Oikos

Belum Ada Vaksin Pneumonia Tiongkok, Tapi Jangan Panik

Jakarta – Wabah Pneumonia yang merebak di Tiongkok harus menjadi kewaspadaan mengingat saat ini belum ada vaksin untuk penyakit ini. Pneumonia yang berkembang di Kota Wuhan ini disebabkan oleh coronavirus jenis baru.

Menyikapi hal ini, dr. Erlina Burhan, Sp.P specialis paru dari RS. Persahabatan, menyarankan beberapa hal, antara lain:

1. Masyarakat jangan panik.

2. Masyarakat tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke RS terdekat

3. Health Advice dengan melakukan kebersihan tangan rutin, terutama sebelum memegang mulut, hidung dan mata; serta setelah memegang instalasi publik. Kemudian mencuci tangan dengan air dan sabun cair serta bilas setidaknya 20 detik.

Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80 persenhandrub. “Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk. Ketika meiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke fasilitas layanan kesehatan,” tambahnya.

4. Travel advice, antara lain dengan Hindari menyentuh hewan atau burung. Hindari mengunjungi pasar basah, peternakan atau pasar hewan hidup. Hindari kontak dekat dengan pasien yang memiliki gejala infeksi saluran napas. Patuhi petunjuk keamanan makanan dan aturan kebersihan.

“Jika merasa kesehatan tidak nyaman ketika di daerah outbreak terutama demam atau batuk, gunakan masker dan cari layanan kesehatan. Setelah kembali dari daerah outbreak, konsultasi ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter riwayat perjalanan serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit,” paparnya.

Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Menurut DR Dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, pneumonia dapat menyerang siapa aja, seperti anak-anak, remaja dewasa muda dan lanjut usia, namun lebih banyak pada balita dan lanjut usia.

Pneumonia dibagi menjadi tiga yaitu community acquired pneumonia (CAP) atau pneumonia komunitas, hospital acquired pneumonia (HAP) dan ventilator associated pneumonia (VAP), dibedakan berdasarkan darimana sumber infeksi dari pneumonia.

“Pneumonia yang sering terjadi dan dapat bersifat serius bahkan kematian yaitu pneumonia komunitas. Angka kejadian pneumonia lebih sering terjadi di negara berkembang. Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya,” papar Agus di Jakarta, Jumat, (17/1/2020).

Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan yaitu sekitar 2 persen sedangkan tahun 2013 adalah 1,8 persen. Tahun 2010 di Indonesia pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit dengan crude fatality rate (CFR) atau angka kematian penyakit tertentu pada periode waktu tertentu dibagi jumlah kasus adalah 7,6 persen.

Menurut Profil Kesehatan Indonesia, pneumonia menyebabkan 15 persen kematian balita yaitu sekitar 922.000 balita tahun 2015. Dari tahun 2015- 2018 kasus pneumonia yang terkonfimasi pada anak-anak dibawah 5 tahun meningkat sekitar 500.000 per tahun, tercatat mencapai 505.331 pasien dengan 425 pasien meninggal.

Dinas Kesehatan Kota Wuhan, Senin, melaporkan hingga Minggu (19/1/2020) malam tercatat 198 kasus pneumonia berat, tiga di antaranya meninggal dunia, 44 dalam kondisi kritis, dan 25 lainnya telah dipulangkan dari rumah sakit. Wabah misterius tersebut pertama kali ditemukan pada 5 Januari 2019 yang menjangkiti beberapa orang di sekitar pasar ikan. [Zin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close