SolilokuiVeritas

Hujan Kasih

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dikenang karena kesederhanaan dan keadilannya, menegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang hidup paling megah, melainkan mereka yang paling sedikit melukai rakyatnya. Ketika kekuasaan gagal menghadirkan keadilan, menahan diri dari kezaliman menjadi bentuk tanggung jawab moral yang paling mendasar.

Oleh     :  Yudi Latif

JERNIH–Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering menghijau kembali. Ketulusan memberi dan melayani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.

Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan tertinggi tak dapat direngkuh melalui penumpukan kenikmatan, melainkan dalam penemuan makna yang membuat hidup layak dijalani.

Manusia dianugerahi kesadaran yang menjadikannya pencari makna. Dengan itu, manusia bukan hanya merasakan hidup, tetapi juga menyadari kebingungan, penderitaan, dan tragedi yang menyertainya. Tanpa makna yang lebih dalam, kesadaran ini bisa menjadi beban yang menekan batin dan menjerumuskannya ke lembah putus asa. Karena itu, kesadaran perlu ditambatkan pada sesuatu yang melampaui diri, di sanalah makna hidup menjelma melalui welas asih.

Ketulusan welas asih yang dipancarkan para dermawan, relawan sejati, dan para pamong teladan ibarat tetes hujan yang jatuh di tengah kemarau etika dan rasa kemanusiaan. Pelayanan mereka menyirami kembali kebun kehidupan yang lama mengering oleh keserakahan, korupsi, penimbunan harta, dan tabiat mementingkan diri sendiri, saling membohongi, mengkhianati, dan membenci.

Dalam impitan kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, para pemuka bangsa dituntut untuk mawas diri. Dari mawas diri akan tampak bahwa terhambatnya kebahagiaan warga kerap bersumber dari tabiat elite yang terjebak dalam kebahagiaan rendah—kebahagiaan semu yang lahir dari rangkaian ambisi dan kerakusan yang tak kenal henti.

Sejarah etika umat manusia telah lama memberi peringatan. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dikenang karena kesederhanaan dan keadilannya, menegaskan bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang hidup paling megah, melainkan mereka yang paling sedikit melukai rakyatnya. Ketika kekuasaan gagal menghadirkan keadilan, menahan diri dari kezaliman menjadi bentuk tanggung jawab moral yang paling mendasar.

Pemimpin tulus bekerja bak hujan berkah: menghidupkan kembali bumi dari kematiannya. Keteladanan semacam ini memantik kepercayaan publik perlahan pulih. Berkat pulihnya kepercayaan dan harapan rakyat, musim bunga kebahagiaan bisa disongsong. [ ]

Back to top button