SolilokuiVeritas

Charlie Kirk, Influencer Pendukung Trump Itu Tewas Diterjang Peluru

Kirk memilih jalan pro-Republik yang berujung kematian. Tewasnya Kirk bikin White House kibarkan bendera setengah tiang. Terlepas dari itu Amerika Serikat kini menghadapi kenyataan polarisasi dan kekerasan bersenjata.

JERNIH –  Dor! Sebutir peluru menembus bagian leher Charlie Kirk. Pendiri Turning Point USA (TPUSA) dan figur konservatif berprofil tinggi itu tergeletak setelah  ditembak  di kampus Utah Valley University pada 10 September 2025.

Pukul 12.19 waktu setempat, Kirk masih duduk di bawah tenda biru menyampaikan orasi saat tampil pada acara “American Comeback Tour”. Begitu suara tembakan yang terjadi pada pukul 12.20 mengubah suasana damai itu menjadi kacau. Kirk yang roboh segera dilarikan ke oleh tim keamanan ke Timpanogos Regional Hospital dalam kondisi kritis. Namun nyawa influencer muda politik itu tak tertolong.

Sekali lagi Amerika digemparkan oleh kegaduhan peristiwa penembakan. Kematian Charlie Kirk adalah peristiwa besar yang menyorot dua hal sekaligus: pengaruh figur politik modern yang dibangun lewat media dan organisasi akar rumput, serta kerentanan publik terhadap kekerasan bersenjata dan kekerasan politik yang semakin sering muncul di AS.

Banyak pertanyaan kunci (motif pelaku, rincian penyelidikan, implikasi politik jangka panjang) masih menunggu hasil penyelidikan dan laporan lanjutan. Untuk fakta-fakta terbaru dan perkembangan resmi, rujuk laporan berita besar dan pernyataan penegak hukum.

Kirk adalah pendukung vokal Donald Trump sejak 2016 dan menjadi salah satu figur yang membantu memobilisasi dukungan di kalangan pemilih muda konservatif. Hubungan itu meliputi dukungan publik, kehadiran tokoh-tokoh Trump dalam konferensi TPUSA, serta kerja sama terkait kampanye dan advokasi politik—termasuk keterlibatan dalam upaya lapangan selama pemilu 2024. Setelah Trump kembali menonjol di kancah politik, Kirk tetap menjadi sekutu dan sering tampil mempromosikan agenda yang selaras dengannya.

Charlie Kirk (lahir 1993) adalah aktivis sayap kanan, komentator politik, dan pendiri organisasi pemuda konservatif Turning Point USA (TPUSA) yang didirikan pada 2012 ketika ia masih remaja. Ia menjadi tokoh publik melalui tur kampus, podcast/radio harian, konferensi, dan jaringan chapter di sekolah/mahasiswa. TPUSA fokus pada pendidikan politik konservatif di kalangan pelajar tinggi dan kampus.

Kirk dan TPUSA membangun jaringan chapter kampus nasional dan platform media (podcast, radio, sosial) yang menarik jutaan pendengar/penonton. Laporan menyebut ratusan ribu hingga jutaan unduhan/pengikut untuk programnya. Tak heran jika ia menjadi figur kunci untuk memobilisasi pemilih muda konservatif.

TPUSA terlibat dalam kegiatan lapangan dan advokasi pada pemilu,  termasuk upaya untuk mengarahkan suara pemilih muda ke kandidat konservatif dan operasi lapangan di beberapa negara bagian, terutama selama siklus pemilu 2016–2024. Pengaruhnya dinilai signifikan dalam ekosistem komunikasi politik sayap kanan.

Karakter retorikanya yang konfrontatif membuatnya sangat populer di kalangan pendukungnya, namun juga sangat kontroversial di kalangan lawan politik, sehingga menjadikan dirinya figur yang memicu respons emosional kuat di kedua sisi. Banyak orang menuduhnya telah melakukan polarisasi.

Charlie Kirk tidak hanya hidup dari statusnya sebagai influencer politik, tetapi juga memperoleh pendapatan dari beberapa jalur lain yang terkait erat dengan kiprahnya di dunia organisasi dan media.

Dari TPUSA dan afiliasi organisasinya ia meraup gaji dan kompensasi. Laporan pajak lembaga nonprofit menunjukkan ia menerima gaji tahunan ratusan ribu USD. TPUSA sering menggelar event. Acara besar seperti AmericaFest atau Student Action Summit bukan hanya forum politik, tetapi juga menghasilkan pemasukan dari tiket, sponsor, dan merchandise.

Kirk juga kerap memperoleh honor dan speaking fees. Ia sering diundang menjadi pembicara di konferensi, universitas, atau acara politik konservatif. Bayarannya bisa mencapai ribuan hingga puluhan ribu dolar per acara.

Beberapa sumber menyebut kekayaan Kirk mencapai kisaran jutaan dolar. Estimasinya 10–15 juta dolar berdasarkan aset, gaji dari organisasi, dan properti yang dilaporkan.

Penulis buku The MAGA Doctrine (2020) itu didukung oleh miliarder konservatif seperti Foster Friess, Dan and Farris Wilks, dan jaringan donor Republik lainnya.

Kontroversi Kirk

Risiko bersekutu dengan Republik membuat ia kerap mengungkap kontroversi. Tak heran jika TPUSA sempat menghadapi kritik karena memberi panggung bagi pembicara atau figur yang dianggap punya pandangan ekstrem. Ada laporan bahwa beberapa anggota chapter TPUSA di kampus terlibat dalam skandal internal (rasisme, seksisme), meski Kirk sering menyangkal keterlibatan langsung.

Kirk ikut mendorong klaim kecurangan pemilu yang tidak terbukti. Ia menyebarkan narasi “Stop the Steal” melalui media sosial dan acara TPUSA.

Saat badai Covid-19 ia kerap meremehkan bahayanya. Bahkan menentang mandat masker/vaksin, dan menyebarkan informasi yang dipandang menyesatkan oleh pakar kesehatan. Kirk beberapa kali dikritik karena retorika keras terkait imigrasi, isu ras, dan kebijakan sosial. Penentangnya menilai ucapannya memperkeruh polarisasi politik.

Kirk terkenal suka melempar komentar provokatif tentang Demokrat, aktivis progresif, bahkan tokoh agama atau selebritas yang berseberangan. Misalnya, ia pernah menuduh tokoh-tokoh tertentu “anti-Amerika” atau “merusak generasi muda,” yang memicu kecaman balik.

Banyak profesor, mahasiswa, dan kelompok kampus menuding TPUSA sebagai “mesin propaganda” yang memecah belah ruang akademik dengan gaya agresif. Ada juga tuduhan bahwa TPUSA membuat daftar dosen “anti-konservatif” di kampus, yang dianggap sebagai upaya membungkam kebebasan akademik.

Dalam hal krisis Isreal-Palestina, ia dikenal sangat pro-Israel dan kritis terhadap Palestina serta gerakan pro-Palestina di kampus. TPUSA di bawah Kirk kerap menentang organisasi mahasiswa pro-Palestina, termasuk Students for Justice in Palestine (SJP).

Kontroversi Kirk berpusat pada retorika keras, penyebaran klaim yang tidak teruji, gaya kepemimpinan TPUSA yang agresif, dan pertanyaan tentang integritas keuangan organisasi. Bagi pengikutnya, ia dianggap “pejuang konservatif muda yang berani.” Bagi lawannya, ia simbol polarisasi ekstrem dalam politik Amerika.

Terlepas dari kematian Kirk, Amerika kini punya pekerjaan rumah yang sangat besar. Yakni, tingkat kematian akibat senjata api di AS jauh lebih tinggi daripada negara maju lain karena kombinasi faktor struktural, politik, sosial, dan budaya. Ada banyak poin dan salah satunya penembakan terhadap figur publik atau insiden bermotif politik sering terjadi dalam konteks meningkatnya polarisasi, penyebaran informasi salah maupun retorika inflamatori, dan normalisasi dehumanisasi lawan politik.

Semua ini dapat mendorong tindakan ekstrem oleh individu yang radikal atau terganggu. Laporan dan pakar memperingatkan adanya “spiral” kekerasan politik dalam beberapa tahun terakhir. (*)

BACA JUGA: Donald Trump Janjikan Zaman Keemasan, yang Muncul Malah Kekhawatiran Resesi

Back to top button