Desportare

Rasisme Sepakbola: Pemain Mali Tinggalkan Lapangan

Porto — Moussa Marega, striker FC Porto asal Mali, meninggalkan lapangan sebagai protes atas perilaku rasis penonton Vitoria Gimaraes dalam pertandigan Liga Primeira Portugal.

Marega mencetak gol kemenangan Porto dalam pertandingan itu. Ia merayakannya dengan mengarahkan telunjuk ke kulitnya yang hitam kupada fans tuan rumah yang tak henti mengeluarkan suara monyet untuk melecehkannya.

Wasit mengeluarkan kartu kuning untuk Moussa Marega, yang membuatnya kecewa dan berjalan ke luar lapangan pada pertandingan Minggu 16 Februari 2020 itu.

Rekan-rekannya menahan, dan berusaha membujuknya untuk tetap barmain. Saat itu pertandingan baru berlangsung 72 menit.

Pelaih Sergio Conceicao menghampiri dan berusaha membujuknya. Marega tetap pada pendiriannya; keluar lapangan. Conceicao tak bisa melakukan apa pun selain memanggil pemain pengganti.

Usai pertandingan, Consceicao mengatakan kepada wartawan; “Kami benar-benar marah. Mereka menghina Marega sejar pemanasan.”

Menurut Conceicao, semua pemain — dengan warna kulit, warna rambut, kebangsaan, dan apa pun — adalah keluarga. “Mereka layak dihormati. Apa yang terjadi di sini santa keterlaluan,” lanjutnya.

Di akut Instagram-nya, Marega membalas penghinaan pengan menyebut fans Vitoria Guimaraes sebagai ‘idiot’. Dia juga mengecam panitia pertandingan.

“Saya berterima kasih kepada wasit yang tidak memberi dukungan kepada saya, dengan mengganjar saya kartu kuning,” tulis Marega. “Saya berharap tidak pernah melihat wasit seperti itu di lapangan sepakbola.”

Organisasi Liga Portugal mengecam perilaku fans Vitoria Guimaraes.

“Liga Portugal tidak akan pernah setuju dengan rasisme, xenophobia, dan intoleransi yang membahayakan martabat sepakbola dan manusia,” kata pernyataan resmi Organisasi Liga Portugal.

A Bola, surat kabar olahraga Portugal, memberitakan tidak ada remain Porto yang berbicara kepada media untuk menunjukan solidaritas kepada Marega. 

Vitoria Guimaraes mengatakan akan menyelidiki insiden ini, dan berjanji memerangi rasisme, intoleransi, dan kekerasan.

Rasisme

Rasisme ada di setiap liga di sekujur Eropa. Januari lalu, milsanya, Mario Balotelli menjadi sasaran rasisme pendukung Brescia saat Lazio bertandang.

Di Belanda, rasisme membuat pemain sepakbola mengancam akan meninggalkan lapangan jika fans menyerang pemain kulit hitam. 

Di Bulgaria, fans mengejek pemain kulit hitam asal Inggris dengan membuat gestur penghormatan ala Nazi, dan suara monyet, saat kualifikasi Euro 2020.

Panitia pertandingan bereaksi dengan menghentikan laga dua kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close