
Para analis menyebut fenomena ini sebagai “Efek Balon”. Ketika perdagangan dengan China ditekan, permintaan konsumen AS tidak hilang, melainkan berpindah mencari celah di lokasi lain, termasuk Indonesia.
JERNIH – Kebijakan “Tarif Timbal Balik” (Reciprocal Tariffs) yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump sejak April 2025 ternyata membawa berkah tersendiri bagi sejumlah negara di Asia Tenggara. Meskipun Trump bertujuan memangkas ketergantungan Amerika pada manufaktur asing, data terbaru menunjukkan potret yang berbeda bagi Indonesia.
Di saat ekspor China ke Amerika Serikat anjlok drastis, Indonesia justru mencatatkan performa perdagangan yang kuat. Berdasarkan data awal tahun 2025 dari US Census Bureau, defisit perdagangan barang AS terhadap Indonesia naik 11% sepanjang tahun 2025.
Kenaikan ini terjadi meskipun Indonesia dikenakan tarif timbal balik sebesar 19% hasil negosiasi kesepakatan perdagangan bilateral. Para analis menyebut fenomena ini sebagai “Efek Balon”. Ketika perdagangan dengan China ditekan, permintaan konsumen AS tidak hilang, melainkan berpindah mencari celah di lokasi lain, termasuk Indonesia.
Indonesia tidak sendirian. Kawasan Asia Tenggara (ASEAN) kini menjadi pusat relokasi rantai pasok global yang dikenal dengan strategi “China Plus One”. Filipina dan Thailand mencatat lonjakan defisit perdagangan bagi AS masing-masing sebesar 38% dan 23%. Vietnam menjadi pemain paling dominan dengan kenaikan defisit perdagangan barang lebih dari 20 miliar dolar AS (sekitar Rp313 triliun), menjadikannya salah satu pemasok cip utama bagi Amerika.
Ekonom Zichun Huang dari Capital Economics menjelaskan bahwa ini bukan sekadar pengalihan barang (transshipment), melainkan rekonfigurasi fundamental. Negara-negara ASEAN kini mengimpor lebih banyak bahan baku dari China untuk diolah menjadi produk jadi yang kemudian dikirim ke pasar Amerika Serikat.
Runtuhnya Dominasi Ekspor China ke Amerika
Berbanding terbalik dengan Asia Tenggara, China merasakan hantaman keras dari kebijakan Trump. Hingga November 2025, rata-rata bea masuk untuk barang-barang China mencapai 47,5%. Nilai impor barang AS dari China merosot tajam dari 438,7 miliar dolar AS di tahun 2024 menjadi hanya 266,3 miliar dolar AS pada 2025.
Secara global, defisit perdagangan AS memang turun dari 245,5 miliar dolar AS menjadi 175,4 miliar dolar AS. Namun, penurunan ini hampir sepenuhnya disumbang oleh pemutusan hubungan dagang dengan China, bukan karena kembalinya manufaktur ke daratan Amerika.
Dinamika yang paling kontradiktif terlihat pada hubungan AS dengan Taiwan. Meski Trump kerap menuduh Taiwan “mencuri” industri cip Amerika, perdagangan dengan pulau tersebut justru meledak sebesar 50%.
Penyebab utamanya adalah Ledakan AI (Kecerdasan Buatan). Trump dihadapkan pada pilihan sulit: memangkas defisit perdagangan atau menjaga pasar saham tetap bergairah melalui pasokan semikonduktor.
“Trump mencintai lonjakan pasar saham akibat AI. Jika ia harus memilih antara defisit perdagangan yang rendah atau pasar saham yang meroket, dia akan memilih pasar saham setiap saat,” ujar Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation.
Meski tarif ini masih berlaku, ketidakpastian mulai membayangi seiring munculnya tantangan hukum di Mahkamah Agung AS. Para ekonom memperkirakan bahwa sentimen publik mungkin akan berbalik melawan Trump saat harga-harga barang di tingkat konsumen mulai merangkak naik akibat beban tarif.
Pemilu Sela (Midterm Elections) pada November 2026 mendatang akan menjadi ujian krusial apakah rakyat Amerika tetap mendukung kebijakan proteksionisme ini atau mulai merasa terbebani oleh kenaikan biaya hidup.






