PersonaVeritas

Thomas Djiwandono dan Misi GERAK Menuju Deputi Gubernur BI

Melalui program unggulan ‘GERAK’, Thomas berkomitmen mengawal stabilitas Rupiah sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi 8% lewat digitalisasi dan ekonomi hijau.

WWW.JERNIH.CO –  Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) resmi mengesahkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Penunjukan ini menjadi sorotan utama karena latar belakang Thomas yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, menandakan adanya transisi strategis dari ranah kebijakan fiskal menuju otoritas moneter.

Proses terpilihnya Thomas berlangsung cukup efisien; setelah diusulkan Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Juda Agung, ia berhasil melewati fit and proper test di Komisi XI dengan kesepakatan bulat.

DPR menilai Thomas memiliki kapasitas mumpuni untuk menyelaraskan gerak pemerintah dan bank sentral demi target pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam pemaparannya, Thomas memperkenalkan visi strategis bertajuk GERAK (Green Economy, Electronic Payment, Resilience, Acceleration, & Kolaborasi). Program ini dirancang sebagai peta jalan yang mengedepankan aspek keberlanjutan dan modernisasi melalui pilar Green Economy & Finance serta Electronic Payment & Digitalization.

Dalam visi ini, Thomas berkomitmen memperkuat instrumen kebijakan Bank Indonesia yang mendukung sektor ramah lingkungan guna menghadapi perubahan iklim, sekaligus memperluas digitalisasi sistem pembayaran seperti evolusi QRIS dan BI-FAST. Langkah ini bertujuan untuk memastikan transaksi keuangan nasional menjadi lebih cepat, murah, dan aman, dengan target jangkauan yang lebih inklusif hingga ke level UMKM di seluruh pelosok daerah.

Di sisi lain, program ini juga berfokus pada ketahanan nasional dan penguatan ekonomi melalui pilar Resilience & Stability, Acceleration of Growth, dan Kolaborasi. Thomas menekankan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan cadangan devisa di tengah ketidakpastian global, sembari mengakselerasi pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial yang mempermudah penyaluran kredit ke sektor prioritas penyerap tenaga kerja.

Seluruh upaya ini ditutup dengan penguatan kolaborasi dan koordinasi antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan KSSK, guna menciptakan sinergi kebijakan fiskal-moneter yang harmonis demi mencapai target ekonomi Indonesia Maju.

Melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif, ia berharap BI mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan stabilitas. Thomas menekankan pentingnya sinergi ini dengan menyatakan, “Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter bukan berarti mengorbankan independensi Bank Indonesia, melainkan harmoni untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga selagi ekonomi berlari kencang.”

Kehadiran Thomas di jajaran Dewan Gubernur memberikan warna baru. Meski di usia 53 tahun ia bukan tercatat sebagai Deputi Gubernur termuda dalam sejarah BI, latar belakangnya yang beragam—dari jurnalis hingga CEO—dianggap membawa perspektif segar.

Saat ini, Thomas bergabung dalam tim yang dipimpin oleh Gubernur Perry Warjiyo, bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, serta para Deputi Gubernur lainnya yaitu Doni Primanto Joewono, Aida S. Budiman, dan Filianingsih Hendarta. Secara kolektif, mereka memikul tanggung jawab besar dalam merumuskan kebijakan moneter dan menjaga sistem pembayaran yang aman dan efisien di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Tantangan yang menanti pun tidak ringan. Thomas dan jajaran Dewan Gubernur lainnya harus menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan dorongan kredit perbankan, terutama untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8%.

Selain itu, stabilitas Rupiah tetap menjadi prioritas utama di tengah fluktuasi pasar global. Fokus kepemimpinan ini akan berlanjut di bawah komando Perry Warjiyo, yang masa jabatannya dijadwalkan berakhir pada Mei 2028. Dengan integrasi program GERAK, publik kini menantikan bagaimana kolaborasi antara “orang lama” pemerintah ini dengan independensi Bank Indonesia dapat membawa stabilitas dan kemakmuran bagi Indonesia Maju.(*)

BACA JUGA: Thomas Djiwandono Menuju Bank Indonesia

Back to top button