SolilokuiVeritas

Bermula dari Tukang Kayu

Antara perlindungan dan ancaman, batasnya tipis. Di tangan tukang kayu yang arif, negeri tertata. Tapi, jika tukang kayu “main kayu”, tangan yang mestinya menyokong jadi mengacaukan. “Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.” Aturan yang bengkok membuka jalan bagi penyamun. Negeri sering runtuh bukan oleh badai, tapi oleh celah yang dibiarkan.

Oleh      :  Yudi Latif

JERNIH– Saudaraku, Indonesia ini negeri kayu. Rumah-rumah dulu bersandar pada reng dan kaso; tiang, kursi sidang, hingga palu hakim lahir dari batang hutan. Kayu bukan sekadar benda, tapi bahasa kehidupan.

Namun, antara perlindungan dan ancaman, batasnya tipis. Di tangan tukang kayu yang arif, negeri tertata. Tapi, jika tukang kayu “main kayu”, tangan yang mestinya menyokong jadi mengacaukan.

Menata bangsa pun mesti dimulai dari hikmah kayu—tersirat dalam peribahasa, tersimpan dalam filosofi yang pelan-pelan terlupakan.

“Adakah kayu di rimba sama tinggi?” Tidak. Rimba mencerminkan masyarakat: ada yang cendekia, ada yang tersisih; yang kaya menjulang, yang papa merunduk. Maka, adil-lah dalam menakar.

“Bagai siamang kurang kayu.” Kekurangan bukan sekadar perut kosong, tapi kehilangan pegangan harapan.

“Berkurai hendak memanjat kayu.” Tak semua pucuk bisa dicapai tanpa tangga. Mimpi pun perlu pijakan.

“Besar kayu, besar bahannya.” Gaji besar kerap disertai pengeluaran tinggi. Tanpa bijak, keberlimpahan jadi beban.

“Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.” Aturan yang bengkok membuka jalan bagi penyamun. Negeri sering runtuh bukan oleh badai, tapi oleh celah yang dibiarkan.

“Hidup kayu berbuah, hidup manusia biar berjasa.” Kalau kayu diam bisa memberi buah, manusia mestinya meninggalkan jejak kebaikan.

“Rendah bilang-bilang disuruki, tinggi kayu ara dilangkahi.” Ada tata dalam berhubungan. Kesantunan adalah pilar pergaulan.

“Tanah lembah kandungan air, kayu bengkok titian kera.” Kejahatan kerap tumbuh dari tanah yang telah rusak. Lingkungan ikut membentuk laku.

“Tiada kayu, janjang dikeping.” Kalau yang utama tiada, gunakan yang tersedia. Jangan menunggu kesempurnaan, sebab penundaan bisa membawa aib.

Kita memang negeri kayu. Tapi jangan jadi bangsa patah ranting atau busuk akar. Bila kita mampu membaca hikmahnya, niscaya negeri ini bisa tumbuh: berakar dalam, menjulang tinggi, dan berbuah lebat. [ ]

Back to top button