PersonaVeritas

Perlawanan Green Day kepada Trump

Dari American Idiot hingga panggung Super Bowl, Billie Joe Armstrong  dan kawan-kawan terus menantang Donald Trump, MAGA, dan politik yang mereka anggap menormalisasi kebencian serta fasisme.

WWW.JERNIH.CO –  Berbicara tentang Green Day berarti berbicara tentang musik yang sejak awal tidak pernah netral. Band punk rock asal California ini lahir dari semangat perlawanan, sinisme terhadap kekuasaan, dan keberanian untuk menyebut sesuatu dengan nama aslinya. Karena itu, tidak mengherankan jika Green Day—yang digawangi Billie Joe Armstrong, Mike Dirnt, dan Tré Cool—tidak pernah, dan kemungkinan besar tidak akan pernah, menjadi bagian dari agenda politik MAGA (Make America Great Again).

Sejak kemunculan Donald Trump di panggung politik Amerika Serikat, relasi antara sang mantan presiden dan Green Day lebih menyerupai duel terbuka: penuh sindiran, kritik keras, dan pernyataan yang sengaja tidak dilunakkan.

Salah satu simbol paling kuat dari sikap ini adalah bagaimana Green Day memperlakukan lagu ikonik mereka, American Idiot. Lagu yang dirilis pada 2004 tersebut awalnya merupakan kritik tajam terhadap era George W. Bush, paranoia media, nasionalisme sempit pasca-9/11, serta Perang Irak. Lirik “I’m not a part of a redneck agenda” kala itu sudah cukup provokatif.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terutama di era kebangkitan kembali Trumpisme, lirik tersebut diubah secara eksplisit menjadi “I’m not part of the MAGA agenda.” Perubahan ini bukan sekadar gimmick panggung, melainkan pernyataan politik yang terang-benderang: Green Day ingin memastikan tidak ada ruang ambigu tentang posisi mereka.

Transformasi ini menunjukkan satu hal penting: bagi Green Day, musik bukan artefak nostalgia yang dibekukan oleh waktu. Lagu-lagu mereka hidup, beradaptasi, dan bereaksi terhadap realitas politik terkini. American Idiot tidak hanya menjadi dokumen kritik masa lalu, tetapi juga cermin bagi Amerika kontemporer yang terbelah, penuh kemarahan, dan terjebak dalam siklus populisme. Bahkan lagu lain seperti Jesus of Suburbia turut direvisi untuk menyindir figur-figur politik baru, termasuk Wakil Presiden JD Vance, mempertegas bahwa sasaran kritik Green Day terus bergerak mengikuti peta kekuasaan.

Konfrontasi terbuka ini sudah berlangsung sejak Trump memenangkan pemilu pada November 2016. Dalam ajang American Music Awards, Green Day memimpin chant “No Trump, no KKK, no fascist USA,” sebuah slogan yang segera menjadi viral dan memicu perdebatan luas. Bagi pendukung Trump, aksi ini dianggap tidak patriotik dan memecah belah. Namun bagi Green Day, justru itulah inti patriotisme versi mereka: keberanian untuk mengkritik ketika kekuasaan dianggap melenceng dari nilai-nilai demokrasi.

Sikap tersebut semakin mengeras ketika pemerintahan Trump mengeluarkan perintah eksekutif terkait imigrasi yang menargetkan negara-negara dengan populasi Muslim besar. Billie Joe Armstrong, melalui unggahan di Instagram, menulis dengan nada marah dan getir. Ia menggambarkan kebijakan itu sebagai tindakan balas dendam politik, bukan sekadar strategi keamanan nasional.

Menurut Armstrong, Trump tidak hanya menyerang para penentangnya, tetapi juga warga Amerika biasa yang tidak memilihnya. Ia menilai keputusan-keputusan sembrono terkait layanan kesehatan, imigrasi, perlindungan lingkungan, dan hak-hak perempuan sebagai upaya berbahaya untuk mendefinisikan ulang makna “persatuan” Amerika.

Dalam wawancara dengan NME, Armstrong bahkan melangkah lebih jauh dengan menyebut basis pendukung Trump sebagian besar berasal dari kalangan “kulit putih kelas pekerja yang tidak berpendidikan.”

Pernyataan ini menuai kontroversi, namun tidak muncul dari ruang hampa. Data exit poll dari beberapa pemilu terakhir menunjukkan bahwa pemilih kulit putih tanpa gelar sarjana memang menjadi tulang punggung dukungan Trump, dengan persentase sekitar 65–67 persen. Sebaliknya, pemilih kulit putih dengan gelar sarjana menunjukkan dukungan yang lebih terbelah, sementara pemilih dari komunitas kulit hitam dan Hispanik, meski minoritas, menunjukkan tren kenaikan dukungan terhadap Partai Republik pada pemilu terakhir.

Armstrong juga menyoroti bangkitnya nasionalisme kulit putih yang menurutnya telah lama tumbuh di bawah radar, sebelum akhirnya mendapatkan legitimasi politik di era Trump. Retorika “America First” dinilai telah membuka pintu bagi politik identitas yang menyalahkan minoritas atas masalah ekonomi dan sosial yang kompleks. Dalam konteks ini, kritik Green Day bukan cuma serangan personal terhadap Trump, melainkan kecaman terhadap sistem dan narasi yang memungkinkan figur seperti Trump mendapatkan dukungan luas.

Ketegangan ini mencapai babak baru pada 2025 dan 2026. Ketika Green Day diumumkan sebagai salah satu penampil dalam upacara pembukaan Super Bowl LX di Stadion Levi’s, Santa Clara, reaksi Trump kembali bernada sinis. Ia menyatakan tidak akan menghadiri acara tersebut dan menyebut para penampil sebagai “pilihan yang mengerikan” yang hanya “menabur kebencian.” Pernyataan ini justru mempertegas jurang ideologis antara dunia hiburan progresif dan populisme konservatif ala Trump.

Penampilan perdana Green Day di tahun 2026 menjadi panggung pernyataan politik yang lebih keras. Saat membawakan Holiday dan Know Your Enemy, Armstrong secara eksplisit menyebut lagu-lagu tersebut sebagai karya anti-fasisme dan anti-perang.

Ia juga merujuk pada penggerebekan ICE di Minneapolis yang berujung pada kematian Alex Pretto dan Renee Good, menjadikan konser sebagai ruang duka sekaligus perlawanan. Pesannya kepada agen ICE disampaikan tanpa basa-basi: sebuah kecaman terhadap sistem yang, menurutnya, telah kehilangan sisi kemanusiaan.

Jika dilihat dari data statistik, isu imigrasi memang menjadi salah satu medan utama pertarungan politik Amerika. Di bawah pemerintahan Trump periode pertama, penangkapan imigran oleh ICE meningkat signifikan—sekitar 30 persen pada 2017 dibanding tahun sebelumnya.

Survei Gallup juga menunjukkan bahwa hampir sepertiga warga Amerika menganggap imigrasi sebagai masalah paling penting, angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. Di sisi lain, basis dukungan Trump yang kuat di wilayah manufaktur dan Rust Belt mencerminkan kecemasan ekonomi kelas pekerja kulit putih yang merasa tertinggal oleh globalisasi. Penelitian Brookings Institution menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi antara kota besar dan daerah pedesaan terus melebar, memperdalam polarisasi politik.

Di titik inilah posisi Green Day menjadi jelas. Mereka tidak mengklaim sebagai analis statistik atau pembuat kebijakan, tetapi sebagai seniman yang menolak diam. Musik mereka berfungsi sebagai alarm—keras, mengganggu, dan sulit diabaikan. Bagi Green Day, menentang Trump bukan soal partisan semata, melainkan soal konsistensi terhadap nilai-nilai yang sejak awal mereka suarakan: anti-otoritarianisme, keberpihakan pada kelompok rentan, dan penolakan terhadap nasionalisme sempit yang meminggirkan kemanusiaan.

Dengan demikian, konflik antara Green Day dan Donald Trump adalah potret benturan dua visi Amerika: satu yang melihat kritik sebagai ancaman, dan satu lagi yang menganggap kritik sebagai bentuk cinta paling jujur terhadap demokrasi. Selama Amerika masih bergulat dengan pertanyaan tentang identitas, keadilan, dan arah masa depan, suara Green Day—lantang, sinis, dan tak kompromistis—tampaknya akan terus menggema.(*)

BACA JUGA: Bruce Springsteen Bongkar Teror ICE di Jalanan Amerika

Back to top button