SolilokuiVeritas

Syaratnya, Jangan Hidup Mewah

Elit politik dan public figure jangan mempraktikkan gaya hidup mewah yang menyebabkan orang tidak realistis, tidak peka terhadap kerusakan alam, tutup mata terhadap korupsi dan tak berempati terhadap penderitaan orang lain. Mengapa yang dipersoalkan gaya hidup mewah? Karena gaya hidup mewah itulah yang sebenarnya akar dari persoalan bencana alam. Gaya hidup mewah mengundang orang untuk bersenang-senang sehingga terjerumus ke dalam kemaksiatan. Gaya hidup mewah mengundang orang jadi serakah.

Oleh     : Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Bencana alam yang menimpa Sumatra, setidaknya, bisa kita lihat dari dua perspektif. Perspektif pertama, akal sehat. Menurut akal sehat, bencana alam terjadi karena daya dukung lingkungan dan infrastruktur di sana terhadap air bah tidak memadai. Air bah itu lantas menghanyutkan apa saja yang ditemuinya.

Para pakar menyebutkan, penyebab menurunnya daya dukung lingkungan dan infrastruktur di Sumatra, konon pembalakan hutan yang ugal-ugalan. Namun, itu bukan penyebab tunggal. Ada penyebab yang lain, yakni iklim ekstrem yang melanda Sumatra.

Secara praktis, teori-teori yang bertumpu pada akal sehat memiliki batas. Ia akan sampai pada suatu tepi cakrawala. Tidak bisa lagi menyelesaikan masalah. Kalau sudah begini, muncul iman. 

Iman mengonfirmasikan bencana merupakan perbuatan manusia. Ini  dibukktikan oleh firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Ar Rum, Ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Perspektif kedua, agama. Menurut perspektif agama Islam misalnya, bencana alam itu adalah teguran dari Allah karena manusia lupa diri. Manusia terlalu asyik berbuat maksiat.

Perspektif kedua ini didukung oleh bukti sejarah. Lihatlah misalnya kehancuran berbagai bangsa terdahulu. Kerajaan Mesir di bawah 35 Fir’aun, Kerajaan Saba, Kaum ‘Ad, Kaum Tsamud hancur karena berbuat maksiat. Masyarakat di sana tidak segan membunuh, melakukan aborsi, mempraktikkan LGBT, dan sebagainya. Semua maksiat itu mengundang azab dan bencana dari Allah.

Dalam menurunkan azab Allah tidak main-main. Simaklah firman-Nya dalam Al-Qur’an, Surah Al An’Am Ayat 6: “Tidakkah mereka perhatikan betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? (Yaitu) generasi yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yang belum pernah Kami lakukan kepada kamu; dan Kami curahkan air hujan yang lebat, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka; lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, selanjutnya Kami munculkan sesudah mereka generasi lain.”

Lalu untuk apa Allah menceritakan kehancuran bangsa-bangsa terdahulu? Bukan untuk meneror manusia. Bukan pula untuk membuat mereka susah hidup. Namun, sebagai pelajaran (ibrah) yang sangat berharga untuk membangun masa depan.

Ya, semangat membangun masa depan setelah ditimpa bencana alam perlu dibangkitkan. Namun, ini tidak mudah. Soalnya, ia harus melawan berbagai trauma, mulai dari trauma psikologis, trauma mental hingga trauma duka cita.

Maka kita hanya bisa berimajinasi, pertama, elit politik dan public figure tidak mempraktikkan gaya hidup mewah. Gaya hidup mewah sering menyebabkan orang tidak realistis. Bekerja melampaui kemampuan. Tidak peka terhadap kerusakan alam. Tutup mata terhadap korupsi. Tidak berempati terhadap penderitaan orang lain.

Kedua, elit politik dan public figure tidak mempertontonkan gaya hidup mewah secara demonstratif. Soalnya, mereka bisa menjadi cermin buat masyarakat. Mereka bisa menjebak masyarakat untuk hidup bukan seperti yang mereka inginkan. Melainkan sesuai dengan orang lain inginkan.

Pertanyaannya lantas, mengapa yang dipersoalkan gaya hidup mewah? Karena gaya hidup mewah itulah yang sebenarnya akar dari persoalan bencana alam. Gaya hidup mewah mengundang orang untuk bersenang-senang sehingga terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ini mengundang kemarahan Allah. Gaya hidup mewah juga mengundang orang untuk serakah. Mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan kerusakan alam. Wajar bila syarat penting terbebas dari bencana alam adalah: jangan hidup mewah. [ ]

*Gurubesar jurnalisme UGM

Back to top button