38 Views
Desportare

Ketika Marco van Basten Gagal Melihat Bakat Hakim Ziyech

Marco van Basten, legenda sepakbola Belanda, tidak melihat sesuatu yang istimewa pada diri seorang bocah pemain sepakbola jalanan ini. Kini, bocah bernama Hakim Ziyech itu menuju Liga Primer untuk menjadi bintang masa depan Chelsea.

Ajax Amsterdam melepasnya dengan harga 36 juta pound, atau Rp 643 miliar, musim panas mendatang. Fans Ajax marah, dan mengatakan harga Ziyech seharusnya 100 juta pound.

Tahan Banting

Ziyech lahir di Belanda dari keluarga keturunan Maroko. Ia anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya meninggal saat dia berusia sepuluh tahun.

Sang ibu bekerja sendirian dengan penghasilan pas-pasan untuk membesarkan seluruh anak-anaknya. Kepada anak-anaknya, sang ibu mengatakan hanya ada satu jalan keluar dari keadaan sulit; sepakbola.

Semua berlatih sepakbola, tapi hanya Ziyech yang berbakat dan serius. Ketika seluruh kakaknya menanggalkan mimpi menjadi pemain sepakbola, Ziyech tetap berlatih.

Ziyech kecil bermain di jalanan Dronten. Ia mencoba peruntungan masuk klub lokal; Reaal and ASV, dan lolos tes.

Tak lama di klub gurem, Ziyech bergabung dengan Heerenveen tahun 2017. Saat itu usia Ziyech 14 tahun.

Ziyech tampil mengesankan di Abe Lenstra Stadium, tapi Marco van Basten — pelatih Heerenveen saat itu — tidak melihat sesuatu yang istimewa pada diri Ziyech.

Heerenveen melepas Ziyech ke FC Twente, klub sekarat finansial yang tak mampu menggaji pemainnya, tahun 2014. Ziyech saat itu berusia 19 tahun, tapi pelatih memberinya ban kapten.

Sebagai kapten, Ziyech harus tampil di depan wartawan setiap pekan. Di lapangan, memimpin rekan-rekannya menyerang dan bertahan, serta mencetak gol.

Ia mengubah peruntungan klub. Dua tahun kemudian Twente mengakhiri krisis finansial, dengan menjual Ziyech ke Ajax Amsterdam. Ziyech menyelamatkan klub dari kebangkrutan.

Tidak diketahui berapa harga Ziyech saat itu. Yang pasti, hasil penjualan Ziyech membuat Twente membayar semua utang gaji, dan tagihan lainnya.

Di Ajax, Ziyech menghadapi keresahan penggemar yang tak melihat klub kesayangannya meraih gelar dalam lima tahun berturutan. Ziyech, menurut penulis Marcel van der Kraan, menemukan dirinya terperangkap dalam harapan fans dan manajemen Ajax.

“Ziyech melewati semua itu dengan baik,” kata Van der Kraan. “Ia pemain tahan banting. Itulah yang tidak dilihat Marco van Basten pada diri Ziyech.”

Pleintjes

Tidak mudah mendapatkan simpati fans Ajax. April 2018, Ajax dibantai PSV Eindhoven tiga gol tanpa balas, Ziyech menjadi sasaran kecaman fans.

Saat kembali ke Amsterdam, mobil klub beberapa kali diserang fans yang marah. Di dalam mobil, Ziyech tetap tabah dan menguatkan tekad.

Tahun berikutnya, fans Ajax terperangah melihat penamilannya. Ziyech mencetak 21 gol dan 24 assist. Di Eropa, Ajax dihentikan ketidak-beruntungan saat menghadapi Tottenham Hotspurs.

Di Liga Champions musim ini, Ziyech mencetak tiga gol untuk memaksa Chelsea bermain 4-4.

Pertanyaan apa yang diharapkan Chelsea dari Ziyech?

Statistik Eredivisie menunjukan Ziyech memberikan 421 peluang mencetak gol kepada rekan-rekannya di Ajax sejak bergabung dengan klub itu tahun 2016. Jumlah ini 134 lebih banyak dari pemain mana pun yang pernah berkarier di Eredivisie.

Sejak 2018, ia memberikan lebih banyak assist dibanding Lionel Messid, Kylian Mbappe dan Ryard Mahrez di Liga Champions.

Ziyech mencetak gol dengan kaki kiri, menipu lawan dengan kaki kanan. Serta, terlalu sering lolos dari kepungan lawan.

“Di Belanda, ada kandang atau kotak kecil yang disebut pleintjes, dan Ziyech adalah pemain sepakbola pleintjes,” kata Van der Kraan.

Ziyech, lanjut Van der Kraan, mampu mengatasi situasi apa pun meski ruang geraknya tingga 10 inci. Menurutnya, inilah yang mendorong pelatih Frank Lampard memboyong Ziyech ke London.

Saat laga Chelsea vs Ajax di Liga Champions, Lampard mengamati Ziyech secara seksama dari jarak lima meter. “Lampard mempelajarinya, dan terus mengamati gerakan Ziyech,” kata Van der Kraan.

Altruistik

Di Belanda, Ziyech adalah kapten timnas U-19, U-20, dan U-21. Tahun 2015 ia beralih kesediaan ke negeri nenek-moyangnya, dan membantu Maroko mencapai Piala Dunia 2018 di Rusia.

Namun, penggemar sepakbola Maroko belum menempatkan Ziyech sejajar dengan legenda masa lalu.

“Dia belum terlihat sebagai bintang pamungkas,” kata wartawan Maroko Jalal Bounouar. “Fans Maroko berharap Ziyech memimpin tim meraih gelar.”

Maroko kali terakhir meraih Piala Afrika tahun 1976. Bintang-bintang berikut; Mustapha Hadji dan Noureddine Naybet, gagal mengulanginya.

“Meski demikian Maroko bangga memiliki Ziyech, pemin yang dibesarkan Belanda tapi memilih membela tanah nenek moyangnya,” kata Bounouar.

Kesulitan hidup saat kecil sampai remaja membentuk Ziyech sebagai pribadi santun, rendah hati, dan altruistik. Ia memperlakukan semua orang sama, dan tidak membusung dada saat bermain dengan pemain klub lokal Maroko.

Di Belanda, Ziyech memberikan bantuan finansial kepada Leon de Kogel setelah karier pemain Belanda itu berakhir akibat tabrakan mobil saat berlibur.

“Ziyech bukan hanya pemain terbaik Eredivisie, tapi pemain dengan hati yang tulus,” kata De Kogel. “Aku tidak akan melupakannya seumur hidup.”

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close