. Ironinya, kita tersenyum dalam kemiringan, bahkan menganggap miring sebagai takdir sekaligus keistimewaan.

Oleh     :  Yudi Latif

JERNIH– Saudaraku, bangsa ini seperti anak sekolah yang tak pernah lulus pelajaran garis lurus. Sejak awal merdeka, kita gemar belajar pada papan tulis bengkok, menulis huruf-huruf sejarah dengan kapur yang mudah dihapus, dan menggambar masa depan dengan penggaris patah. Maka, tak usah heran bila jalan kita selalu miring.

Setiap kali ada usaha meluruskan sesuatu, yang muncul justru belokan baru. Lurus hanyalah cita-cita, miring sudah menjadi gaya hidup. Bila demokrasi tampak terhuyung ke kanan, koreksinya malah membuatnya rebah ke kiri. Bila sejarah ingin ditegakkan, hasilnya justru riwayat yang terdistorsi. Bila hukum ditegakkan, jadinya aturan pincang. Upaya menata menambah kekacauan, usaha merapikan malah menimbulkan kusut baru.

Kita bangsa yang pandai berkilah: bengkok disebut lentur, serong disebut taktis, sesat disebut alternatif. Kita gemar menutup ketimpangan dengan hiasan retorika, sehingga tiang yang miring pun dipoles agar tampak gagah menopang bendera.

Pangkal semua ini, barangkali, karena kita mengalami defisit manusia bijak berpikir lurus, dan surplus manusia kerdil yang pikirannya sungsang. Maka, yang lahir bukan garis lurus peradaban, melainkan labirin kepicikan yang membuat kita tersesat di dalam diri sendiri.

Hatta pernah memperingatkan: kemerdekaan adalah momen keemasan. Tapi apa jadinya emas bila di tangan manusia kerdil? Ia dilebur jadi perhiasan murahan, dijual di pasar gelap kekuasaan. Dari rahim kemerdekaan mestinya lahir manusia besar yang menegakkan arah, tetapi justru keluar manusia kerdil yang sibuk bersembunyi di balik jubah jabatan.

Dan begitulah kita, bangsa miring. Berjalan dengan kepala mendongak, merasa gagah di jalan raya sejarah, padahal langkah selalu menyamping. Tak pernah tegak, tak pernah lurus, tapi tetap merasa sampai tujuan. Ironinya, kita tersenyum dalam kemiringan, bahkan menganggap miring sebagai takdir sekaligus keistimewaan.

Maka jangan heran, saudaraku, bila di negeri ini yang bengkok bisa naik pangkat, yang serong bisa jadi teladan, dan yang lurus malah dianggap pahlawan kesiangan. [  ]

Back to top button