POTPOURRIVeritas

“Capernaum” : Kisah Pergulatan Anak-anak Tanpa Dosa di Lebanon

Dalam dua jam tayangannya kita menyaksikan kesengsaraan Zain Al Hajj, bocah berusia 12 tahun yang hidup dalam keluarga berantakan di Beirut

Oleh  : Yuliani Liputo

JERNIH– Penderitaan orang-orang tak berdosa, apalagi anak-anak, sungguh menyakitkan untuk disaksikan. Bagi Ivan, sang ateis yang sangat logis dalam novel “The Brothers Karamazov”, itu menjadi alasan untuk menggugat kerahiman Tuhan, karena membiarkan anak-anak yang “belum lagi menggigit apel kehidupan” mengalami kebrutalan, diabaikan, disiksa, diperbudak, diperkosa, dibunuh.

“Sungguh di luar jangkauan nalarku bahwa mereka harus menderita,” ujarnya pada Alyosha.

Bagi kita kebanyakan keadaan itu mungkin menjadi pengasah kelembutan hati, pengingat untuk selalu memihak mereka yang lemah dan tertindas. Karena kita tak bisa diam saja di hadapan penindasan, ketidakadilan, penderitaan. Ada peduli yang menjalar. “Yang tertusuk padamu, berdarah padaku,” kata Sutardji sang presiden penyair. Senada yang disuarakan William Blake dalam “Songs of Innocence and of Experience”:

“Tak mungkin bisa aku melihatmu sengsara,

Tanpa ikut merasa susah.

Tak mungkin bisa aku melihatmu berduka,

Tanpa ingin ikut melipur lara..”

Keinginan untuk menggugat itu menggema di sepanjang film “Capernaum”.  Capernaum adalah nama sebuah desa nelayan di tepi utara Danau Galilea. Dalam Perjanjian Baru, tempat ini dijuluki Kota Yesus karena di sini Yesus melakukan banyak mukjizat, menyembuhkan orang lumpuh, dan mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan. Kota itu hancur pada abad pertama, lalu dibangun kembali di atas puingnya yang lama. Nama kota itu dalam bahasa Arab dan Prancis sering digunakan dalam literatur untuk mengungkapkan keadaan kacau, berantakan, seperti neraka. Dalam pengertian inilah sang sutradara Nadine Labaki menggunakan kata tersebut untuk judul filmnya yang memenangi Jury Prize pada Festival Film Cannes 2018.

Dalam dua jam tayangannya kita menyaksikan kesengsaraan Zain Al Hajj, bocah berusia 12 tahun yang hidup dalam keluarga berantakan di Beirut. Dia punya tujuh adik yang lahir beruntun tapi tak terurus, dan masih satu lagi sedang dalam kandungan. Kemiskinan keluarganya memaksa Zain ikut bekerja mencari nafkah, ketika anak-anak sebayanya bersekolah. Dan Sahar, adik perempuannya, dipaksa kawin pada usia 11 begitu dia mendapatkan haid pertama, “dijual” orangtuanya maskawin dua ekor ayam.

Berbeda dengan anak-anak dalam novel Dostoyevski itu, yang menunggu harmoni universal membalikkan keadaan, Zain mengambil langkah drastis. Dia menuntut kedua orangtuanya ke pengadilan. Seluruh kisah film dibingkai dalam peristiwa di ruang sidang, di mana Zain hadir sebagai penuntut, kemudian kisah berjalan mundur ke saat sebelum Zain dipenjara.

Adegan pembukanya menyentak. Hakim bertanya atas perbuatan kriminal apa  tuntutan tersebut. “Karena mereka menghadirkanku ke dunia,” jawab Zain.

“Apa yang kau inginkan dari orangtuamu?” tanya Hakim lagi.

“Aku ingin mereka berhenti punya anak!”

“Aku ingin orang dewasa mendengarkan apa yang ingin kukatakan. Aku muak dengan mereka yang tak bisa mengurusi anak yang dilahirkannya. Sebaiknya mereka tidak usah punya anak. Apa yang kudapatkan selama ini: segala macam hardikan, hinaan, pukulan, tendangan. Dipukul dengan rantai, selang, atau sabuk. Kata-kata paling sering kudengar adalah: enyahlah kau, najis. Hidup ini kotoran anjing. Lebih busuk dari kotoran di bawah kakiku. Aku hidup dalam neraka. Dipanggang sampai gosong! Aku ingin menjadi orang baik, dihormati dan dicintai. Tapi Tuhan tidak menginginkan itu bagi kami. Dia ingin kami menjadi keset, untuk diinjak-injak.”

Tentu saja kita bisa memahami kemarahan Zain. Tapi yang ditunjukkannya bukan hanya kemarahan. Dia juga menunjukkan betapa anak-anak yang berada dalam keadaan terpuruk, bisa cepat mengambil peran orang dewasa. Mereka memiliki rasa bertanggung jawab dan sikap yang lebih matang daripada orang dewasa yang menghancurkan hidupnya.

Zain berusaha melindungi Sahar dari perkawinan dini, tapi tak berdaya. Tekanan dan siksaan dari orangtuanya memburuk, membuatnya lari meninggalkan rumah. Zain dalam pelariannya bertemu dengan Rahil, pekerja imigran asal Ethiopia yang mempunyai anak usia dua tahun, Yonas. Rahil ditahan polisi karena surat izin tinggal dan bekerjanya di Lebanon kadaluarwa, meninggalkan Yonas dalam penjagaan Zain, tanpa pesan. Zain mengambil alih tanggung jawab mengurusi Yonas, memberi makan dan mengurusi bayi itu. Rasa tanggung jawabnya, membuatnya tak tega meninggalkan bayi itu begitu saja. 

Yang kita lihat dalam “Capernaum” adalah pergulatan seorang anak tak berdosa, menghadapi pengabaian, kemiskinan, sikap tak bertanggung jawab orang-orang dewasa di sekitarnya. Terlalu banyak kepedihan yang sama terjadi di dunia nyata. Anak-anak di tengah negara yang berperang, di kamp pengungsian, anak-anak jalanan dan di kampung kumuh dalam tekanan kemiskinan. Anak-anak yang tak diberi hak-hak dasar, dipaksa bekerja, tak tersentuh kasih sayang bahkan sejak mereka lahir.

Dua jam berlalu, kisah Zain berakhir di layar, derita yang sama terus berlanjut di dunia nyata. Namun, dalam film ini, dengan berfokus pada anak, sang sutradara setidaknya ingin menunjukkan harapan. Pemeran Zain adalah seorang anak pengungsi dari Suriah. Kisah hidupnya hampir mirip dengan cerita dalam film. Pada akhirnya, dan dalam kehidupan nyata, Zain menemukan jalan kehidupan yang lebih baik. Seburuk apa pun, seperti tulis Dostoyevsky, “Anak-anak bisa dicintai… bahkan ketika mereka kumal, bahkan ketika mereka kumuh.” Cinta menyelamatkan anak-anak itu. [dsy]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close