DesportareVeritas

Empat Alasan Kekalahan Barca Dibantai Atletico Madrid 0-4 di Copa del Rey

Malam memalukan bagi El Barca di kandang lawan, yang mestinya tak perlu sampai kebobolan empat gol. Ada empat alasan atas kekalahan tersebut. Apa saja?

WWW.JERNIH.CO –  Kekalahan telak Barcelona dari Atletico Madrid dengan skor 0-4 pada leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026 (Jumat, 13 Februari 2026 dini hari WIB) menjadi salah satu malam paling kelam bagi era Hansi Flick. Bermain di Riyadh Air Metropolitano, Barcelona yang biasanya tampil dominan justru terlihat rapuh, tidak terorganisir, dan kehilangan identitas permainannya.

Setidaknya ada empat alasan kekalahan memalukan tersebut. Antara lain;

Runtuhnya Organisasi Pertahanan dan Garis Tinggi

Masalah utama yang dieksploitasi oleh Diego Simeone adalah garis pertahanan tinggi (high defensive line) yang menjadi ciri khas Hansi Flick. Jika biasanya taktik ini berhasil menjebak lawan dalam offside, kali ini Atletico Madrid menunjukkan kelasnya dengan timing lari yang sempurna.

Jarak antar pemain belakang Barcelona terlalu lebar, dan koordinasi antara Pau Cubarsi serta Eric Garcia tampak kacau sejak menit awal. Gol bunuh diri Eric Garcia pada menit ke-6 menjadi awal dari runtuhnya mentalitas tim, yang kemudian diikuti oleh serangan balik cepat yang dipimpin oleh Antoine Griezmann dan Julian Alvarez.

Kegagalan Sistem Pressing

Hansi Flick sendiri mengakui dalam konferensi pers usai laga bahwa timnya “tidak bermain sebagai satu kesatuan.” Pressing yang biasanya menjadi senjata mematikan Barcelona untuk merebut bola di area lawan sama sekali tidak berjalan.

Para pemain Atletico dengan mudah mengalirkan bola keluar dari tekanan, memanfaatkan ruang kosong di lini tengah yang ditinggalkan para pemain Barca. Tanpa adanya tekanan yang intens, pemain kreatif seperti Griezmann memiliki waktu luang untuk mengirimkan umpan-umpan kunci yang membelah pertahanan Blaugrana.

Performa Individu yang Buruk

Beberapa pemain kunci tampil jauh di bawah standar. Misalnya Joan Garcia, sang kiper melakukan keputusan keliru yang berujung pada gol pembuka lawan. Lantas Alejandro Balde berada di sisi kiri yang dikawalnya menjadi “lubang” besar. Kecepatan Giuliano Simeone berkali-kali membuat Balde tertinggal, menciptakan situasi berbahaya di kotak penalti.

Ditambah buruknya Eric Garcia. Malam tersebut adalah horor baginya; mencetak gol bunuh diri dan diakhiri dengan kartu merah di menit-menit akhir.

Drama VAR dan Kehilangan Momentum

Barcelona sebenarnya sempat mencoba bangkit di babak kedua. Pau Cubarsi sempat mencetak gol yang diharapkan bisa mengubah arus pertandingan menjadi 4-1. Namun, setelah proses peninjauan VAR yang memakan waktu hingga 8 menit, gol tersebut dianulir karena offside tipis.

 Penundaan yang sangat lama ini tidak hanya membatalkan gol, tetapi juga membunuh momentum dan semangat juang pemain Barcelona yang sedang mencoba mengejar ketertinggalan.

Secara statistik, kekalahan 0-4 ini adalah kekalahan terbesar dan paling memalukan bagi Hansi Flick selama menangani Barcelona hingga saat ini (Februari 2026).

Meskipun Flick telah membawa stabilitas luar biasa—termasuk menjuarai Piala Super Spanyol 2026 dan menjaga rekor kemenangan tandang yang impresif—kekalahan di Metropolitano ini menjadi noda pertama yang sangat mencolok. Sebelumnya, kekalahan Flick di Barcelona biasanya terjadi dengan selisih skor tipis (seperti saat kalah 1-2 dari Real Madrid pada Oktober 2025).

Kebobolan empat gol tanpa balas dalam satu babak adalah anomali yang belum pernah terjadi di bawah asuhan pelatih asal Jerman tersebut.(*)

BACA JUGA: Spotify Camp Nou, Ambisi Barcelona Raup Rp6,3 Triliun Demi Lunasi Utang

Back to top button