
Lahir dan besar dari kalangan kaya, perempuan ini disebut sebagai rekan jahat Jeffrey Epstein. Bagaimana cara Ghislaine bekerja? Apa yang ia dapat dari Epstein?
WWW.JERNIH.CO – Di balik kemewahan hidup Jeffrey Epstein, terselip sosok yang dianggap sebagai kunci utama yang memungkinkan seluruh operasi gelap tersebut berjalan selama puluhan tahun: Ghislaine Maxwell.
Sebagai seorang sosialita Inggris yang dibesarkan dalam lingkungan elite, Maxwell bukan sekadar rekan atau kekasih bagi Epstein, melainkan seorang “arsitek” sosial yang membangun jembatan antara predator seksual dan para korbannya.

Keterlibatannya yang mendalam telah membawanya pada vonis 20 tahun penjara yang dijatuhkan pada tahun 2021 atas dakwaan perdagangan seks anak.
Ghislaine Maxwell lahir di Prancis dan dibesarkan di Oxford, Inggris, dalam sebuah keluarga yang sangat berpengaruh. Ayahnya adalah Robert Maxwell, seorang taipan media Inggris yang pernah menjadi anggota parlemen dan memiliki surat kabar ternama seperti The Daily Mirror.
BACA JUGA: Jutaan Dokumen Jeffrey Epstein Meledak, Washington Terguncang
Tumbuh di lingkungan Balliol College, Oxford, Ghislaine terbiasa dengan gaya hidup kelas atas, di mana ia menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan, politisi, dan selebritas dunia.
Setelah kematian ayahnya yang misterius pada tahun 1991, Maxwell pindah ke Amerika Serikat. Di sinilah ia bertemu dengan Jeffrey Epstein. Dengan “pedigre” sosialnya yang kuat, Maxwell memberikan legitimasi yang sangat dibutuhkan Epstein untuk masuk ke lingkaran elite.
Bagi dunia luar, Maxwell adalah wajah “terhormat” di samping Epstein; ia adalah sosok yang mampu berbicara dengan pangeran dan presiden, membuat Epstein yang merupakan orang baru di kalangan tersebut terlihat pantas berada di sana.
Jaksa penuntut dalam persidangannya menggambarkan Maxwell dan Epstein sebagai “partners in crime”. Maxwell menggunakan kelebihannya sebagai seorang wanita yang tampak elegan dan keibuan untuk memenangkan kepercayaan para gadis muda, banyak di antaranya masih di bawah umur.

Pola kerjanya sangat terencana dan manipulatif. Maxwell dengan ramah sering mendekati gadis-gadis muda di tempat umum seperti sekolah, pusat perbelanjaan, atau teater. Ia menampilkan diri sebagai sosok mentor atau pelindung yang ingin membantu masa depan mereka.
Salah satu modus yang paling sering terungkap dalam dokumen penyelidikan adalah tawaran pekerjaan. Korban seperti Virginia Giuffre dijanjikan pekerjaan sebagai terapis pijat profesional untuk seorang miliarder (Epstein). Maxwell meyakinkan para korban bahwa ini adalah peluang karier yang sah dan menguntungkan secara finansial.
Setelah korban berada di bawah kendalinya, Maxwell mulai “menormalisasi” permintaan pijat yang kemudian berkembang menjadi pelecehan seksual. Berdasarkan kesaksian para korban, Maxwell sering berada di ruangan yang sama saat pelecehan terjadi, bahkan terkadang ia sendiri yang memulainya untuk meyakinkan korban bahwa tindakan tersebut adalah hal yang “biasa” dalam lingkaran sosial mereka.
Para korban sering kali diberi uang dalam jumlah besar untuk membungkam mereka, sementara Maxwell dan Epstein memastikan bahwa mereka merasa terisolasi dari bantuan luar.
Apa yang memotivasi seorang wanita berpendidikan tinggi dan memiliki kekayaan pribadi untuk terlibat dalam kejahatan semengerikan ini?
Selama persidangan, jaksa menyoroti keuntungan moneter yang luar biasa. Tercatat bahwa Maxwell menerima lebih dari Rp 495 miliar dari Epstein selama bertahun-tahun hubungan mereka. Selain uang, motivasi utama lainnya diduga adalah keinginan untuk mempertahankan status sosial dan kekuasaan yang ia nikmati melalui jaringan Epstein.
Dokumen “Epstein Files” yang dirilis baru-baru ini mempertegas betapa luasnya jaringan yang dibangun Maxwell. Ia tidak hanya menyediakan korban bagi Epstein, tetapi juga diduga berperan dalam memfasilitasi pertemuan antara korban dengan tokoh-tokoh besar lainnya.

Kehadirannya dalam foto-foto bersama Bill Clinton, Pangeran Andrew, hingga interaksi email dengan CEO teknologi seperti Sergey Brin, menunjukkan betapa strategisnya peran Maxwell dalam menjaga agar sistem pemerasan dan eksploitasi ini tetap berjalan tanpa gangguan hukum.
Kini, Maxwell mendekam di kamp penjara federal di Texas. Meskipun ia tetap bersikukuh tidak bersalah dan mengklaim dirinya hanya dijadikan “kambing hitam,” bukti-bukti sejarah dan kesaksian para penyintas telah menempatkan namanya sebagai salah satu figur paling kelam dalam sejarah kejahatan perdagangan manusia abad ke-21.(*)
BACA JUGA: PM Malaysia Disebut-sebut dalam Email Epstein, Anwar Ibrahim Tegas Membantah




