Desportare

Dua Kawah Candradimuka Dunia Syahrial M Said

Kombes Syahrial M Said, kanan, pada sebuah momen kemenangan

Saat mengenyam pendidikan di kawah Candradimuka satu ini, pria Cancer itu sadar betapa nilai-nilai olahraga softball tertanam pula di kepolisian

JAKARTA– Sebuah sertifikat penting dari Indonesian Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) kini melengkapi koleksi atas kiprahnya di dunia olahraga. Apresiasi itu ditujukan untuk salah seorang official tim softball Indonesia, Kombes Syahrial M. Said, SH, S.IK.

Syahrial M. Said adalah bagian dari timnas softball Indonesia. Kombes yang kini analis utama Puslitbang Kepolisian RI itu memang pecinta sejati softball.

Tak banyak personel kepolisian yang menggeluti olahraga asal Amerika Serikat itu. Syahrial, begitu sapaan akrab pria kelahiran 47 tahun lalu tersebut, adalah salah satunya. Di sela-sela kesibukannya bekerja di Mabes Polri, Syahrial masih sempat mampir di lapangan softball Senayan, Jakarta. Termasuk menyiapkan Timnas Asian Games tahun silam.

Dunia kepolisian dan softball seolah tak terpisahkan. Yang pertama adalah profesi, sedang yang kedua sulit jika sekadar disebut hobi. Ketertarikannya pada olahraga dengan sembilan pemain itu sudah sangat lama. Lebih dari 30 tahun.

“Ini olahraga dengan strategi kuat dan mengutamakan fokus pada permainan,”kata pria yang menggeluti softball sejak 1988 itu. Karena olahraga tim, dalam softball saling dukung antarpemain jadi penting. Tak bisa soliter. “Pemain harus saling memberi semangat dan motivasi,”ujar Syahrial yang mengaku kerennya jersey (seragam) softball adalah salah satu pemicu awal ia memilih olahraga tersebut.

Di Jakarta, kala itu tercatat banyak nama klab tenar. Salah satunya Prambors yang boleh disebut kawah candradimuka lahirnya pemain nasional. Di situlah Syahrial remaja bergabung.

Prinsip berlatih di klab ini–yang sangat mengutamakan disiplin dan kebersamaan, ikut membentuk sosoknya sebagai remaja pencari jati diri. Latihan berat mulai olah fisik, mental, teknik softball seperti melempar pun menangkap bola, hingga memukul bola ia jalani tiap kali.

Syahrial ingat benar, bagaimana sang pelatih (almarhum Rudi) habis-habisan membentuk para anak asuh agar memenuhi kriteria atlet mumpuni. Kadang keras, sesekali lunak. Sekali menjadi calon atlet, pantang surut apalagi mundur. “Ia memotivasi supaya saya maju,”ujarnya, mengenang pelatih yang juga menjadi idolanya itu.

Hasilnya tak sia-sia. Buah kerja keras itu bisa dirasakan tiga tahun kemudian. Syahrial lolos masuk pemain Allstars pelajar tingkat DKI di antara ratusan atlet pelajar ibukota lainnya. “Bangganya luar biasa,” kata dia.

Bahkan ia ikut membawa tim DKI Jakarta merebut medali emas pada kejuaraan nasional softball di Bandung 1991. Momentum itu sekaligus memastikan DKI Jakarta menjadi tim softball terkuat di Tanah Air.

Selulus SMA, ia memutuskan untuk mendaftar di Akademi Kepolisian (Akpol). Salah satu impian yang kelak menjadi jalan hidup. Masuk tahun 1992 berbekal tempaan fisik dan mental saat di klab, Syahrial pun lolos sebagai kadet.

Sebagaimana pendidikan calon perwira kepolisian, kesamaptaan dijunjung tinggi. Sembari tentu saja tetap tak meninggalkan hobi yang telah berbuah prestasi, yaitu softball. Sebenarnya di akademi sempat ada unit kegiatan softball. Sayang, katanya, vakum pada 1992.

Tak mengurangi hasratnya, ia pun bergabung dengan tim mahasiswa Perbanas. Lagi-lagi, tim atlet mahasiswa ini menggondol medali emas di dua kejuaraan antarmahasiswa. Masing-masing di UGM Yogya dan Trisakti Jakarta.

Saat mengenyam pendidikan di kawah Candradimuka satu ini, pria Cancer itu sadar betapa nilai-nilai olahraga softball tertanam pula di kepolisian. Kedisiplinan, kekompakan tim, dan menjaga stamina di softball berlaku pula di kepolisian. “Nilai-nilai sosial dalam pergaulan atau pesan-pesan kamtibmas juga berlaku.”

Maka tidak susah baginya melanjutkan hari-hari di akademi. Bahkan lulus tepat waktu memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kepolisian pada tahun 1996.

Sang perwira muda kini mengabdi. Mempraktikkan ilmu dan teori yang dienyam di perkuliahan. Berpindah dari satu kota ke kota lain, pun menimba pengalaman dari satu fungsi ke fungsi lain di Kepolisian. Namun, kecintaannya pada softball tak terhapuskan. “Dasarnya sudah suka dan susah dilupakan,” ia mengaku.  

Ada rasa lain ketika bergabung dengan tim nasional. Apa itu? “Bangga membawa nama negara dengan meraih prestasi terbaik dan organisasi kepolisian,”ujar peraih gelar Sarjana Hukum itu, mencoba menjelaskan.  

Apalagi jika menang. “Ada kegembiraan di situ,” serunya. Kemenangan layak dikenang sepanjang masa. Dari situ biasanya lantas mengalir bonus sebagai ganjaran kerja keras.

Sebaliknya, kalau kalah, hati bisa seperti tergerus sembilu. Sedih luar biasa. Belum lagi jika ditambah cidera. Dan, situasi seperti di atas sudah pernah ia alami.

Itulah olahraga, ada kompetisi, ada pemenang, ada yang kurang beruntung. Tetapi keberuntungan lain justru selalu menggelayuti pria tegap ini. Bagaimana tidak, ketika menjadi atlet hingga kini official, di mana harus mengikuti berbagai kejuaraan, institusi kepolisian selalu mendukung.

“Alhamdulillah, selama ini didukung dengan dasar surat izin dari organisasi.”

Dengan kata lain, Polri memberikan ruang bagi personelnya untuk berprestasi di luar institusi. Selama positif dan membawa nama negara, mengapa tidak?

Ruang itu oleh Syahrial diisi betul lewat softball. Dalam seminggu dapat dipastikan ia berada di lapangan softball seusai bertugas. “Selain berolahraga juga menjaga silaturahmi,” katanya.

Softball tak ia tampik merupakan olahraga yang tak murah. Perlengkapannya lumayan menguras kocek. Belum lagi kalau harus mengikuti kejuaraan di luar negeri seperti Brunei, Malaysia hingga Jepang. Dijamin perlu ongkos lagi.

Sepengalaman Syahrial, selama klab yang mewadahi punya kepedulian besar, dana bukan lagi masalah. Perlengkapan biasanya disediakan oleh klab. Tak sedikit pula ada pihak sponsor yang andil menyokong secara materi.

Artinya softball melahirkan entitas tersendiri. Ada stakeholder. Jika sudah begini tinggal upaya pembinaan atlet digalakkan. Apalagi bila anggaran sudah memadai. Syahrial bilang, “Pembinaan harus berkesinambungan dan konsisten.”

Itulah sesungguhnya kunci kemajuan olahraga secara umum di Tanah Air. “Harus komitmen, selalu konsisten. Terus cari pengalaman bertanding baik di dalam maupun di luar negeri,”ujar Syahrial, menutup obrolan.

Dua kawah candradimuka membentuk Syahrial menjadi perwira dan atlet, agar tak sekadar menjadi manusia biasa. [  ]

Prestasi di Gudang Aktivitas Sang Kombes

1.       Kontingen DKI Kejurnas di Bandung Tahun 1991 meraih Medali Emas.

2.       Kejuaraan antar Mahasiswa membawa nama Perbanas UGM Cup tahun 1991 meraih Medali Emas.

3.       Kejuaraan antar Mahasiswa membawa nama Perbanas Trisakti Cup tahun 1991 meraih Medali Emas.

4.       Official Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2016 cabang olahraga Softball.

5.       Official Tim Nasional Softball Putra kejuaraan Asean di Kedah, Malaysia (Medali Emas) tahun 2016. (mendapat penghargaan dari Kapolda Banten Brigjen Pol Drs. Listyo Sigit M.Si).

6.       Kejuaraan Antar Klub se-Indonesia di Tangerang membawa klub Maladewa Banten meraih Mendali Emas.

7.       Kejuaraan Asia Master di Thailand meraih medali Perak pada tahun 2017.

8.       Official Asian Games cabang olahraga Softball tahun 2018 mendapat Penghargaan dari Kapolda Banten Brigjen Pol Drs. Teddy Minahasa M.Si.

9.       Kejuaraan Asia Master di Jepang meraih Medali Perunggu pada tahun 2018.

10.     Kejuaraan Asia Master di Brunei Darrusalam pada tahun 2019 meraih Medali Emas.

11.      Kejuaraan Pangdam Jaya pada tahun 2019, membawa Club Prambors meraih Medali Emas.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close