Sampai Kapan Trump Bisa Terus Berbohong Kepada Pasar?

Di tengah gejolak perang Iran yang meletus sejak akhir Februari 2024, sebuah fenomena ganjil terjadi di lantai bursa Wall Street. Fenomena ini bukan tentang analisis data atau kebijakan suku bunga, melainkan tentang seberapa lama pasar bisa “dikibuli” oleh cuitan di media sosial Donald Trump.
JERNIH – Senin, 23 Maret 2026, pukul 06.49 waktu New York. Dalam jendela waktu hanya 60 detik, terjadi transaksi masif 6.200 kontrak berjangka minyak senilai $580 juta. Tidak ada rilis data ekonomi, tidak ada pidato Bank Sentral. Hanya sebuah taruhan raksasa bahwa harga minyak akan jatuh.
Tepat 15 menit kemudian, Presiden Donald Trump mencuit di Truth Social bahwa AS dan Iran telah melakukan “PERCAKAPAN YANG SANGAT BAIK DAN PRODUKTIF” untuk mengakhiri perang. Seketika, harga minyak anjlok 15% dan nilai pasar ekuitas global melonjak $1,7 triliun. Siapa pun yang melakukan transaksi 60 detik sebelum cuitan itu, meraup untung yang tidak masuk akal.
Pola ini telah berulang. Trump memicu eskalasi, pasar panik, lalu Trump memberikan sinyal deeskalasi palsu, pasar reli, dan para “orang dalam” meraup untung dari jeda waktu tersebut.
Untuk memahami apa yang telah dilakukan pemerintahan Trump terhadap pasar global sejak 28 Februari, ada baiknya memahami istilah perdagangan yang sekarang disebut Wall Street sebagai TACO alias Trump Always Chickens Out.
Mengutip Al Mayadeen, istilah ini muncul selama perang tarif tahun lalu, ketika Trump berulang kali mengumumkan langkah-langkah besar dan kemudian diam-diam menariknya kembali. Polanya, Trump meningkatkan eskalasi, pasar panik, Trump menurunkan eskalasi, pasar menguat, orang dalam mendapat keuntungan karena mengetahui urutan kejadian tersebut sebelumnya.
Dengan asumsi Selat Hormuz secara efektif tertutup, harga minyak terus naik semakin lama penutupan berlangsung. Kemudian Trump memberi sinyal “perdamaian,” yang memicu optimisme di kalangan pedagang bahwa Selat akan dibuka kembali, sehingga harga minyak turun.
Jeda waktu antara pernyataan Trump dan penolakan Iran yang tak terhindarkan, rata-rata, hanya beberapa jam. Jeda waktu itu bernilai miliaran dolar bagi siapa pun yang mengetahui pernyataan itu akan datang.
Pada 9 Maret, Trump menyebut perang “hampir selesai”, minyak turun 6% lalu keesokan harinya pada 10 Maret, Menteri Energi AS mengklaim kapal tanker berhasil dikawal melewati Selat Hormuz. Minyak anjlok 17%. Cuitan dihapus 20 menit kemudian setelah Gedung Putih mengaku itu “salah komunikasi”. Kemudian pada 23 Maret, Trump mengumumkan gencatan senjata 5 hari yang ternyata hanya sejajar dengan hari bursa kerja.
“Setiap minggu saat pasar buka, Trump membuat pernyataan seperti ini untuk menekan harga minyak,” ujar Profesor Seyed Mohammad Marandi dari Iran.
Ambruknya Kredibilitas Presiden
Per akhir Maret 2026, pasar mulai kebal. Strategi komunikasi ini mulai dianggap sebagai “suara bising” (white noise). Saat Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata AS pada 26 Maret, harga minyak Brent langsung melonjak 5,66% dan bursa saham S&P 500 mencatat hari terburuknya sejak perang dimulai.
Ini bukan sekadar permainan angka, tapi soal survival politik. Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, memperingatkan bahwa jika harga bensin tidak turun, Partai Republik bisa hancur di pemilu paruh waktu. Ini mengingat harga bensin retail naik dari $3,40 ke $4,22 per galon. Sementara desel naik 50% dalam setahun (kini $5,38) sedangkan Avtur naik hampir dua kali lipat sejak awal tahun.
Pakar energi Bob McNally menyebut ini sebagai paradoks: dengan menekan harga minyak secara artifisial lewat kata-kata, pemerintah justru menghilangkan tekanan pasar yang seharusnya memaksa Washington mencari solusi nyata untuk mengakhiri perang.
Yang paling mengkhawatirkan bukan harga minyak, melainkan pasar obligasi AS (Treasury). Biasanya, saat perang, investor lari ke obligasi AS sebagai aset aman (safe haven). Namun kali ini, investor justru menjualnya. Lihat saja yield 10 tahun melonjak dari 3,97% menjadi 4,44% hanya dalam sebulan. Sementara defisit 2026 diproyeksikan mencapai $1,9 triliun dengan utang nasional menyentuh $39 triliun.
Saat AS sibuk memanipulasi pesan pasar, Beijing tampak sangat tenang. Hanya 6% konsumsi energi China yang berisiko dari penutupan Selat Hormuz berkat diversifikasi pipa dari Rusia dan Turkmenistan.
Lebih jauh lagi, Iran dilaporkan mulai bernegosiasi untuk mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz dengan pembayaran menggunakan Yuan, bukan Dolar AS. Jika sistem Petrodollar retak, maka fondasi kekuatan finansial Amerika akan runtuh.






