Crispy

Di Polandia Revolusi Metal Lahirkan Gerakan Solidarnosc yang Sukses

Gerakan Solidaritas itu bermula dari perlakuan brutal aparat terhadap buruh yang memprotes kenaikan harga pangan yang mencekik keluarga mereka

JERNIH– Senin, 15 Desember 1970, 10 hari sebelum Natal. Pemerintah Polandia mendadak menaikkan harga pangan, yang menurut beberapa pengamat sejarah, pada akhirnya menandai berakhirnya rezim Komunis, setelah pendirian Solidarnosc sepuluh tahun kemudian.

Rezim Polandia saat itu berharap, kenaikan harga tidak menimbulkan gejolak besar, karena pada saat yang sama, pemerintah menurunkan harga mobil, penyedot debu, dan lemari es, kata Przemyslaw Ruchlewski, ahli sejarah di European Solidarity Center di kota Gdansk. “Tapi orang-orang berpikir, apakah kita sekarang harus membeli televisi agar dapat menonton program bodoh dengan perut kosong?” kenang Ruchlewski.

Aksi protes dimulai oleh para buruh metal di Galangan Kapal Lenin di Gdansk, lalu dengan cepat menyebar ke kota-kota lain. Awalnya, pihak berwenang tidak yakin bagaimana harus bereaksi, tetapi pemerintah lalu mengerahkan sekitar 9.000 polisi anti huru hara, satuan khusus-satuan khusus, dibantu 27.000 tentara, 550 tank dan helikopter.

“Tempat penahanan penuh,” kata Ruchlewski. “Polisi anti huru hara mmembabi buta memukuli pekerja, menyiksa mereka dengan mematikan rokok di tubuh mereka.”

“Kamis Hitam 17 Desember”

Zbyszek Godlewski sedang dalam perjalanan untuk bekerja di Galangan Kapal Gdynia pada 17 Desember – hari yang kemudian dikenal sebagai “Kamis Hitam”. Dia ketika itu ditembak mati. Para pengunjuk rasa membawa tubuhnya melalui jalan-jalan.

Menurut statistik resmi, setidaknya 45 orang tewas dan 1.000 lainnya terluka. Przemyslaw Ruchlewski mengatakan, korban termuda ketika itu berusia 15 tahun. Pihak berwenang berbohong tentang penyebab kematian, dengan mengatakan bahwa orang-orang telah bunuh diri atau meninggal dalam kecelakaan. Para korban dimakamkan diam-diam pada malam hari tanpa kehadiran keluarga mereka.

Bogdan Borusewicz, yang kemudian mendirikan gerakan serikat buruh independen Solidarnosc (Solidaritas), mengatakan bahwa pada hari itu dia kehilangan seorang teman sekolahnya. Saat itu dia sedang belajar di Lublin. Para siswa dikirim pulang karena ada kerusuhan. Malam hari diberlakukan jam malam. Banyak orang tua yang ketika itu mencari anak-anak mereka yang belum pulang. Suasananya sangat mencekam.

Pengacara Jan Juchniewicz saat berusia 25 tahun saat itu. Dia melihat para pekerja menuju galangan kapal dari jendela apartemennya. Dengan kameranya dia memotret gerakan protes para buruh, dan menyumbangkan arsipnya ke Pusat Solidaritas Eropa di Gdansk lima tahun lalu. Dia membuat ribuan foto yang diambil antara tahun 1970 dan 1989.

Dia ingat melihat polisi anti huru hara sedang menghalau sekelompok pria dengan menggunakan pentugan dan kemudian mengejar seorang anak laki-laki. “Tiba-tiba saya melihat mereka mengangkat senjata dan menembaknya. Saya tidak tahu apakah dia selamat.

Pada bulan Desember itu, kami tidak siap sama sekali, ”kata mantan pemimpin Solidarnosc, yang kemudian presiden Polandia, Lech Walesa. Dia juga seorang pekerja di galangan kapal di Gdansk dan ikut serta dalam aksi protes Desember 1970. ”Butuh 10 tahun untuk mempersiapkan perlawanan, “kami berjuang dengan baik,” katanya. Agustus 1980, Lech Walesa akhirnya mendapat izin resmi untuk mendirikan Serikat buruh Solidarnosc. Juni 1989 dilangsungkan pemilu bebas pertama di Polandia, yang dimenangkan oleh Solidarnosc. [Deutsche Welle]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close